alexametrics

Setelah Subsunk Nanggala-402

Oleh PROBO DARONO YAKTI *)
26 April 2021, 21:13:20 WIB

SABTU (24/4) Indonesia mendapatkan kabar duka. Kepala staf TNI Angkatan Laut (KSAL) menyatakan bahwa kapal selam KRI Nanggala-402 tenggelam atau subsunk. Pernyataan itu terlontar dalam konferensi pers setelah melebihi estimasi waktu 72 jam persediaan oksigen habis terhitung sejak Kamis (22/4).

Sebelumnya, salah satu armada kebanggaan Indonesia ini hilang kontak saat mengikuti latihan penembakan senjata strategis TNI-AL 2021 di perairan utara Pulau Bali. Kapal selam buatan Jerman tahun 1981 ini dinyatakan tenggelam di kedalaman 850 meter. Bukti-bukti otentik berupa pelurus tabung torpedo, pembungkus pipa pendingin, dan botol oranye pelumas periskop kapal selam ditemukan di lokasi yang diduga kapal selam tersebut terakhir terlihat. Yakni, 43 kilometer dari Celukan Bawang.

Upaya pencarian telah dilakukan secara maksimal dengan mengerahkan tenaga gabungan dari TNI-AL, Basarnas, Polri, KNKT, dan BPPT. Pemerintah Indonesia juga mendatangkan bantuan dari negara-negara. Singapura mengirimkan kapal Swift Rescue, Malaysia mengirimkan kapal Rescue Mega Bakti, dan Amerika Serikat mengirimkan pesawat Poseidon P8. Australia dan India juga mengirimkan kapal untuk membantu pencarian.

Namun, upaya pencarian tak kunjung membuahkan hasil. Kapal selam yang pulang dari perbaikan total di Korea Selatan pada 2012 ini dinyatakan hilang kontak atau submiss hingga kemudian dinyatakan subsunk.

Peran Vital

Kapal selam memainkan peran penting dalam strategi pertahanan laut Nusantara (SPLN). Ia berguna untuk melakukan sabotase terhadap jalur perdagangan dalam kondisi perang. Dalam kondisi damai, kapal selam difungsikan untuk melakukan patroli laut di titik-titik strategis dalam wilayah perairan negara.

Indonesia merupakan negara dengan komposisi wilayah dua pertiga merupakan perairan. Dengan komposisi itu, kepemilikan kapal selam sangat vital sebagai komponen terpenting dalam menjaga choke points dan alur-alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) yang ditetapkan berdasar Hukum Laut Internasional (UNCLOS) 1982.

Sampai saat ini, Indonesia memiliki lima kapal selam yang terdiri atas dua kelas. Yakni, kelas Cakra tipe 209/1300 buatan Jerman dan kelas Nagapasa atau Changbogo yang dibuat kerja sama antara PT PAL Indonesia dan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering Korea Selatan.

Kelas Cakra terdiri atas KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402, sedangkan kelas Nagapasa terdiri atas KRI Nagapasa-403, Ardadedali-404, dan Alugoro-405. Nama kapal selam terakhir sudah dirakit penuh di Indonesia dengan mekanisme transfer teknologi dengan Korea Selatan.

Dengan kepemilikan lima kapal selam plus kemampuan untuk memproduksi secara mandiri, Indonesia mampu menimbulkan fenomena yang di dalam kajian pertahanan disebut daya gentar (deterrence) terhadap situasi keamanan di kawasan Asia Tenggara. Daya gentar membuat negara berada di posisi aman dan negara lain akan menaruh kewaspadaan.

Sejak 2011, Indonesia memesan tiga kapal selam sebagai bagian dari kekuatan pokok minimum atau minimum essential force (MEF). Langkah itu merupakan bagian rencana strategis dari modernisasi alutsista Indonesia. MEF terdiri atas empat tahap. Pertama, penetapan program, stabilisasi dan optimalisasi, persiapan regulasi, serta persiapan new future products yang sudah berjalan pada 2010–2014.

Kedua, peningkatan kemampuan kerja sama produksi serta pengembangan new product yang juga sudah dijalankan pada 2015–2019. Barulah sampai pada tahap yang saat ini dijalankan, yakni pengembangan industri dan peningkatan kerja sama internasional. Tahap ketiga berlangsung pada 2020–2024. MEF keempat yang berlangsung pada 2025–2029 sampai pada level kemandirian industri pertahanan, kemampuan berkolaborasi secara internasional, dan pengembangan yang berkelanjutan.

Restrukturisasi MEF

Pekerjaan rumah yang berat menanti Kementerian Pertahanan (Kemenhan) di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Selain harus merampungkan Masterplan 25 Tahun Pertahanan RI, sebagaimana yang ditegaskan dalam konferensi pers pencarian KRI Nanggala-402 pada Kamis (22/4), Kemenhan perlu merestrukturisasi MEF. Pemenuhan MEF, sebagaimana yang direncanakan sejak 2007, tidak hanya meliputi kepemilikan yang dianggap atribut pelengkap dalam rangka menakut-nakuti atau mengancam negara tetangga. Namun juga meliputi unsur kesiapsiagaan terhadap komponen alutsista pendukung di luar komponen pemukul seperti kapal selam.

Setidaknya, ada dua hal yang perlu dievaluasi dalam peristiwa pilu subsunk KRI Nanggala-402. Pertama, pemantauan dan evaluasi ketat dari jajaran tertinggi TNI-AL terhadap kondisi terkini alutsista yang dioperasikan. Memang, sejumlah pihak seperti mantan kru kapal memberikan kesaksian bahwa sebelum berangkat selalu dilakukan pengecekan ketat kesiapan komponen kapal selam. Namun, perlu dipertimbangkan faktor usia kapal yang berpengaruh terhadap batasan pertimbangan apakah kapal perlu diperbaiki secara total atau mengganti dengan yang baru.

Kedua, kemandirian Indonesia dalam operasi pencarian tampak kontras saat KRI Nanggala-402 dinyatakan hilang kontak. Ketika itu datang tawaran bantuan dari Singapura yang bersedia mengirimkan kapal penyelamat kapal selam Swift Rescue. Di satu sisi, Indonesia memang berhasil membangun solidaritas di antara negara-negara ASEAN atau setidaknya hubungan bilateral antara Indonesia dan Singapura. Namun, di sisi lain, kealpaan kepemilikan Indonesia terhadap kapal penyelamat kapal selam adalah bukti bahwa pemerintah belum serius dalam mengantisipasi kejadian-kejadian luar biasa seperti yang dialami saat ini.

Baca Juga: KRI Nanggala-402 Tenggelam, AHY: 1 Nyawa Prajurit TNI Sangat Berharga

Ini melahirkan pertanyaan besar terhadap komitmen pemerintah terkait pilar keamanan maritim dalam Poros Maritim Dunia atau Kebijakan Kelautan Indonesia. Namun, dalam suasana yang sedang berduka, kita seraya berdoa semoga para kru KRI Nanggala-402 selalu tabah sampai akhir menjaga kedaulatan NKRI dalam sebuah patroli abadi. Wira Ananta Rudira. (*)


*) Probo Darono Yakti, Dosen Hubungan Internasional UPN Veteran Jawa Timur, pengamat pertahanan stratagem Indonesia

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:


Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads