alexametrics
Refleksi Hari Dokter Nasional dan HUT IDI

Dokter Nasionalis, Tantangan Profesi di Tengah Pandemi

Oleh MOH. ADIB KHUMAIDI *)
26 Oktober 2020, 19:48:51 WIB

DULU dokter dianggap profesi yang sangat mulia. Orang yang memiliki profesi dokter dianggap ”perwakilan Tuhan” yang diturunkan ke bumi untuk membantu manusia mengatasi penyakit dan penderitaannya. Karena kemuliaan profesi itulah, dokter ditempatkan pada strata tertinggi dalam status sosialnya.

Tapi, zaman telah berubah. Lompatan teknologi, perubahan lingkungan, cara transaksi ekonomi, serta kondisi pandemi Covid-19 saat ini membutuhkan kehadiran sistem kerja baru. Adaptasi kebiasaan baru dalam menjalankan profesi menjadi bagian dari professional defense and resilience. Yaitu ketahanan dan pertahanan profesi dalam upaya melakukan perlindungan dan keselamatan serta upaya meminimalkan risiko bagi dokter dalam menghadapi pandemi ini. Sebuah masa yang juga dikenal sebagai era disrupsi (disruption).

Menurut Clayton M. Christensen, the concept of disruption is about competitive response, it is not theory of growth . Its adjacent to growth. But it is not about growth. Dibutuhkan manusia baru yang mampu mengikuti semua perubahan dan selalu menjadi trendsetter, bukan semata-mata follower.

Fakta sejarah membuktikan bahwa proses pembentukan fondasi negara Indonesia pada awal abad ke-20 sehingga melahirkan semangat berdirinya Boedi Oetomo diawali dengan sebuah gagasan besar dari para emansipator bangsa yang tumbuh sebagai proses di dalam kelompok sosial masyarakat. Mereka berupaya meningkatkan diri menuju kedudukan intelektual, sosial, ekonomi, politik, budaya, serta gender yang lebih layak dan menjadi bagian yang integral dalam tata kehidupan masyarakat.

Salah satu komponen emansipator bangsa tersebut adalah kelompok dokter pribumi. Mereka menjadi pelopor semangat nasionalisme dan kesadaran berbangsa. Peran dan keberadaan para dokter pada saat itu tidak terlepas dari watak yang dibentuk melalui proses pendidikan kedokteran disertai sumpah serta etika yang harus dipatuhinya sebagai seorang dokter nasionalis.

Saat ini para dokter Indonesia yang nasionalis tengah membangun sistem pelayanan kesehatan di Indonesia, meninggalkan keterlibatan politik, serta berfokus secara eksklusif pada kesehatan dan pengobatan saja. Pada saat yang sama, profesi dokter dihadapkan dengan tantangan yang sangat luar biasa, bahkan ancaman terhadap eksistensi profesi yang dapat dibagi menjadi tantangan yang berasal dari dalam maupun luar.

Tantangan dari dalam terutama terkait dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kedokteran. Ini terkait dengan beberapa isu yang kerap kali diangkat media massa, misalnya dugaan malapraktik dokter, buruknya mutu pelayanan dokter (terutama di fasilitas kesehatan tertentu), dan isu kolusi gratifikasi yang dinilai menghilangkan independensi dokter. Di sisi lain, saat ini dokter di Indonesia menjadi profesi yang sangat diharapkan berperan sangat besar dalam penanggulangan pandemi Covid-19.

Sedangkan tantangan dari luar saat ini adalah tuntutan globalisasi berupa mekanisme pasar bebas yang telah masuk dalam area jasa pelayanan kesehatan. Kondisi itu menjadi ancaman dalam era industrialisasi pelayanan kesehatan atau era korporasi medis. Selain itu munculnya pendekatan baru dalam tantangan kesehatan internasional, yaitu kesehatan global yang sudah dimulai pada 1990-an. Kesehatan global cenderung mendukung program vertikal, intervensi teknologi, dan inovasi di bidang farmasi.

Semua itu terbangun akibat penyakit tertentu yang menular (emerging dan reemerging disease), mengancam kehidupan manusia melewati batas-batas negara, serta membutuhkan respons yang kuat dan terkoordinasi yang melebihi kapasitas pemerintah nasional. Salah satunya yang saat ini terjadi di seluruh dunia, yaitu Covid-19.

Mengatasi pandemi Covid-19 ini perlu penekanan pada biosecurity dan upaya untuk mencegah persebaran penyakit menular. Termasuk meningkatkan perhatian pada inisiatif horizontal, seperti program jangka panjang untuk memperkuat layanan kesehatan nasional, pelayanan kesehatan primer, pendidikan kesehatan masyarakat, atau keterlibatan masyarakat dalam penyusunan inisiatif kesehatan.

Problematika profesi kedokteran di Indonesia sepertinya sudah mencapai titik nadir yang harus segera mendapatkan penyelesaian. Bahkan saat ini sudah masuk dalam kondisi gawat darurat (emergensi) yang harus segera diresusitasi untuk dapat mempertahankan hidupnya (life saving). Mengembalikan pamor dokter Indonesia yang nasionalis menjadi urgensi yang saat ini harus dilakukan.

IDI mempunyai tanggung jawab yang besar di usia yang ke-70 tahun untuk mewujudkan dokter nasionalis. Seperti halnya fondasi yang sudah diletakkan para dokter nasionalis pendahulu yang manfaatnya bukan hanya untuk masyarakat profesi, tapi juga dirasakan seluruh masyarakat Indonesia. Semangat itu sudah tertulis di mukadimah Anggaran Dasar IDI, yaitu menjadi organisasi yang memiliki nilai-nilai profesionalisme, integritas etik dan moral, pengabdian, independensi, serta kesejawatan untuk melakukan upaya-upaya memajukan, menjaga, dan meningkatkan harkat dan martabat dokter Indonesia. (*)


*) Moh. Adib Khumaidi, Ketua terpilih Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI)

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads