alexametrics

Kritis, Analitis, dan Tak Cuma Menghafal

Oleh Totok Amin Soefijanto*
26 Juni 2019, 20:18:22 WIB

JawaPos.com – Pendaftar Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019 memang turun. Tapi, di sisi lain, sistem seleksi tersebut lebih berkualitas, objektif, efisien, serta transparan daripada tahun-tahun sebelumnya.

Hanya, memang perlu persiapan yang lebih matang dari segi teknis peralatan teknologi. Sistem ujian tulis berbasis komputer membuat seleksi berjalan tanpa ribet.

Calon mahasiswa tidak perlu meng­antre untuk mendaftar di kampus. Tidak perlu berkumpul dalam suatu tempat di satu waktu untuk menjalani tes. Semua serba-online. Peserta juga bisa memilih sendiri jadwal tes mereka.

Setiap peserta juga tidak akan mendapatkan soal yang sama. Namun memiliki tingkat kesulit­an yang sama. Materi yang diujikan tes potensi skolastik dan akademik. Tes skolastik bertujuan untuk mengukur kemampuan kognitif. Misalnya, penalaran dan pengetahuan umum.

Selain itu, ada tes potensi aka­demik untuk mengukur kemampuan kognitif peserta sesuai de­ngan kelompok jurusan. Seluruhnya bertipe high order thinking skills (HOTS). Menuntut peserta untuk berpikir kritis dan analitis ketika menjawab soal. Tidak sekadar menghafal.

Nah, mungkin materi tersebutlah yang bisa jadi membuat nilai SBM PTN kali ini rendah. Sebab, semasa duduk di bangku SMA tidak dibiasakan mengerjakan soal-soal HOTS. Saya masih ingat betul protes terhadap ujian nasional berbasis komputer lantaran 10 persen soalnya bertipe HOTS.

Jika ada 50 soal, paling hanya lima soal yang bertipe HOTS. Seperti itu aja teriak. Hasilnya sekarang ketahuan. Banyak yang kesulitan mengerjakan soal UTBK SBM PTN yang memiliki persentase HOTS lebih banyak.

Dengan ujian digelar lebih dulu, menurut saya itu menunjukkan bahwa SBM PTN 2019 lebih objektif, transparan, dan me­miliki integritas. Peserta mengetahui nilai masing-masing lebih dulu. Semua nilai murni. Apa adanya. Tidak ada yang dikatrol.

Jika kurang puas, peserta bisa mengikuti tes UTBK kedua. Kalau ada yang kurang puas, peserta memiliki kesempatan untuk memperbaiki. Tapi, ada juga yang minder karena merasa nilainya pas-pasan. Risiko memang. Meski begitu, itulah hasil kerja keras diri sendiri demi meraih PTN idaman.

Positifnya, UTBK mengajari para calon mahasiswa untuk realistis dan rasional dalam memilih program studi. Sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Tidak muluk-muluk.

Memang, bisa jadi nilai lebih rendah untuk SBM PTN 2019. Tapi, yang harus diingat, kursi PTN juga terbatas. Untuk bisa mendudukinya, harus lolos seleksi. Siapa yang berkualitas pastinya akan pantas mengenyam pendidikan di sana.

*) Pakar Pendidikan Universitas Paramadina

**) Disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Agas Putra Hartanto

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c5/ttg)