alexametrics

Melambatnya Pertumbuhan Kredit

Oleh ERIC ALEXANDER SUGANDI*
26 November 2019, 13:32:53 WIB

BANK Indonesia (BI) telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik. Salah satunya, mendorong pertumbuhan kredit perbankan yang terus melambat.

Dari sisi moneter, otoritas moneter empat kali menurunkan suku bunga acuan hingga saat ini berada di level 5 persen.

Di samping itu, BI telah memutuskan untuk menurunkan giro wajib minimum (GWM) rupiah sebesar 50 basis points (bps) untuk bank-bank dalam kategori bank umum konvensional menjadi 5,5 persen dan kategori bank umum syariah atau unit umum syariah (UUS) ke 4,0 persen dengan GWM rerata tetap berada di angka 3,0 persen. Kebijakan penurunan GWM tersebut akan efektif mulai berlaku pada 2 Januari 2020.

Namun, walaupun BI telah memangkas BI 7-day reverse repo rate total sebanyak 100 bps sepanjang tahun ini, saya memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan akan tetap melambat dari 12 persen pada 2018 menjadi hanya di kisaran 7–8 persen tahun ini. Saya melihat, penyebab utama melambatnya pertumbuhan kredit perbankan adalah melemahnya permintaan kredit perbankan, khususnya dari korporasi.

Debitor cenderung tidak agresif meminjam dari bank. Itu berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi yang mulai stagnan di sekitar 5 persen dan mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Selain itu, konsumsi rumah tangga masih tertahan di sekitar angka 5 persen. Kondisi demand domestic yang masih lemah dan cenderung melambat tersebut memengaruhi keputusan investasi dari para investor yang target market-nya adalah pasar domestik. Itu akhirnya berdampak pada perlambatan demand kredit perbankan.

Dari sisi global, meski permintaannya tetap tumbuh, pertumbuhannya cenderung mengalami perlambatan. Salah satu faktornya adalah perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok yang belum juga usai. Hal itu juga memengaruhi keputusan berinvestasi investor yang berorientasi ekspor. Dan, ini juga yang membuat permintaan kredit perbankan melambat.

Karena itu, pemangkasan BI 7-day reverse repo rate dan penurunan GWM hanya bersifat memfasilitasi pertumbuhan kredit perbankan dari sisi penawaran. Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan saat ini lebih banyak ditentukan sisi permintaan kredit sehingga belum cukup efektif dalam mendorong pertumbuhan kredit. Dengan kondisi demand yang melemah itu, saya pikir untuk sementara waktu BI lebih baik mengevaluasi efektivitas penurunan suku bunga acuan sebelum memutuskan memangkas lebih jauh.

Meski begitu, masih ada ruang bagi BI untuk kembali menurunkan suku bunga acuannya tahun depan. Dengan catatan, tidak ada tekanan yang signifikan terhadap rupiah dan inflasi dalam kondisi yang terkendali.

*) Peneliti ekonomi senior Institut Kajian Strategis Universitas Kebangsaan Republik Indonesia

**) Disarikan dari hasil wawancara wartawan Jawa Pos Sekaring Ratri

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/fal


Close Ads