alexametrics

Dilema Rencana Impor Beras

Oleh BAGONG SUYANTO *)
26 Maret 2021, 19:48:19 WIB

MENJELANG panen raya, hati petani justru gundah gulana. Rencana pemerintah mengimpor 1 juta ton beras membuat petani resah. Dalih pemerintah impor beras untuk mengamankan stok beras nasional sulit dicerna nalar petani.

Proyeksi produksi beras Januari–April 2021 sebesar 14,54 juta ton belum dianggap cukup. Untuk memastikan agar stok beras aman, menteri perdagangan mengalkulasi masih dibutuhkan lagi 1 juta ton beras dari keran impor. Cadangan beras Bulog, menurut catatan, hanya 500 ribu ton. Jumlah itu riskan. Agar tidak muncul ulah spekulan yang berpotensi memainkan harga beras di pasaran, solusinya adalah impor beras.

Overstock

Rencana impor 1 juta ton beras dengan cepat mengundang kritik dari berbagai kalangan. Banyak pihak menuduh pemerintah kurang sensitif dan berempati pada nasib petani. Waktu pengumuman rencana impor beras yang dilakukan menjelang panen raya berpotensi membuat petani kolaps.

Efek psikologis rencana impor beras dengan cepat membuat harga gabah di pasaran merosot. Di berbagai daerah, harga kering gabah (GKP) jatuh hanya dalam kisaran Rp 3.400 hingga Rp 3.600 per kilogram. Padahal, di tahun-tahun sebelumnya, harga kering gabah biasanya di kisaran Rp 4.000. Bahkan sempat naik hingga Rp 4.700 per kilogram pada 2020.

Dengan mengimpor beras, stok cadangan pangan nasional memang cepat terpenuhi. Selama ini, stok yang aman dikalkulasi sekitar 1,7 juta ton. Artinya, dengan mengimpor 1 juta ton, sebetulnya jumlah itu belum bisa memastikan stok pangan nasional benar-benar aman. Saat ini stok beras Bulog hanya 800 ribu ton, di mana 270–300 ribu ton berasal dari sisa impor beras tahun 2018. Jadi, stok beras Bulog sebetulnya hanya 500 ribu ton.

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads