alexametrics
Analisis Matematis

Tempat-Tempat Berisiko Penularan Covid-19

Oleh ARI BASKORO*
27 Juli 2020, 12:07:47 WIB

MUNGKIN, pada pandemi Covid-19 seperti yang saat ini kita alami, berdampingan dengan seseorang yang sedang batuk atau bersin lebih menakutkan daripada gonggongan anjing galak.

Bagi orang yang cukup literasinya tentang perkembangan Covid-19 dari waktu ke waktu, sikap itu tidak berlebihan.

Hampir setiap waktu muncul informasi baru terkait Covid-19. Hal itu bukan sesuatu yang mengherankan karena Covid-19 merupakan penyakit baru. Berdampak sangat luas. Tidak hanya dari sisi medis, namun juga pada hampir semua sendi kehidupan. Para ahli tertantang untuk mengungkap banyak hal, terutama untuk bisa menjawab bagaimana SARS-CoV-2 yang merupakan virus penyebab Covid-19 bisa ditularkan antarmanusia.

Penularan Covid-19 sangat sulit dipastikan dari mana asalnya. Namun, ada beberapa tempat yang disebut-sebut mempunyai risiko lebih tinggi untuk terjadinya penularan. Diperlukan suatu kecerdasan cara berpikir dan logika agar seseorang bisa ”mendeteksi” keberadaan mereka, apakah aman atau tidak dari kemungkinan terjadinya risiko penularan tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang merupakan kiblat para ahli di bidang kesehatan pada 9 Juli 2020 menyatakan bahwa penularan Covid-19 dapat terjadi melalui udara (airborne transmission). Artinya, partikel virus yang berasal dari seseorang yang di dalam tubuhnya mengandung virus dapat menularkannya kepada orang lain melalui aktivitasnya seperti bernapas, berbicara, menyanyi, bersiul, tertawa, apalagi saat batuk atau bersin. Informasi terdahulu yang sudah banyak dipahami masyarakat adalah tentang cara penularan virus ini melalui droplet. Dengan pola penularan yang demikian ini, menjaga jarak antarindividu lebih dari 1 meter, sering mencuci tangan menggunakan sabun atau disinfektan berbasis alkohol, serta menggunakan masker dan pelindung wajah (face shield) merupakan cara-cara pencegahan penularan yang cukup optimal. Dengan informasi terbaru cara penularan secara airborne, apakah tindakan preventif yang disebutkan tadi telah mencukupi?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada suatu data penelitian yang menguraikannya secara matematis. Berdasar studi terhadap jenis virus korona lainnya, beberapa peneliti memperkirakan, untuk terjadinya suatu infeksi, dibutuhkan sedikitnya 1.000 partikel virus (PV) SARS-CoV-2 yang bisa memasuki tubuh seseorang (bisa melalui saluran napas, selaput lendir mata, ataupun selaput lendir saluran cerna). Sejumlah PV tersebut dapat diperoleh melalui 10 kali menghirup udara (inhalasi), di mana setiap kali inhalasi memasukkan 100 PV atau bisa juga melalui 100 kali inhalasi. Masing-masing inhalasi mengandung 10 PV. Masing-masing situasi tersebut dapat melukiskan bagaimana pola penularan terjadi. Dengan pola ilustrasi yang kurang lebih serupa, setiap kali seseorang pembawa virus mengalami batuk akan dapat melepaskan 3.000 droplet dengan kecepatan 50 mil/jam. Ukuran droplet setidaknya 5 mikron dan karena relatif berukuran ”besar” akan lebih cepat mengikuti gaya gravitasi dan menempel pada benda-benda sekitarnya. Droplet hanya bisa ”terbang” mencapai 1–2 meter dalam waktu 6 detik.

Di sisi lain, bersin dapat melepaskan sekitar 30.000 droplet dengan kecepatan yang cukup fantastis: 200 mil/jam! Apabila dianalisis lebih mendalam, seseorang yang telah terinfeksi Covid-19 dan mengalami sekali batuk atau bersin mampu melepaskan sekitar 200 juta PV yang akan tersebar merata di lingkungan sekitarnya.

Persoalan yang lebih pelik adalah pada seseorang yang telah terinfeksi Covid-19 tanpa menampakkan suatu gejala (kasus konfirmasi tanpa gejala) merupakan individu infeksius tanpa orang lain tahu bahwa yang bersangkutan adalah pembawa virus. Sama dengan orang yang menampakkan gejala klinis. Keduanya saat bernapas biasa mampu melepaskan 50–5.000 droplet. Karena kekuatan mengeluarkan udara pernapasan relatif kecil, pernapasan biasa tidak akan melibatkan sekret dari saluran napas bagian bawah yang populasi PV-nya sangat padat. Diperkirakan, kondisi demikian ”hanya” melepaskan 20 PV per menit. Sedangkan berbicara dapat mengeluarkan 200 PV per menit.

Berdasar ilustrasi perhitungan matematis di atas, dapat diformulasikan sebagai berikut: seseorang yang tertular adalah akibat banyaknya PV dikalikan faktor waktu.

Sebagai contohnya, bila seseorang mengalami batuk atau bersin, 200 juta PV akan tersebar. Beberapa PV di antaranya akan bertahan ”melayang-layang” di udara. Sebagian lainnya akan mengikuti gravitasi dan menempel pada suatu permukaan benda. Ada juga yang ”jatuh” di tanah atau lantai. Jadi, kalau seseorang secara tatap muka berbicara atau sedang batuk/bersin langsung di hadapan orang lainnya, akan dengan mudah menghirup 1.000 PV untuk mengakibatkan suatu penularan.

Di pihak lain, melalui suatu pernapasan biasa, akan mampu mengeluarkan 20 PV per menit. Untuk mengakibatkan suatu penularan, 1.000 PV dibagi 20 PV/menit akan diperoleh waktu 50 menit. Dengan cara perhitungan yang sama, berbicara secara tatap muka akan memerlukan waktu 5 menit untuk dapat menularkan (perhitungannya: 1.000 PV dibagi 200 PV/menit).

Perhitungan matematis tersebut diperlukan untuk mempertimbangkan suatu kebijakan/aturan yang bisa diterapkan agar seseorang terhindar dari suatu penularan. Disiplin menjalankan protokol kesehatan masih merupakan tulang punggung tindakan preventif. Meski demikian, ada beberapa faktor lainnya yang layak diperhitungkan seperti adanya aliran udara melalui ventilasi yang mencukupi karena cara ini dapat mengurangi kepadatan PV. Rancangan suatu ruangan juga harus mempertimbangkan sinar matahari yang cukup, temperatur ruang, serta kelembapan tertentu yang dapat memengaruhi ketahanan PV yang pada gilirannya dapat meminimalkan terjadinya penularan.

Dengan rangkaian penjelasan di atas, kita bisa memperkirakan potensi penularan yang terjadi bila seseorang berada pada suatu area tertentu seperti bar, menghadiri suatu pesta pernikahan, restoran, kantor/tempat kerja, latihan paduan suara, pusat kebugaran (indoor sports), tempat ibadah masal, taman hiburan, basket, kolam renang, salon kecantikan, bioskop, naik pesawat, transportasi umum, mal, dan tempat-tempat lainnya yang dapat mendatangkan massa untuk berkumpul. (*)

*) Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/SMF Ilmu Penyakit Dalam FKUA/RSUD dr Soetomo Surabaya

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads