alexametrics

Problem Prevalensi Perokok, Tantangan Inovasi, dan Akses Informasi

Oleh Fathudin Kalimas
29 April 2022, 09:01:01 WIB

PERKEMBANGAN teknologi dalam dunia industri adalah keniscayaan. Teknologi bahkan menjadi prasyarat bagi industri untuk menjaga relevansinya, sembari terus mengupayakan hadirnya produk-produk yang lebih baik bagi konsumen, utamanya dari segi kesehatan.

Sebagai salah satu bentuk inovasi tersebut, saat ini sejumlah industri telah menghasilkan produk-produk baru yang menerapkan paradigma pengurangan bahaya. Inovasi industri ini seyogyanya diiringi dengan kesadaran pola hidup sehat di tengah masyarakat untuk memperoleh manfaat yang optimal.

Namun, membangun kesadaran tersebut memang bukanlah hal yang mudah karena kerap dihadapkan pada tantangan realitas sosio-budaya dan tingkat kesadaran masyarakat. Realitas tersebut menunjukkan perlunya upaya berkesinambungan untuk menerapkan berbagai alternatif strategi, baik melalui kampanye maupun ikhtiar untuk menghadirkan produk-produk inovatif dengan risiko yang jauh lebih rendah, baik bagi kesehatan maupun lingkungan.

Di Indonesia, salah satu industri yang mulai bergeliat menerapkan paradigma pengurangan bahaya dari produknya adalah industri hasil tembakau (IHT). Industri ini mulai menghadirkan inovasi produk berbasis paradigma pengurangan bahaya tembakau (tobacco harm reduction). Sejumlah pelaku industri telah merilis diversifikasi produknya dalam berbagai jenis produk tembakau alternatif. Jenisnya beragam, mulai dari rokok elektrik atau vape, produk tembakau yang dipanaskan, hingga kantong nikotin.

Pada masyarakat internasional, paradigma pengurangan bahaya tembakau sedang diarusutamakan sebagai strategi komplementer dalam upaya menurunkan prevalensi merokok. Di beberapa negara, perokok didorong untuk beralih ke produk tembakau yang lebih rendah risikonya guna menurunkan prevalensi merokok.

Diketahui, upaya menurunkan prevalensi merokok masih menjadi tantangan sejumlah negara, tak terkecuali Indonesia. Sebagaimana tertuang dalam RPJMN 2020-2024, Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan prevalensi merokok di kalangan anak di bawah umur (10-18 tahun) menjadi 8,7 persen pada 2024. Paradigma pengurangan bahaya tembakau diyakini dapat melengkapi paradigma pengendalian tembakau yang telah mendominasi pendekatan kebijakan publik terhadap isu tembakau selama ini.

Kendati keberadaannya dianggap selalu berurusan dengan urusan kesehatan publik, namun IHT mempunyai multiplier effect yang sangat luas. Mulai dari penyediaan lapangan usaha dari hulu ke hilir, penyerapan tenaga kerja, pemanfaatan bahan baku dalam negeri hingga berkontribusi terhadap pendapatan negara. Tahun 2021 misalnya, dilaporkan Kementerian Keuangan, penerimaan cukai dari IHT mencapai Rp195,5 triliun atau tumbuh 10,9%. Realisasi ini setara 108,6% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yakni Rp180 triliun.

Paradigma pengurangan bahaya tembakau dan produk tembakau alternatif memiliki potensinya tersendiri untuk berkontribusi terhadap permasalahan rokok di Indonesia. Di satu sisi, keduanya dapat memberikan alternatif jawaban untuk kepentingan kesehatan publik. Sedangkan di sisi lain, produk tembakau alternatif memberikan peluang ekonomi yang potensial.

Sayangnya, kendati produk-produk tersebut sudah beredar di pasaran, namun belum banyak riset kolaboratif dan otoritatif yang menyorotinya. Akibatnya, masih terjadi kesimpangsiuran informasi terkait produk tersebut. Padahal, akses informasi terhadap produk tembakau alternatif tersebut menjadi bagian penting dari upaya pemanfaatan paradigma pengurangan bahaya tembakau.

Inisiasi Riset Multipihak

Di antara langkah strategis yang perlu dilakukan untuk menyajikan informasi akurat dan komprehensif tentang produk tembakau alternatif adalah langkah masif dan intensif untuk terus menyajikan fakta-fakta ilmiah tentang penerapan pengurangan bahaya tembakau. Hal ini penting karena pemenuhan hak atas kesehatan bagi masyarakat harus bermula dari membangun kesadaran atas hak mereka terhadap informasi, khususnya terhadap produk-produk yang mereka konsumsi namun memiliki risiko terhadap kesehatan.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui riset-riset yang lebih objektif dan mendudukkan kepentingan lintas sektor, yakni antara kepentingan pemerintah, pelaku usaha, termasuk kepentingan masyarakat sebagai perhatian utama.

Sinergitas peran antar pemangku kepentingan sangat dibutuhkan dan dapat menjadi salah satu solusi bagi negara di tengah keterbatasan kapasitas negara untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat. Pelibatan multipihak atau penta-helix di mana unsur pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, dan media diperlukan untuk mendorong upaya menurunkan prevalensi merokok.

Kapasitas semua elemen dibutuhkan untuk saling melengkapi demi menyelesaikan peliknya persoalan tersebut. Jika selama ini riset-riset yang dilakukan masih menitikberatkan pada dominasi peran pemerintah, maka sudah saatnya ruang bagi swasta untuk terlibat dalam riset-riset juga diberikan secara proporsional.

Pelibatan segenap entitas riset dalam riset kolaboratif tentang produk inovatif yang lebih rendah risiko akan menyajikan fakta-fakta ilmiah yang lebih komprehensif, sehingga masyarakat pun dapat mengakses informasi yang lebih utuh dan objektif tentang pilihan serta risiko produk-produk yang dikonsumsinya. Pada konteks inilah kehadiran produk-produk tembakau alternatif yang sudah beredar di pasaran penting untuk mendapat perhatian.

Riset ilmiah kolaboratif terhadap produk ini dapat menghindarkan masyarakat dari risiko dualisme data dan informasi yang justru membingungkan. Benarkah profil risiko pada produk-produk tersebut lebih rendah? Semua akan terjawab secara objektif jika riset-riset kolaboratif ini dapat dilakukan. (*)

*) Fathudin Kalimas, Direktur Kajian dan Riset Pusat Studi Konstitusi dan Legislasi Nasional (Poskolegnas) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads