alexametrics

Nuzulul Quran dan Spirit Intelektualisme

Oleh M. ZAINUDDIN *)
29 April 2021, 19:48:17 WIB

RAMADAN telah memasuki hari ke-17. Hari ketika umat Islam memperingati diturunkannya kitab suci Alquran atau Nuzulul Quran. Mengingatkan kembali bahwa intelektual muslim memiliki potensi membaca kitab sucinya dengan menangkap isyarat atau makna yang terkandung di dalamnya.

Secara implisit, nabi mengingatkan kepada orang Islam untuk membaca secara benar, baik secara lisan maupun intelektual. Sebagaimana yang beliau sampaikan: ”Banyak orang membaca Alquran, tetapi justru Alquran melaknatinya”. Kenapa? Karena mereka tidak menjadikan Alquran sebagai pegangan hidup dan akhlaknya.

Logikanya, orang yang terdidik (intelektual) amat potensial untuk mendekatkan diri (takwa) kepada Allah. Sebab, ia berpotensi mampu membaca dan mengkaji maknanya. Inilah manusia yang disebut dalam Alquran sebagai ulul-ilmi, ahl al-zikri dan ulul albab.

Alquran adalah petunjuk bagi manusia, baik yang menyangkut informasi ilmiah maupun yang terkait dengan norma-norma hukum dan akhlak. Terkait dengan informasi ilmiah, tidak sedikit para akademisi, baik akademisi Timur maupun Barat, yang mengakui kemukjizatan Alquran. Tidak sedikit pula kalangan mereka yang kemudian menjadi muslim. Bahkan, yang tidak muslim pun bisa mendapatkan informasi ilmiah dari Alquran sebagaimana yang dialami para orientalis.

Jika para orientalis yang tidak percaya pada Alquran mau mempelajari secara serius untuk memperoleh informasi ilmiah, mengapa yang muslim tidak? Mengapa selama ini orang-orang Islam mengetahui informasi ilmiah justru lewat orang Barat yang sekuler?

Contoh, orang Islam tahu bahwa matahari berputar pada porosnya, bahwa asal muasal alam ini ”air”, adalah dari ilmuwan Barat atau Thales, seorang filsuf Yunani. Bukan dari Alquran yang dibacanya setiap hari. Misalnya, dalam surah Yasin dan Al Anbiya Allah berfirman: ”Dan matahari berputar pada porosnya. Itulah ketetapan (takdir) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (QS Yasin: 38). ”Dan telah Kami jadikan segala sesuatu yang hidup ini berasal dari air” (QS Al Anbiya: 30).

Alquran dan Sains

Seorang filsuf Prancis, Al-Kiss Luazon, menegaskan bahwa Alquran adalah kitab suci. Tidak ada satu pun masalah ilmiah yang terkuak di zaman modern ini yang bertentangan dengan dasar-dasar Islam.

Dr Rene Ginon, setelah masuk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Wahid Yahya, juga bercerita tentang pengalamannya mempelajari Alquran. Dia menemukan ayat-ayat yang relevan dan kompatibel dengan ilmu pengetahuan modern. ”Seandainya para pakar dan ilmuwan dunia itu mau mengkaji ayat-ayat Alquran secara serius yang terkait dengan apa yang mereka pelajari, seperti yang saya lakukan, niscaya mereka akan menjadi muslim tanpa ragu –jika memang mereka berpikir objektif– katanya” (Abdul Muta’al, 1980: 8).

Karena itu, orang terpelajar (intelektual muslim) memiliki potensi besar dalam mendekatkan diri kepada Allah (takwa) karena mereka banyak mengetahui informasi ilmiah melalui jagat raya ini. Semakin seseorang banyak mengetahui rahasia alam ciptaan Allah, semakin sadar akan kebesaran-Nya. Sebaliknya, jika seseorang tidak banyak tahu tentang rahasia alam ciptaan-Nya, ia melihat kehidupan ini biasa-biasa saja, tidak ada kekaguman, bahkan yang terjadi malah memitoskan alam tersebut.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads