alexametrics

Mimpi Ciputra yang Belum Terwujud

Oleh FREDDY H. ISTANTO *)
28 November 2019, 18:32:34 WIB

PADA subuh, 27 November 2019, sosok besar itu berpulang. Legenda realestat Indonesia tersebut telah meninggalkan kita semua dengan semua legacy-nya yang anggun. Ciputra tidak hanya dikenal sebagai raja properti di tanah air, tetapi peran dan sepak terjangnya di bidang properti bahkan diakui dunia. Ciputra pernah menjadi orang pertama Indonesia sebagai presiden federasi realestat dunia, FIABCI. Tentu organisasi dunia yang berpusat di Prancis itu tidak sembarangan memilih tokoh sebagai pemimpinnya. Begawan Indonesia di bidang realestat ini sudah mengabdikan seluruh hidupnya untuk Indonesia.

Ciputra berkarya tidak hanya melayani Indonesia, tetapi sudah menjadi bagian karya-karya besar tujuh presiden Indonesia. Berawal dari pemerintahan Presiden Pertama Bung Karno, Ciputra punya peran signifikan sampai ke pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kebesaran sosok Ciputra ditunjukkan saat merealisasikan cintanya pada negara ini. Beliau sangat menghargai bagaimana Indonesia sudah memberi segalanya pada perjalanan hidupnya. Saatnya Ciputra berbagi ilmu untuk bangsanya. Pada 2006 Ciputra mendirikan universitas dengan basis pendidikan, yaitu entrepreneurship. Kurikulum Universitas Ciputra dirancang dengan pembentukan mindset entrepreneurship bagi semua mahasiswanya.

Melalui universitas tersebut, beliau bercita-cita lahir generasi-generasi muda yang akan membangun Indonesia dengan pola pikir dan semangat entrepreneurship. Entrepreneurship tidak boleh berhenti pada konsep berbisnis. Entrepreneurship adalah sebuah pola pikir. PNS atau aparatur sipil negara (ASN) yang punya pola pikir entrepreneurship melahirkan sosok-sosok seperti Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Lalu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Konsep entrepreneurship Ciputra tidak berhenti di pendidikan formal, tetapi juga mengembangkan sayapnya melatih ratusan buruh migran Indonesia di Hongkong dan beberapa negara lainnya. Para buruh migran tersebut memiliki etos kerja dan semangat luar biasa. Mereka perlu dibekali pola pikir entrepreneurship. Mereka diharapkan pulang kembali ke Indonesia untuk membangun desanya dengan mindset tersebut.

Banyak pelatihan entrepreneurship yang juga dibagikan untuk para pelaku usaha kecil menengah (UKM). Tujuannya, mereka naik kelas dan tidak hanya bermain di wilayah lokal. Tetapi, bisnis mereka harus berani menantang dunia. Puluhan organisasi dilatih dengan semangat ini, termasuk para guru, seniman, dan jamaah pengajian anggota Fatayat NU sebagai sebuah contoh.

Ciputra melanjutkan semangatnya ini bahkan dengan pendidikan entrepreneurship yang dimulai sejak dini. Yaitu, mulai sekolah taman kanak-kanak (TK). Semangat luhur Ciputra ini kemudian dilanjutkan dengan pembangunan sarana dan prasarana fisik di beberapa kota di Indonesia. Inovasi Ciputra di bidang pendidikan yang berbasis entrepreneurship ini menggaungkan semangat itu ke mana-mana dan di mana-mana. Merebaklah semangat itu yang kemudian memunculkan idiom-idiom entrepreneurship seperti istilah creative-preneur, santripreneur, dan masih banyak ’’preneur-preneur’’ yang berbiak.

Tentu pendidikan ini membutuhkan proses panjang untuk mencapai hasil optimal. Semoga menteri pendidikan dan kebudayaan yang baru, Nadiem Makarim, memahami juga pemikiran-pemikiran brilian Ciputra untuk memajukan pendidikan di tanah air. Cita-cita besar Ciputra adalah melihat anak-anak nelayan, anak-anak petani, anak-anak tentara, dan anak-anak buruh menjadi entrepreneur untuk memajukan bangsa Indonesia.

Mimpi-mimpi besar yang menantang selalu menjadi bagian dari seorang Ciputra. Hebatnya, mimpi itu menjadi kata wajib untuk direalisasikan. Bukan Ciputra kalau mimpi-mimpi itu hanya janji-janji. Sebuah langkah harus direalisasikan. Kalaupun ada kendala, Ciputra tidak segan-segan berupaya untuk menagih.

Suatu kali di hadapan ratusan tamu dan seorang wali kota, Ciputra bertanya: ’’Bagaimana nih wali kota Surabaya? Sudah 15 tahun jalan sepanjang 500 meter ini kok tidak direalisasi-realisasikan? Saya berjanji kalau jalan tembus ini segera dibuat, akan saya bangun Pasar Seni seperti Pasar Seni Ancol.’’ Sempurnanya seorang pebisnis seperti Ciputra, wawasan berbisnisnya tidak sempit. Sumbangan pada kotanya menjadi bagian bagaimana keluasan berpikir beliau. Berkesenian tetap menjadi semangatnya, tidak hanya sebuah passion yang memang tinggi di bidang itu. Tetapi, passion itu dibagi juga untuk kota dan Indonesia.

Tidak banyak pebisnis yang punya kepedulian besar tentang seni seperti Ciputra. Meskipun Ciputra tergila-gila dengan lukisan terutama karya-karya Hendra, justru karya-karya seni tiga dimensinya menghiasi seluruh realestatnya. Lanskap-lanskap kawasan di realestatnya bertabur karya seni unggulan dan berkelas. Tidak segan-segan juga Ciputra menyumbang karya seni patung untuk kotanya.

Ciputra pernah bercita-cita membangun museum seni di Indonesia, namun akhirnya baru berwujud artpreneurship di Ciputra World Jakarta. Artpreneurship itu bukan sekadar ruang pamer koleksi Ciputra pribadi, tetapi ’’-preneurship’’ menggambarkan bagaimana Ciputra tidak hanya berkonsep seni hanya untuk seni.

Selamat jalan, Ciputra. Semoga semua cita-cita, mimpi-mimpi, dan angan-anganmu segera terealisasi. Karena semua sudah kautanam, tinggal menunggu waktu untuk dituai. Dituai oleh bangsa yang membesarkanmu. (*)

*) Dosen arsitektur dan interior Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra Surabaya

Editor : Ilham Safutra

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads