alexametrics

Dilema Profesi dan Risiko Dokter

OLEH DAVID S. PERDANAKUSUMA *)
26 Maret 2020, 19:48:33 WIB

SEBANYAK 4.826 dokter dan perawat di Italia terjangkit virus korona (Covid-19). Sedikitnya ada 25 tenaga medis di Jakarta yang juga positif Covid-19. Baru-baru ini, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengumumkan enam dokter meninggal sebagai korban pandemi Covid-19.

Itu merupakan berita yang mengisi pemberitaan media atas jatuhnya korban petugas medis akibat bencana Covid-19 sejak terjadinya penyakit yang disebabkan virus dengan episentrum di Wuhan, Tiongkok, awal Desember 2019 itu. Kemudian diidentifikasi sebagai virus korona jenis baru yang dapat menular dengan cepat.

Penyakit tersebut menyebar luas sampai ke luar negeri Tiongkok. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lantas menamai penyakit virus korona baru dengan nama Covid-19. Dalam tempo tiga bulan, Covid-19 telah menginfeksi sekitar 417.582 penderita di 168 negara. Kini wabah itu ditetapkan sebagai pandemi global.

Pada 24 Maret 2020 jumlah kematian yang ditimbulkan Covid-19 sudah mencapai 18.612 kasus. Angka kematian secara internasional sebesar 4,4 persen. Angka tersebut sudah lebih tinggi dari case fatality rate (CFR) yang sebelumnya hanya berkisar 3 persen.

Pada 2 Maret Presiden Jokowi mengumumkan dua kasus pertama ditemukan Covid-19 yang dari hari demi hari meningkat dengan cepat. Dalam 22 hari setelah pengumuman, terjadi peningkatan yang sangat cepat menjadi 686 kasus dengan kematian 55 orang.

Jika kita mengacu CFR 3 persen, jumlah kematian di Indonesia semestinya sekitar 20 (3/100 x 686) orang. Jika mengacu angka kematian global, didapatkan angka 30 (4,4/100 x 686) orang. Namun, saat ini di Indonesia didapatkan jumlah kematian 55 kasus sehingga CFR mencapai 8 persen (55/686 x 100%).

Atas data tersebut, ada dua kemungkinan kondisi di Indonesia. Pertama, angka kematian di Indonesia yang lebih tinggi melampaui persentase global atau angka kejadian kasus sebanyak 686 kasus belum menggambarkan kondisi yang sesungguhnya. Jika angka kematian 55 dianggap sebagai 3 persen, kemungkinan kejadian kasus Covid-19 adalah 1.833 (100/3 x 55) kasus. Atau bila mengacu persentase kematian global 4,4 persen, akan didapatkan angka 1.250 (100/4,4 x 55) kasus.

Kondisi itu dapat terjadi karena proses deteksi tidak memadai. Bisa jadi banyak penderita dengan potensi menularkan, tapi belum atau tidak terdeteksi. Tentu saja hal tersebut akan sangat berbahaya dan mengkhawatirkan serta mengaburkan jejak penularan yang terjadi.

Profesi Penuh Risiko

Dokter dan petugas kesehatan lain adalah tenaga profesi yang berada di garis depan yang tidak bisa meninggalkan tugas profesinya. Pelayanan kesehatan secara umum tidak bisa berhenti dengan adanya bencana ini. Arahan pemerintah yang menyatakan bekerja di rumah (work from home/WFH) tidak sesuai untuk profesi kesehatan dalam pelaksanaan layanan kesehatan dan pertolongan kepada masyarakat.

Bila kondisi tersebut dianggap sebagai suatu pertempuran menghadapi bencana, dokter dan petugas kesehatan adalah prajurit yang tetap harus berada di garis depan. Dokter dan petugas kesehatan adalah profesi yang paling terancam karena berhadapan langsung dengan pasien Covid-19 dan juga pasien dengan keluhan lain seperti trauma, penyakit bawaan, penyakit jantung, stroke, atau yang lainnya yang kemungkinan juga sudah tertular Covid-19. Namun acap kali tidak disadari. Sehingga dalam menjalankan tugas profesinya punya risiko yang membahayakan diri, pasien, keluarga, dan juga sejawat.

Dokter dan petugas kesehatan punya potensi besar tertular maupun sebagai penular. Saat ini sudah banyak seruan dan imbauan bagi para dokter untuk membatasi pelayanan profesinya dengan menunda kasus elektif (kasus yang tidak mendesak untuk ditangani), khususnya yang tidak berat dan tidak mengancam jiwa. Pelayanan diprioritaskan hanya pada kasus gawat darurat. Kondisi itu tidak mengurangi risiko penularan dari pasien ke dokter, pasien ke pasien, dokter ke pasien, dokter ke dokter, dokter ke perawat, dan perawat ke dokter.

Dalam menerima pasien dengan gejala Covid-19, sebenarnya sudah ada protokol yang menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sudah baku. Namun, persediaan APD sangat terbatas dan cenderung kurang, membuat risiko penularan menjadi tinggi.

Contohnya, seorang ibu rumah tangga saat memasak mengalami kecelakaan luka bakar karena tersiram minyak panas. Kemudian dibawa ke UGD (unit gawat darurat). Bisa jadi para dokter dan petugas kesehatan tidak akan menyangka ibu itu juga menderita Covid-19 yang tanpa gejala, tapi bisa menularkan.

Penanganan gawat darurat adalah penyelamatan nyawa dengan berbagai prosedur. Bila tidak disadari, seluruh rangkaian proses penanganan yang melibatkan dokter, perawat, dan petugas lainnya akan menjadi ODP (orang dalam pemantauan). Bila tetap tidak disadari, seluruh petugas akan menjadi penular bagi pasien lainnya yang ditolong berikutnya alias menjadi ODP yang tidak disadari. Tentunya saat pulang ke rumah juga akan berpotensi menjadi penular bagi keluarganya dan seterusnya. Itu bisa terjadi bila APD tidak dapat mencukupi dalam pelayanan kesehatan.

Dilema pada dokter dan petugas kesehatan yang terjadi adalah kewajiban panggilan tugas profesi untuk menolong pasien dengan ancaman tertular yang dapat membuat sakit. Bahkan juga dapat sebagai penular yang mengancam pasiennya, keluarga, dan sejawatnya. Situasi itu menimbulkan rasa saling curiga, jangan-jangan orang di sekitar adalah orang yang tidak bergejala dan bisa menularkan.

Untuk itu, dalam situasi saat ini, di samping upaya pemerintah menyiapkan RS darurat, pusat karantina, kebijakan menjaga jarak, bekerja di rumah (WFH), dan belajar di rumah, poin penting yang diharapkan bagi dokter dan petugas kesehatan lain adalah sarana deteksi yang memadai dan APD yang tersedia serta mencukupi di samping upaya mandiri menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas dirinya. Sehingga pelayanan kesehatan yang sangat diperlukan saat ini secara umum, baik untuk pasien Covid-19 maupun penyakit lainnya, dapat berjalan dengan baik.

Pola pengaturan tenaga cadangan dokter dan petugas kesehatan juga perlu dilakukan agar bila dalam suatu sistem pelayanan yang bertugas ada yang terduga tertular atau ODP, akan segera digantikan dengan tim cadangan yang stand by di rumah. Kita tidak tahu bencana itu sampai kapan. Semoga bencana tersebut cepat berlalu. (*)


*) David S. Perdanakusuma, Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads