alexametrics

Jurnal dan Saling Klaim Efikasi Vaksin Covid-19

Oleh EFFNU SUBIYANTO *)
27 Juli 2021, 19:48:03 WIB

SAAT ini terjadi klaim efikasi Vaksin Nusantara oleh mantan Menkes dokter Terawan Agus Putranto. Pak Terawan menyebutkan bahwa Vaksin Nusantara akan menyudahi pandemi Covid-19 di muka bumi. Keunggulannya karena metode yang dipakai adalah dendritic cell vaccine immunotherapy yang diterbitkan penerbit jurnal PubMed.

Selengkapnya, judul penelitian yang menjadi acuan dokter Terawan adalah ”Dendritic Cell Vaccine Immunotherapy: The Beginning of the End of Cancer and Covid-19, A Hypothesis”. Ditulis tiga peneliti, yakni Mona Kamal Saadeldin, Amal Kamal Abdel-Aziz, dan Ahmed Abdellatif.

Klaim Terawan sebetulnya tergesa-gesa karena konten penelitian tersebut adalah usulan hipotesis. Penulis jurnal itu mengusulkan metode dendritic cell (DC) sebagai alternatif dari beberapa metode lain yang dilakukan pusat riset dunia. Yakni inactivated vaccine (Sinopharm dan Sinovac), messenger RNA (Moderna dan Pfizer BioNTech), adenovirus (CanSino), atau modifikasi genetik (Oxford-AstraZeneca). DC dalam hal ini adalah usulan metode ilmiah yang ditawarkan oleh dua peneliti Italia dan seorang peneliti dari Mesir tersebut.

Disebut pengakuan global pun juga belum bisa. Saat ini masih dalam tahap scientific preposisi untuk ilmu pengetahuan. Produk DC dalam jurnal tersebut juga belum ada karena sifatnya masih uji laboratorium. Belum berbentuk produk vaksin sebagaimana kita tahu saat ini. Misalnya Sinovac, Sinopharm, Moderna, AstraZeneca, dan lain-lain. Kemungkinan sudah ada bentuk riilnya, tapi tidak disebutkan dalam jurnal itu.

Mendapatkan pengakuan dunia juga belum karena jurnal Medical Hypotheses masih kelas jurnal kelas Scopus Q3. Artinya belum Q2, apalagi kelas Q1. Jurnal bereputasi kita tahu diklasifikasikan dalam kelompok Q1, Q2, Q3, dan Q4. Semakin kecil kuartilnya menunjukkan jurnal tersebut semakin baik.

Kontribusi Jurnal

Saat ini sangat ramai perbincangan keharusan pemuatan jurnal bereputasi pada diskusi-diskusi vaksin Covid-19. Beberapa tokoh medsos yang mengaku dokter, peneliti, dan ahli menyatakan memiliki vaksin lebih ampuh untuk mengatasi pandemi. Mengklaim petunjuknya yang viral di medsos lebih efektif dan ampuh dibanding penyuntikan vaksin.

Menurutnya, pihak yang kompeten menolak klaim tersebut karena ilmuwan (medsos) tidak mampu memberikan bukti penulisan jurnal internasional. Publikasi jurnal kini menjadi kambing hitam yang menghambat pemulihan kesehatan. Demikian menurut pihak-pihak tersebut.

Ini adalah salah kaprah pengetahuan sosial yang parah. Demikian pula klaim Terawan bahwa DC sudah diakui dunia, juga sama salah kaprahnya. Jurnal bukan alat justifikasi sebuah ilmu pengetahuan sahih atau haram. Jurnal sebetulnya adalah produk karya ilmiah yang dituliskan dengan memenuhi persyaratan ilmiah.

Tujuannya beragam. Mengenalkan temuan ilmiah, menyampaikan studi kasus, laporan, review, atau tinjauan. Bahkan, tulisan editorial pun bisa dijurnalkan. Jurnal yang baik tentu saja akan menjadi tambahan kekayaan intelektual, sumbangan ilmu, harapannya kalau bisa dapat memengaruhi kehidupan sosial masa kini dan masa depan.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads