alexametrics

Menyiapkan Pemuda Kader Bangsa

Oleh ZULKIFLI HASAN *)
28 Oktober 2020, 19:48:38 WIB

TANGGAL 28 Oktober setiap tahun diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Sebuah pengingat sekaligus penghargaan untuk perjuangan kaum muda bagi bangsanya. Momentum sejarah itu memberi tahu kita bahwa yang harus dilihat dari kaum muda bukanlah usianya belaka. Tetapi juga kontribusi nyatanya untuk bangsa dan negara. Dari sana kita bisa mengambil inspirasi bagaimana seharusnya bangsa ini menempatkan dan memberikan peran kepada angkatan muda.

Hampir tidak ada satu pun momen besar sejarah bangsa ini yang tidak melibatkan kaum muda. Tahun 1908, kebangkitan nasional digerakkan anak-anak muda yang tergabung dalam Budi Utomo. Tahun 1912, Ahmad Dahlan muda mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Tahun 1926, Hasyim Asy’ari muda mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Lalu Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 menjadi salah satu pernyataan besar dari rangkaian perjuangan dan aktivisime kelompok muda bangsa yang memimpikan berdirinya republik. Persatuan dan kesatuan menjadi napas utama pergerakan mereka.

Jika kita perhatikan episode-episode berikutnya dari perjuangan kemerdekaan dan pendirian republik ini, anak muda tak pernah absen di dalamnya. Proklamasi 17 Agustus 1945 tak akan terjadi tanpa anak-anak muda yang terlibat dalam BPUPKI, PPKI, termasuk di dalamnya Soekarno muda, Hatta muda, bahkan para mahasiswa yang menculik dua proklamator itu sehari sebelum tanggal 17 dan ”memaksa” keduanya mendeklarasikan kemerdekaan keesokan harinya.

Boleh dikatakan, bulat dan lonjongnya negeri ini dalam sejarah ditentukan anak-anak muda. Mereka yang terlibat dalam politik dan aktivisme, para intelektual yang menulis, seniman, pengusaha, dan lainnya. Hampir seluruh momen besar berikutnya dari perubahan arah sejarah negeri ini didorong anak-anak muda, sejak 1960, 1970, 1980, hingga reformasi 1998. Aktor-aktor penggeraknya adalah anak muda.

Berkah Demografi

Sekali lagi, anak muda tak boleh hanya dilihat sebagai kelompok masyarakat dalam rentang usia tertentu saja. Kaum muda adalah simbol dari semangat dan daya juang, lambang dari rasa cinta dan idealisme untuk memajukan negeri ini. Lewat visi dan imajinasi kaum muda seharusnya kita bisa melihat ke mana layar kapal negeri ini akan kita arahkan. Sebab, merekalah yang memegang kompas peradaban menuju masa depan.

Indonesia hari ini harus bersyukur karena mendapatkan berkah demografi. Ini bukan sekadar ”bonus” yang bersifat kalkulatif. Ini adalah berkah yang di dalamnya terkandung nilai dan hikmah yang begitu besar. Berkah demografi ini memberi kita kekuatan sekaligus kesempatan, jumlah angkatan muda dan kelompok usia produktif merupakan populasi mayoritas di negeri ini. Postur demografi kita hari ini mirip dengan yang dimiliki Jepang pada 1955, yakni ketika Jepang bersiap lepas landas dan menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Banyak ekonom meramalkan, pada 2025 Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia, ada di urutan keempat atau kelima. Dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, didukung angkatan kerja dan kelompok usia produktif yang kuat, Indonesia bukan lagi semata pasar yang besar. Namun sekaligus kekuatan ekonomi yang akan menjadi pemain utama di kancah politik ekonomi global. Tugas kita hari ini adalah mempersiapkan anak-anak muda itu agar memiliki mentalitas yang kukuh serta visi kebangsaan yang mumpuni di tengah kompetisi global yang ketat.

Generasi milenial dan generasi Z hari ini digadang merupakan generasi emas yang akan membawa kejayaan Indonesia pada 2045. Mereka adalah ”Generasi Emas 2045”. Selain kita bekali mereka dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman memimpin dan berorganisasi, perlu terus kita tanamkan rasa cinta yang kuat kepada bangsa, kesetiaan kepada NKRI dan Pancasila, serta visi kebangsaan yang sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945.

Kader Bangsa

Di sinilah pentingnya momen Sumpah Pemuda ini kita jadikan sebagai kesempatan untuk mencetak kader-kader bangsa. Semua elemen perlu bergerak bersama dan berkolaborasi memberi kesempatan serta melibatkan anak-anak muda di berbagai bidang. Kita sudah melihat bagaimana anak-anak muda mendisrupsi sekaligus merevolusi dunia industri, kini menjadi lebih lincah dan cepat. Lalu anak-anak muda di pemerintahan juga memberikan banyak gagasan dan terobosan baru untuk kebaikan bangsa ini ke depan.

Saya bersyukur telah banyak anak muda yang terlibat dalam politik dan pemerintahan. Kini tampil anak-anak muda berprestasi yang ingin mengabdi untuk bangsanya. Pemerintah juga mengakomodasi dan memberikan ruang seluas-luasnya bagi mereka. Di partai politik pun terjadi hal yang sama. Kini banyak anak muda yang menjadi pemimpin politik, ikut terlibat dalam kompetisi demokrasi seperti pemilu atau pilkada, baik untuk eksekutif maupun legislatif.

Di Partai Amanat Nasional (PAN) semangat itu pula yang saya bangun. Anak-anak muda diberi ruang untuk menjadi kader-kader yang kelak akan menggantikan estafet kepemimpinan organisasi, lebih jauh lagi estafet kepemimpinan negeri. Mereka tidak hanya dididik dan digembleng melalui serangkaian aktivitas pengaderan, tetapi juga diberi kesempatan untuk mengimplementasikan pikiran mereka di dunia nyata.

Hari ini PAN menjadi salah satu partai yang memiliki banyak anggota legislatif muda di DPR RI, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Banyak juga di antara mereka yang menjadi kepala daerah. Tak sedikit pula yang memimpin partai di daerah dengan menjadi pengurus DPC, DPD, atau DPW, juga berbagai lembaga lain yang terafiliasi dengan partai ini. Komitmen PAN untuk mendorong kaum muda sudah bukan lagi di tingkat kata-kata, tetapi sudah dalam kerja nyata.

Akhirnya, kepada merekalah kita menitipkan harapan. Sekaligus kepada merekalah kita wariskan sebaik-baiknya bekal yang kita miliki untuk senyata-nyatanya pengabdian bagi republik ini. Selamat Hari Sumpah Pemuda. (*)


*) Zulkifli Hasan, Ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN)

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads