alexametrics

Pemicu Konsumsi Itu Covid-19 yang Terkendali

Oleh SASMITO HADI WIBOWO*
26 April 2021, 17:53:44 WIB

PEMERINTAH mengambil kebijakan melarang mudik bagi masyarakat, terutama bagi PNS, pegawai BUMN, prajurit TNI, dan anggota Polri. Kebijakan tersebut ditempuh untuk melindungi aspek kesehatan masyarakat. Harapannya, tak ada lonjakan kasus Covid-19 pada momen libur Lebaran tahun ini.

Dengan pembatasan mobilitas itu, diharapkan pemulihan ekonomi nasional bisa lebih terakselerasi.

Lantas, bagaimana pengaruh kebijakan tersebut pada perekonomian?.

Pertama-tama, pelarangan mudik perlu dipatuhi. Dengan begitu, prediksi munculnya gelombang kasus Covid-19 tidak terjadi. Kalaupun tidak pulang kampung asalkan penduduk kota yang biasanya mudik dapat mentransfer sebagian THR-nya, aktivitas ekonomi pedesaan tetap memperoleh tambahan suntikan sumber konsumsi. Karena itu, dapat dipahami bila pemerintah, khususnya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, tetap mendorong wisata lokal. Meski, di sisi lain, dampak larangan mudik tentu akan terasa di sektor transportasi.

Pemerintah memperkirakan terjadi tambahan konsumsi masyarakat sekitar Rp 215 triliun selama momen Ramadan dan Lebaran tahun ini. Tambahan konsumsi itu berasal dari uang tunjangan hari raya (THR) masyarakat.

Pemerintah berharap potensi belanja ini meningkatkan konsumsi masyarakat sehingga bakal membantu pertumbuhan ekonomi pada kuartal II. Sebab, konsumsi masih menjadi motor utama penggerak perekonomian nasional.

Namun, dalam kondisi saat ini, secara umum pendapatan hampir sebagian besar masyarakat terganggu. Jadi, mungkin angka Rp 215 triliun itu bisa dikatakan terlalu optimistis.

Adanya larangan mudik akan membuat potensi spending di daerah pedesaan menurun. Berapa perputaran uang yang terjadi bisa dilihat nanti saat momen Lebaran usai dari data uang beredar.

Saat ini, bagaimanapun, kebijakan larangan mudik tentu juga akan berdampak pada sektor transportasi. Multiplier effect dari sektor transportasi bakal ikut terganggu. Yang harus digarisbawahi bukan hanya transportasi umum yang terdampak, tetapi juga angkutan pribadi. Sektor-sektor turunannya seperti supplier servis mobil, oli, dan bengkel-bengkel lainnya akan terdampak.

Secara umum, saya melihat dampak pada perekonomian justru bukan hanya dari THR. Asumsi saya, jika angka kasus Covid-19 bisa dikendalikan, ekonomi bisa meningkat. Jika itu tercapai pada Agustus nanti, terjadi pembelanjaan yang besar dari masyarakat.

Ditambah lagi, jika angka orang yang sudah divaksin meningkat, tentu ekonomi juga bakal ikut terdorong. Jadi, justru pemicu pembelanjaan itu bukan faktor Lebaran, tetapi kalau angka Covid-19 bisa turun.

Pertumbuhan ekonomi bisa saja di level 5 persen. Menurut saya, asesmen yang paling ideal berasal dari International Monetary Fund (IMF). IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 dari 4,8 persen menjadi 4,3 persen. Namun, dari pengalaman sebelumnya ketika saya masih di BPS, memang asesmen dari mereka itu yang paling baik.

*) SASMITO HADI WIBOWO, Dosen Pascasarjana Universitas Trisakti, mantan deputi BPS

**) Seperti yang disampaikan dalam wawancara dengan wartawan Jawa Pos, Dinda Juwita.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c14/ttg

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads