alexametrics

Filantropikapitalisme dan Zakatnomics

Oleh ALI CHAMANI AL ANSHORY *)
28 Mei 2021, 21:06:50 WIB

THE Economist pada 2006 mengenalkan konsep bernama filantropikapitalisme (philanthrocapitalism) kali pertama. Istilah tersebut merujuk sebagai suatu strategi atau konsep di mana aktivitas sosial diselaraskan dengan tujuan ekonomi dan bisnis. Secara garis besar, filantropikapitalisme dapat diartikan sebagai filantropi yang dilakukan berdasar paradigma kapitalisme.

Kapitalisme adalah corak produksi (mode of production) yang berdiri berdasar asumsi bahwa manusia adalah makhluk yang terus berusaha untuk memenuhi hasrat ekonomi dengan memaksimalkan apa pun yang dapat memuaskan kepentingan pribadi. Adam Smith mengklaim bahwa jika setiap orang berusaha memuaskan kepentingannya, masyarakat akan memiliki kesejahteraan yang optimal secara kolektif. Asumsi mengenai makhluk ekonomi yang berlandas keserakahan dengan dalih rasionalitas ini disebut dengan homoeconomicus.

Tentu ini secara definisi bertentangan dengan nilai filantropi. Yaitu, altruisme yang berdasar KBBI adalah sifat mengutamakan kepentingan orang lain. Untuk menjelaskan justifikasi nilai kapitalisme pada filantropi, James Andreoni mengenalkan teori ”warm glow”, di mana manusia melakukan aktivitas sosial didorong altruisme yang tidak murni, seperti citra yang baik dan ketenaran. Dengan kata lain, manusia selaku homoeconomicus hanya melakukan aktivitas sosial yang dapat memberikan insentif atau ”warm glow” karena bukan menilai filantropi sebagai tanggung jawab manusia terhadap makhluk lainnya.

Sifat pamrih yang dinormalisasi ini akhirnya membentuk mindset seseorang dalam memberi. Seseorang juga dikenal sebagai altruistik karena berdonasi dengan sebagian kekayaannya meski untuk meningkatkan elektabilitasnya. Perusahaan dinilai sebagai filantropis jika membuat program kesehatan publik meski di sisi lain mereka terus mendapatkan keuntungan sebagai industri yang mendorong obesitas.

Nafsu manusia dalam bentuk serakah dan egois yang menjadi landasan kapitalisme membuat beberapa karakteristiknya lebih mudah dirasakan dan diakui. Akan tetapi, ajaran Islam menekankan pengikutnya untuk mengendalikan hawa nafsu. Bukan sebaliknya.

Pandangan Islam mengenai altruisme dapat dipahami pada konsep zakatnomics sebagai bagian dari disiplin ekonomi Islam pada sisi keuangan sosial atau filantropi. Zakatnomics dapat didefinisikan sebagai kesadaran untuk membangun tatanan ekonomi baru untuk mencapai kebahagiaan, kesetimbangan kehidupan, dan kemuliaan hakiki manusia yang didasari dari semangat dan nilai-nilai luhur syariat zakat.

Zakat adalah rukun Islam yang disebut dalam Alquran bersama salat sebanyak 30 kali. Ini menunjukkan betapa pentingnya bagi seorang muslim untuk dapat menunaikan dan mengartikulasikan nilai yang dikandung oleh zakat. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa zakatnomics mengartikulasikan dua dimensi altruisme, yaitu duniawi dan spiritual. Pada dimensi duniawi, kegiatan amal yang dilakukan seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf semestinya dapat berdampak secara signifikan dan luas terhadap masyarakat yang membutuhkan.

Komunitas muslim diharapkan dapat mengelola dana umat dengan profesional sehingga aspirasi zakatnomics, yaitu kesejahteraan dan akses ekonomi yang merata, dapat dinikmati oleh setiap golongan. Hal ini telah dicontohkan sejak zaman Rasulullah, di mana Madinah memiliki amil yang ditugaskan untuk memastikan warga yang kaya membayar zakat dan dana zakatnya dikelola dengan baik agar penyalurannya dapat tepat sasaran.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads