alexametrics

Mudik, Jati Diri, dan Peduli

Oleh: AHMAD SAHIDAH *)
29 April 2022, 19:48:40 WIB

BERITA tentang mudik kembali menghiasi media cetak dan elektronik. Seperti biasa, bukan hanya warga Indonesia yang ada di dalam negeri, ratusan ribu orang yang tinggal di luar negeri juga akan menyemuti jalanan, baik darat, laut, maupun udara. Ini adalah sebuah pertanda bahwa mereka ingin mengenang kembali asal usul, meneguhkan identitas, dan berhenti sejenak dari rutinitas pekerjaan. Mereka tidak menganggap ongkos mahal itu sebagai penghalang, justru nilai mudik dilihat jauh lebih tinggi dan murni.

Setiap pemudik tentu menghadapi tantangan tersendiri. Namun, bagi buruh migran yang tidak mengantongi dokumen resmi, pulang ke kampung halaman adalah perjuangan yang berat. Tidak hanya pahlawan devisa ini melanggar peraturan yang mudah saja menghadapi penangkapan. Mereka juga terdedah pada kemungkinan kecelakaan di tengah lautan. Di sini pemerintah Indonesia dan seluruh perwakilan di luar negeri wajib memastikan warganya untuk tidak menempuh risiko berbahaya itu.

Namun, seluruh warga negara semestinya tetap mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus Covid-19. Seperti tetap mengenakan masker. Apalagi, varian baru lebih mudah menyebar. Selain itu, tujuan puasa agar kamu sehat, sebagaimana sabda Nabi, merupakan seruan terhadap pentingnya kesehatan bagi umat. Tanpa kepedulian pada kesejahteraan tubuh, kegembiraan apa pun, termasuk menyambut Lebaran, bisa jadi tidak bermakna. Maka, menunda adalah cara lain untuk menangguk kenikmatan yang jauh lebih tinggi bila memaksakan diri untuk mudik justru yang akan mengalahkan pertimbangan menjaga kesehatan.

Semantik

Menurut Ferdinand de Saussure, ahli bahasa Swiss, hubungan penanda (bunyi) dan petanda (konsep) lahir dari sebuah kesepakatan (convention). Mudik sebagai penanda adalah berupa huruf yang mengandaikan konsep tertentu, yaitu kepulangan orang dari rantau ke tanah kelahiran. Menjelang Idul Fitri, peristiwa ini betul-betul massal. Ada jutaan orang dengan pelbagai moda angkutan memenuhi jalan, air, dan udara. Secara konseptual, ia merujuk pada sistem kekerabatan dalam budaya kita di mana hubungan persaudaraan mesti dirawat. Mudik adalah salah satu cara untuk mengekalkan tradisi turun-temurun.

Tentu, makna mudik juga berkait dengan medan semantik lain, seperti silaturahmi, ketupat, obor, dan halalbihalal. Hubungan persaudaraan sejatinya tidak terpisah karena ruang dan waktu. Mengingat mobilitas warga makin tinggi dan faktor perkawinan, hubungan saudara tidak lagi seperti dulu, diikat dalam satu tempat yang berdekatan. Namun, berkat teknologi informasi, tegur sapa bisa dilakukan secara audiovisual. Betapapun tidak dekat secara fisik, secara psikologis relasi itu masih utuh.

Sementara ketupat bisa dilihat sebagai penanda lokal untuk menunjukkan bahwa perayaan itu lahir dari kreativitas setempat. Tanpa mengabaikan kode unta dan suasana padang pasir, makanan ini telah menjadi ikon betapa pertemuan nilai asal dan lokal mendapat tempat. Tak pelak, penghayatan keagamaan ini berkelindan dengan barang yang bisa diperoleh dari tanah tempat warga hidup. Pendek kata, jati diri otentik bisa dipupuk melalui sesuatu yang dihasilkan oleh tangan sendiri.

Kiasan

Sejatinya mudik itu tak melulu terkait fisik, tetapi juga batin. Karena kepulangan fisik tak bisa ditunaikan, maka kembali ke asal sesungguhnya mengandaikan makna metaforis. Setelah sekian lama orang merantau, ia tentu akan merindukan asal muasal. Tentu tempat kelahiran bukan hanya tempat seseorang lahir, tetapi juga tumbuh besar dan membentuk dirinya sebagai manusia multidimensi, yakni pengamal nilai agama dan adat istiadat. Tak hanya itu, mudik adalah jeda agar perantau menyegarkan kembali kemurnian identitas.

Untuk itu, puasa yang dilakukan sebelum mudik semestinya bergeser pada makna epistemologis sebagai kemampuan menahan diri dari hawa nafsu biologis dan hedonis. Tentu saja, kita bisa dengan mudah mengidentifikasi yang pertama, namun memeriksa yang terakhir, perilaku hedonisme, merupakan tantangan karena pemuasan hawa nafsu terhadap materi acap kali dikaburkan dengan perayaan hari raya. Pasar raya bersolek sedemikian rupa, seperti pemindahan suasana Timur Tengah di lantai bawah: bangunan masjid, unta, dan padang pasir. Menjelang Lebaran, masjid dan surau makin sunyi, sementara pusat perbelanjaan makin berseri. Ironis!

Padahal, selain pada akhir Ramadan malam seribu bulan mungkin turun, di sepuluh terakhir inilah, kita diselamatkan dari api neraka. Malangnya, alih-alih terelakkan, kita memasuki neraka lain, hedonisme. Betapapun kita dianjurkan untuk mengakhiri puasa dengan Idul Fitri seraya menggunakan baju baru, secara hakikat pesan moralnya bukan pada kebaruan pakaian, melainkan penghormatan pada hari suci. Justru, akhir puasa wajib disempurnakan dengan pembagian zakat fitrah sebagai penyucian diri, bukan bersolek agar diri tampak molek.

Kalau puasa berakhir dengan mudik yang hiruk pikuk dan gebyar kemewahan, mungkin sudah saatnya kita menjadikan mudik sebagai wujud dari makna batin. Untuk itu, ongkos mudik disedekahkan kepada fakir miskin. Bukankah itu tantangan menahan diri yang tidak pernah dilakukan secara bersama-sama? Kehidupan yang hanya bertumpu pada diri akan menutup kebahagiaan karena ada unsur yang tidak dipenuhi dalam teori kebahagiaan Seligman, yaitu kebermaknaan dengan membantu orang lain. Lagi pula, secara filosofis, diri ini hadir bersama orang lain (mitsein) sehingga pemudik bisa memenuhi syarat diterimanya puasa, yaitu iman yang wujudnya adalah kepedulian pada liyan.

Berdasar kesadaran teologis dan praksis di atas, apabila ongkos mudik ditaksir per keluarga Rp 1 juta, setidaknya Rp 15 triliun akan didapat sebagai derma sosial. Angka itu didapatkan berdasar jumlah pemudik dari Jabodetabek saja. Justru dengan tidak mudik secara fisik, pemuasa telah berhasil memenuhi makna inti dari puasa, menahan diri (imsak) dan berhasil mewujudkan iman dengan menyelamatkan orang lain yang terdampak Covid-19. Namun, nilai mudik tak melulu soal angka-angka, tetapi kerinduan pada ketenangan dan ketenteraman masa lalu juga tak bernilai. Bila 85 juta pemudik mengeluarkan zakat fitrah, setidaknya Rp 4 triliun lebih telah dikeluarkan untuk kepedulian kepada sesama. Di sini sejatinya makna pulang. (*)


*) AHMAD SAHIDAH, Kepala Staf Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads