alexametrics

Urgensi Optimisme dalam Hidup

Oleh AGOES ALI MASYHURI *)
26 Juli 2022, 19:48:38 WIB

TEKNOLOGI informasi semakin canggih; fitnah dan aib semakin tersebar. Jumlah minuman semakin banyak jenisnya. Air bersih semakin berkurang jumlahnya. Ilmu semakin tersebar; adab dan akhlak semakin lenyap. Belajar semakin mudah. Guru semakin tidak dihargai. Banyak orang mendirikan bangunan, tapi tidak mereka tempati. Dan banyak orang mengumpulkan makanan, tapi tidak mereka makan. Jumlah manusia semakin banyak, tapi rasa kemanusiaan semakin menipis. Itu semuanya merupakan realitas yang tidak bisa dimungkiri.

Dalam menghadapi realitas semacam itu, dibutuhkan kemapanan rohani dan kecerdasan berpikir. Mari kita tumbuh kembangkan berpikir positif dan berjiwa optimis. Optimisme adalah paham keyakinan atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan dan sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal.

Orang menjadi kuat pada dasarnya karena mentalnya kuat. Orang menjadi lemah karena mentalnya lemah. Begitu juga, orang sukses karena dia memiliki keinginan untuk sukses. Dan orang gagal karena dia berbuat gagal. Sejalan dengan pesan suci Baginda Nabi SAW, ”Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah,” (HR Muslim). Jadi, manusia tangguh dan kuat itu sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Orang yang berakal sehat dan cerdas selalu menggunakan setiap detik waktu yang dimiliki untuk kebaikan. Jika maut menjemputnya, dia telah siap. Jika harapannya tercapai, berlipat gandalah kebaikannya.

Sering saya katakan, Allah tidak menjadikan kemudahan datang setelah kesulitan. Tetapi, Allah telah menyiapkan kemudahan bersama datangnya kesulitan. Hal itu bisa kita temukan pada surah Al-Insyirah ayat 5-6, ”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,” (QS Al-Insyirah: 5-6).

Pada ayat ini terkandung dua hal. Pertama: kemudahan dan kesulitan itu sangat dekat jaraknya. Saking dekatnya, bahkan Alquran menyebutkan datang bersamaan tak terpisahkan. Keduanya saling terpaut sama lain. Maka, sangatlah cerdas sebagian ulama salaf yang berkata, ”Ketika kesulitan datang, ketika itu pula kemudahan mengikutinya.”

Kedua: kemudahan datang bersama datangnya kesulitan. Saat ada sesuatu yang Allah ambil dari kita, pada saat yang sama Allah juga memberikan sesuatu. Ketika kita kekurangan akan sesuatu, kita juga diberi kelebihan pada hal yang lain. Semuanya hadir begitu lembutnya dalam hidup kita, bahkan begitu lembutnya sehingga kita sering tidak menyadarinya.

Rasulullah SAW bersabda, ”Dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah SAW menyukai rasa optimistis yang baik dan membenci rasa pesimistis,” (HR Ahmad).

Optimisme adalah suatu harapan yang ada pada individu bahwa segala sesuatu akan berjalan menuju ke arah kebaikan. Jika dilihat dari sudut pandang kecerdasan emosional, optimisme adalah suatu pertahanan diri pada seseorang agar jangan sampai terjatuh dalam masa kebodohan, putus asa, dan depresi bila menghadapi kesulitan. Optimisme dapat dipastikan membawa individu ke arah kebaikan kesehatan. Karena adanya keinginan untuk tetap menjadi orang yang ingin menghasilkan sesuatu (produktif) dan ini tetap dijadikan tujuan untuk berhasil mencapai yang diinginkan.

Berpikir positif adalah hal pokok yang dimiliki oleh orang yang optimistis. Ketika berada dalam situasi yang sulit, orang yang optimistis memandang bahwa kesulitan adalah batu pijakan untuk meraih hasil yang lebih baik. Orang yang optimistis juga mampu mengukur kadar kemampuannya dan memanfaatkan kemampuannya dengan maksimal untuk meraih apa yang dia inginkan. Ketika memiliki keinginan yang sulit dicapai, orang yang optimistis tetap berusaha mencoba. Meski kemudian gagal, dia sudah cukup puas dengan usaha yang telah dilakukannya.

Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Dengan sikap optimistis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir, dan berdoa. Atau kita harus luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.

Sedikitnya ada tiga pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia. Pertama, optimisme dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan menumbuhkan perkembangan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.

Kedua, optimisme mampu mengurangi sejumlah problematika dalam kehidupan manusia. Wajah-wajah optimistis akan memancarkan kebahagiaan. Tidak hanya pada saat mencapai kepuasan, tetapi juga dalam segala situasi.

Ketiga, orang yang menjadikan sifat optimistis sebagai bagian dari kehidupannya, akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dan kepercayaan tersebut merupakan sebab yang mendesak dalam memulihkan dan memajukan umat (bangsa) yang sedang ”sakit” seperti saat ini.

Manfaat Berpikir Positif dan Optimisme bagi Kesehatan

Para ilmuwan telah membuat kesimpulan atas riset selama puluhan tahun tentang manfaat berpikir positif dan optimisme bagi kesehatan. Hasil riset menunjukkan bahwa seorang optimis lebih sehat dan lebih panjang umur daripada orang lain, apalagi jika dibandingkan dengan seorang pesimis. Para peneliti juga memperhatikan bahwa orang yang optimistis lebih sanggup menghadapi stres dan lebih kecil kemungkinannya mengalami depresi.

Berikut ini beberapa manfaat bersikap optimistis dan sering berpikir positif: lebih panjang umur, lebih jarang mengalami depresi, tingkat stres yang lebih kecil, memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik terhadap penyakit, lebih baik secara fisik dan mental, mengurangi risiko terkena penyakit jantung, serta mampu mengatasi kesulitan dan menghadapi stres.

Ya Allah, terangilah hati kami yang diliputi kegelapan dengan cahaya kasih-Mu. Anugerahilah kami dengan limpahan ampunan dan rahmat-Mu. Ya Allah, naungilah kami dengan rindangnya pohon cinta-Mu dalam balutan kelembutan kasih sayang-Mu. Ya Allah, tuntunlah mereka yang tersesat dan bingung agar mengenal-Mu. Terangilah hati mereka yang diliputi kegelapan dengan cahaya kasih-Mu. (*)

*) AGOES ALI MASYHURI, Pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo, Jatim

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: