alexametrics

Mencermati Status Kesehatan Jemaah Haji

Oleh ARI BASKORO *)
25 Juli 2022, 19:48:08 WIB

PUNCAK ibadah haji 2022 telah dilalui. Secara bertahap, para jemaah haji kembali ke tanah air. Evaluasi perlu dilakukan guna perbaikan pada penyelenggaraan haji berikutnya.

Menurut data sistem informasi dan komputerisasi haji terpadu (siskohat), tercatat sebanyak 67 jemaah haji telah wafat. Perhitungan tersebut dilaporkan hingga 22 Juli 2022. Apabila diperbandingkan, terjadi penurunan angka kematian jemaah pada penyelenggaraan haji tahun ini. Pada 2019, sebelum terjadi pandemi, ada 341 jemaah yang wafat. Saat itu Indonesia mengirimkan 214.000 jemaah. Dua tahun sebelumnya, secara berturut-turut jemaah haji yang wafat sebanyak 508 orang (2017) dan 263 orang (2018).

Menurut data statistik Arab Saudi, dari 2002 hingga 2015, sebanyak 90.276 jemaah meninggal. Data tersebut berasal dari 100 negara di seluruh dunia. Negara kita disebut-sebut selalu mendominasi jumlah kematian tertinggi selama kurun waktu 15 tahun terakhir. Kontribusi angka kematiannya berfluktuasi dari tahun ke tahun. Rata-rata 300–400 per tahun. Jumlah itu setara dengan dua per mil jemaah.

Mayoritas kematian terjadi pada jemaah haji yang berusia lebih dari 60 tahun (lansia). Laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) selalu mendominasi sebagai penyebab kematiannya. Data sementara dari penyelenggaraan haji 2022, diperoleh hasil yang juga senada.

Negara kita tampaknya belum dapat secara optimal menekan angka kematian, sebagaimana negara lainnya. