alexametrics

Terdakwa Adalah Sosok Berbahaya (?)

Oleh REZA INDRAGIRI AMRIEL *)
29 Mei 2021, 19:48:41 WIB

SETELAH adu gelut antara jaksa penuntut hukum dengan penasihat hukum, vonis dan sanksi yang dijatuhkan hakim pada akhirnya dipandang sebagai cerminan objektif tentang tingkat keseriusan perbuatan pidana terdakwa. Juga, hukuman yang diputuskan hakim tidak sebatas sebagai penyikapan terhadap diri terdakwa. Melainkan juga dimaksudkan memunculkan efek gentar bagi masyarakat agar tidak melakukan perbuatan serupa.

Lantas, bagaimana jika bobot hukuman yang diberikan hakim ternyata berbeda dengan hukuman yang diajukan jaksa? Misal: ”tanpa penjara dan denda Rp 20 juta” berbanding ”penjara 10 bulan dan denda Rp 50 juta”. Perbedaan tersebut dapat ditafsirkan sebagai perbedaan antara hakim dan jaksa dalam menilai mens rea (pikiran) terdakwa.

Jaksa secara umum tentu ingin meyakinkan hakim (dan dunia) bahwa terdakwa memiliki mens rea level satu (purposeful). Terdakwa dengan mens rea level satu merupakan potret penjahat terburuk dengan kelakuan jahat yang sempurna dan terencana. Hanya dengan berhasil mengunci persepsi hakim bahwa terdakwa adalah pelaku kejahatan dengan mens rea level satu, bisa diperkirakan bahwa hakim akan mengganjar terdakwa dengan hukuman seberat-beratnya, sebagaimana –atau bahkan melampaui– ekspektasi jaksa.

Dalam perkara Rizieq Syihab, ia tidak dikenai hukuman seberat yang dituntut jaksa. Karena mens rea Rizieq Syihab tidak berada di level satu, lantas pada level berapakah mens rea-nya berada?

Dalam kasus Rizieq Syihab, intent perlu dibedakan dengan motive. Pembedaan ini bertitik tolak dari konstruksi dakwaan yang dibangun atas diri Rizieq Syihab. Secara ringkas, Rizieq Syihab dikatakan menyelenggarakan aktivitas yang mendatangkan kerumunan dan menciptakan kedaruratan kesehatan. Karena Rizieq Syihab mengundang khalayak untuk datang, sampai kemudian terjadilah kerumunan di lokasi acara, bisa disebut bahwa Rizieq Syihab memang memiliki intent untuk mengadakan kerumunan itu.

Tapi, kerumunan tersebut oleh Rizieq Syihab tidak ditujukan, apalagi secara terencana, untuk menciptakan kedaruratan kesehatan. Betapa pun –anggaplah– situasi darurat kesehatan itu benar-benar terjadi pasca berlangsungnya kerumunan, kedaruratan itu bukan sesuatu yang ingin diciptakan Rizieq Syihab lewat kerumunan yang dia selenggarakan. Dengan kata lain, Rizieq Syihab tidak mempunyai motive menciptakan situasi darurat kesehatan dari kerumunan yang ia adakan. Intent ada, sedangkan motive tidak ada.

Arkian, andaikan Rizieq Syihab dalam kesehariannya tahu bahwa menyelenggarakan kerumunan pada dasarnya merupakan perilaku berisiko, yakni dapat mengakibatkan kedaruratan kesehatan (misal: persebaran virus berskala besar), namun ia tetap menyelenggarakan kerumunan tanpa motive menciptakan situasi darurat, perbuatan Rizieq Syihab tersebut tergolong sebagai recklessness.

Lain lagi apabila Rizieq Syihab tidak ber-motive menciptakan situasi darurat kesehatan. Juga tidak tahu bahwa penyelenggaraan kerumunan merupakan perilaku berisiko. Maka, ketika kemudian terjadi situasi darurat kesehatan, Rizieq Syihab dapat disalahkan atas perbuatannya itu, namun dengan mens rea pada level terendah: negligence.

Bahwa akhirnya hakim tidak memenuhi permintaan jaksa, apalagi menjatuhkan hukuman lebih berat daripada tuntutan jaksa, melainkan memberikan hukuman jauh lebih ringan, itu bermakna bahwa hakim melihat mens rea Rizieq Syihab berada jauh di bawah purposeful. Boleh jadi recklessness, mungkin pula negligence.

Dengan kata lain, terdakwa memang bersalah, tapi dia di mata hakim tidaklah sungguh-sungguh memiliki maksud untuk membawa pandemi ke situasi gawat darurat. Dengan kata lain pula, jaksa tidak berhasil meyakinkan hakim bahwa terdakwa tidak sebatas memiliki intent, tapi juga mempunyai motive. Persepsi jaksa bahwa terdakwa merupakan pelaku pidana ber-mens rea level satu ternyata tidak diadopsi oleh majelis hakim sebagai persepsi mereka pula.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads