alexametrics

Covid-19 varian Centaurus, Perlukah Diurus?

Oleh LAURA NAVIKA YAMANI *)
27 Juli 2022, 19:48:29 WIB

PANDEMI Covid-19 belum usai. Mutasi virus tak terhindarkan. Virus mudah bermutasi karena sifat naturalnya yang tidak memiliki perangkat ”proofread” sebagai editor gen pada proses penggandaan DNA/RNA. Akibatnya, virus mengalami evolusi lebih cepat dan menghasilkan varian baru.

Virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19, telah bermutasi beberapa kali. Varian baru menyebabkan perubahan karakteristik virus dan bersifat acak, bisa melemah atau lebih berbahaya (agresif). Varian Covid-19 ada banyak, tetapi tidak semua berbahaya. Pemantauan dilakukan untuk membuktikan keagresifan yang muncul dan memiliki karakteristik. Yakni sangat mudah menular, dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah, mempersulit pemeriksaan/diagnosis, dan resistan terhadap vaksin jika dibandingkan dengan jenis virus asli atau varian sebelumnya.

WHO mengklasifikasi varian baru sebagai variant of interest (VOI) ketika diduga berkorelasi dengan peningkatan kasus atau penyebab munculnya gelombang baru dan variant of concern (VOC) ketika telah terbukti membuat virus menjadi lebih agresif. Tidak semua VOI berakhir pada VOC. Contoh varian Eta, Lota, dan Kappa menjadi VOI dan pada akhirnya dikeluarkan dari pemantauan karena bukan ancaman.

Sampai saat ini ada lima VOC, yaitu varian Alpha, Beta, Gamma, Delta, dan terakhir Omicron. Penamaan varian Covid-19 mengikuti alfabet Yunani agar mudah diingat dan tidak terjadi stigma pada negara asal yang mendeteksi kali pertama varian tersebut. Penemuan varian baru ini merupakan hasil surveilans genomik yang dijalankan oleh suatu negara dalam memonitor kasus.

Surveilans ini dilakukan dengan memeriksa urutan whole genome dari virus yang menggunakan alat khusus yang lebih sophisticated, misalnya mesin next generation sequencing (NGS). Selanjutnya dapat melihat apakah ada variasi genetik yang muncul sehingga terkonfirmasi menjadi varian baru. Jenis varian tidak bisa ditentukan dari metode pemeriksaan rutin Covid-19 dengan real-time PCR atau rapid antigen yang hanya bisa menggambarkan positif terinfeksi atau tidak.

Perjalanan VOC Covid-19

VOC menjadi perhatian banyak negara dan peneliti di dunia karena perubahan karakteristiknya lebih agresif, bisa memberikan ancaman bagi kesehatan masyarakat. Perubahan perilaku dari virus terlihat dari tiap VOC yang diamati. Pertama, peningkatan daya tular muncul pada VOC yang teridentifikasi. Varian Alpha menunjukkan sekitar 50 persen lebih menular dibandingkan virus asli dari Wuhan dan varian Beta lebih meningkat 50 persen dari varian Alpha.

Berikutnya, varian Gamma sekitar 1,7 sampai 2,4 kali dari virus Wuhan dan varian Delta 40–60 persen dari varian Alpha. Yang terakhir adalah varian Omicron yang memiliki daya tular lima kali lebih tinggi dari Delta.

Kedua, peningkatan keparahan penyakit. Data cukup beragam pada varian Alpha dan hanya sedikit bukti pada varian Beta dan Gamma. Sedangkan varian Delta terjadi peningkatan risiko rawat inap lebih besar dua kali dari varian Alpha. Terutama bagi yang belum memiliki antibodi. Sementara varian Omicron dengan daya tular tertinggi, tetapi tidak menyebabkan keparahan penyakit seperti pada varian Delta. Karena sifat varian Omicron yang lebih cenderung menempel pada reseptor sel saluran pernapasan atas, sedangkan varian Delta di bawah dan merusak sel paru.

