alexametrics

Menjaga Momentum Pertumbuhan

Oleh Ryan Kiryanto, Chief Economist BNI
26 Februari 2019, 14:55:47 WIB

JawaPos.com – Memasuki 2019, kalangan pelaku usaha dan industri perbankan terus mencermati ke mana arah gerak atau stance dari kebijakan moneter yang akan dirilis Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter. Pada 2018, bank sentral Indonesia dengan cukup agresif menaikkan suku bunga acuan.

Suku bunga kebijakan yang dikenal dengan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) naik sebanyak 175 basis poin dari Mei 2018 hingga akhir 2018.

Kebijakan moneter BI yang cenderung ketat pada 2018 memang harus dilakukan sejalan dengan agresifnya bank sentral Amerika Serikat. The Federal Reserve Bank (The Fed) menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin ke level 2,25-2,5 persen untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi yang melaju tinggi serta inflasi yang juga mendekati titik puncaknya di level 2 persen.

Langkah The Fed tersebut diikuti oleh bank-bank sentral negara lain. Sebab, jika tidak dilakukan penyesuaian suku bunga acuan, dikhawatirkan mata uang negara-negara berkembang (emerging economies) terdepresiasi terhadap dolar AS.

Faktanya memang demikian. Mata uang kawasan Asia, termasuk rupiah, tergerus cukup dalam pasca kenaikan Fed fund rate (FFR) yang tajam di 2018. Bahkan, posisi kurs rupiah sempat menembus level Rp 15.000 per dolar AS.

Arah Kebijakan Moneter 2019

Menarik untuk mencermati stance kebijakan moneter BI tahun ini, apakah masih cenderung ketat (hawkish) seperti 2018 atau mulai melonggar (dovish) sebagaimana sudah dilakukan sejumlah bank sentral di dunia. Jika menilik keputusan rapat dewan gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada 21 Februari 2019, kesan stance kebijakan bank sentral yang cenderung hawksih masih terasa.

Sebelum RDG BI dilakukan, saya sudah memperkirakan bahwa BI7DRR akan ditahan di level 6 persen seperti level sebelumnya. Alasannya, mempertimbangkan kondisi makroekonomi domestik yang relatif stabil dan positif berdasar capaian kinerja 2018.

Perkiraan saya itu juga mengacu pada stance kebijakan BI dan pemerintah (Kementerian Ke­uangan) yang senada, yaitu stability overgrowth. Artinya, untuk 2019, spirit BI dan pemerintah adalah mendahulukan stabilitas seraya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Bahkan, jika melihat arah inflasi yang melandai seiring penurunan harga bahan bakar minyak (BBM), termasuk avtur, juga penurunan tarif listrik golongan bawah (900 dan 1.200 VA), sebenarnya BI punya dua pilihan. Yaitu, antara menahan BI7DRR di level 6 persen atau menurunkan 25 bps menjadi 5,75 persen. Namun, pilihan paling rasional dan strategis untuk jangka pendek adalah BI tetap menahan BI7DRR di level 6 persen untuk memprioritaskan stabilitas seraya menjaga momentum pertumbuhan.

Sebab lain, tensi ketegangan AS vs Tiongkok terkait trade war belum mereda. Isu Brexit juga masih menghantui perekonomian global sehingga berpotensi mengganggu pasar keuangan domestik.

Sesuai dengan perkiraan saya, RDG BI 21 Februari 2019 memutuskan mempertahankan BI7DRR di level 6 persen dengan deposit facility rate tetap 5,25 persen dan lending facility rate juga tetap 6,75 persen. Setidaknya, ada beberapa pertimbangan RDG BI memutuskan kebijakan yang cenderung melonggar atau dovish tersebut.

Pertama, karena faktor perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia meskipun ketidakpastian pasar keuangan global sudah berkurang. Ekonomi AS diperkirakan melambat tahun ini sebagai efek negatif perang dagang dengan Tiongkok yang merembet ke negara-negara Eropa dan Asia.

Kedua, pertumbuhan ekonomi domestik yang stabil di kisaran 5,17 persen tahun lalu tetap membutuhkan stimulus untuk terus terjaga sejalan dengan momentum yang tepat saat ini. Ketiga, neraca pembayaran Indonesia (NPI) membaik untuk menahan tekanan sektor eksternal. Dengan menahan BI7DRR, diharapkan NPI tetap terjaga pada batas aman dan sehat sekaligus menjaga posisi CAD tetap di bawah 3 persen dari PDB sebagai ambang batas aman.

Logikanya, dengan ditahannya BI7DRR, capital inflows akan meningkat sehingga bisa memperbaiki NPI dan CAD sekaligus. Itu sudah tecermin dari neraca finansial yang meningkat dan terkonfirmasi dari kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) serta apresiasi rupiah ke kisaran Rp 14.000 per dolar AS.

Keempat, di awal 2019, posisi rupiah relatif menguat stabil karena capital inflows yang makin kencang. Valuasi aset dalam rupiah juga akan meningkat seiring dengan terjaganya fundamental ekonomi domestik. Di saat bank-bank sentral negara lain berkecenderungan menurunkan suku bunga acuannya, posisi BI7DRR saat ini masih menarik di mata foreign investors.

Kelima, laju inflasi yang rendah di bawah jangkar yang 3,5 persen atau tepatnya 2,82 persen (YoY) per Januari 2019. Serta, keenam, stabilitas sistem keuangan (SSK) terjaga dengan baik dan solid disertai fungsi intermediasi perbankan yang membaik serta risiko kredit yang terkelola dengan baik pula.

Kesimpulannya, kombinasi faktor eksternal yang mereda dengan faktor domestik yang terkelola dengan baik memberikan sentimen positif bagi BI menahan BI7DRR tetap di level 6 persen. Keputusan itu tentu positif, baik bagi sektor perbankan maupun sektor riil, dalam menjalani kuartal pertama 2019 dan kuartal-kuartal berikutnya. Perbankan tetap akan ekspansi kredit dan sektor riil juga akan ekspansi bisnis di tahun politik yang prospektif sekaligus menantang ini.

Buktinya, secara umum kinerja industri perbankan 2018 mencapai level yang baik. Indikatornya bisa dilihat dari pertumbuhan total aset, total profit, total dana pihak ketiga (DPK), dan total kredit diberikan. Juga, dari rasio-rasio keuangan pokok yang juga terjaga dengan bagus, yaitu CAR tinggi, LDR tinggi, ROA dan ROE juga tinggi. Hanya rasio NIM yang tertekan karena kenaikan funding rate lebih cepat ketimbang kenaikan lending rate.

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga memberikan evaluasi. Kondisi perbankan Indonesia secara umum tetap terjaga dengan baik, solid, dan sehat. Khusus pertumbuhan total aset didorong oleh pertumbuhan kredit yang double digit (11,75 persen), sedangkan pertumbuhan DPK hanya 6,5 persen. Yang menggembirakan, kualitas aset pun terjaga dengan baik. Posisi NPL netto berada di bawah 1 persen. Intinya, kinerja dan daya tahan perbankan Indonesia selama 2018 terbilang baik di tengah tekanan eksternal dan pertumbuhan ekonomi domestik yang relatif stabil 5,17 persen.

Jika demikian halnya, stance kebijakan moneter BI 2019, tampaknya, bakal cenderung melonggar secara terukur dengan tetap mewaspadai tekanan eksternal yang masih membayangi. Kombinasi antara kebijakan moneter yang semi hawkish dan kebijakan makroprudensial yang pure dovish mengiringi aktivitas ekonomi, investasi, dan perbankan di Tahun Babi Tanah saat ini. (*)

Editor : Ilham Safutra

Copy Editor :

Menjaga Momentum Pertumbuhan