Ketiga, efektivitas vaksin. Vaksin Covid-19 masih efektif untuk semua varian walaupun berkurang daya proteksi antibodi dalam melawan varian. Beberapa kasus reinfeksi pada penyintas Covid-19 dan infeksi pada orang yang telah divaksin masih muncul. Vaksin memberikan tingkat perlindungan yang berbeda dari risiko infeksi, rawat inap, dan kematian. Tidak ada vaksin yang 100 persen efektif. Efektivitas vaksin dalam melawan varian meningkat setelah pemberian dosis lengkap dan booster.

Varian Omicron dan Subvarian

Varian Omicron terdeteksi kali pertama di Afrika Selatan pada November 2021. Varian itu memiliki lebih banyak mutasi daripada varian SARS-CoV-2 sebelumnya dengan 50 mutasi. Dan sekitar 32 mutasi di antaranya berkaitan dengan protein spike sebagai target mayoritas vaksin.

Selain itu, 15 mutasi varian ini terletak pada domain pengikatan reseptor dan 3 mutasi di situs pembelahan furin yang memfasilitasi penularan virus. Sehingga varian Omicron diperkirakan 105 persen lebih menular dari varian Delta. Saat ini Omicron merupakan varian dominan yang beredar secara global. Terhitung lebih dari 98 persen dari urutan virus yang dikirimkan di global initiative on sharing all influenza data (GISAID) sejak Februari 2022.

Omicron telah menggantikan Delta yang beredar bersama dengan varian lainnya. Kedudukan varian Omicron yang tunggal dan transmisinya yang masih berlanjut memunculkan subvarian baru mulai BA.1, BA.1.1, BA.2, BA.3, BA.4, hingga BA.5 yang mungkin terjadi sebagai bentuk evolusi intra-genotype. Menurut data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, pada 14 Juli 2022, subvarian BA.4 dan BA.5 merupakan 80 persen dari kasus Covid-19 di negara tersebut.

Terbaru, varian BA.2.75 yang dijuluki Centaurus merupakan galur subgaris keturunan dari subvarian Omicron BA.2 (pemicu gelombang baru di AS dan Hongkong awal tahun 2022). Istilah Centaurus bukan nama resmi dari WHO, tapi telanjur dikenal dan menjadi perhatian ilmuwan dunia.

Centaurus kali pertama terdeteksi di India awal Mei 2022. Kasus di India dan Inggris meningkat tajam disebabkan oleh varian ini yang lebih menular daripada BA.5. Centaurus telah terdeteksi di sekitar sepuluh negara. Di Indonesia sendiri telah terdeteksi 4 kasus, yakni 1 di Bali kasus impor dan 3 di Jakarta kasus lokal.

WHO menetapkan BA.2.75 sebagai variant under monitoring pada 7 Juli 2022. Artinya, ada indikasi bisa lebih menular atau terkait dengan penyakit yang lebih parah. Tetapi, buktinya masih lemah dan makin sulit untuk menilai tingkat keparahan penyakit karena belum ada cukup sampel serta pemeriksaan yang mulai berkurang di banyak negara. Penelitian juga difokuskan pada penilaian kinerja vaksin Covid-19 saat ini terhadap subvarian Omicron.

Saat ini vaksin Covid-19 bisa dipastikan masih sangat efektif dalam mencegah penyakit serius dan kematian terhadap semua varian, termasuk Centaurus. Walaupun tidak bisa menghindari terjadinya infeksi baru. Tentu saja, plus protokol kesehatan karena kombinasi keduanya tetap menjadi benteng pertahanan terbaik saat ini.

Varian Covid-19 tidak berakhir pada Centaurus saja, mengingat sirkulasi virus masih terus terjadi. Potensi penularan penyakit yang masih ada akan membahayakan kelompok rentan. Tidak hanya pada lansia dan pemilik komorbid, tetapi juga kelompok yang belum divaksin. Dus, Centaurus perlu diurus! Serius! (*)


*) LAURA NAVIKA YAMANI, Dosen Epidemiologi dan Ketua Research Center on Global Emerging and Reemerging Infectious Disease Lembaga Penyakit Tropis Unair

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: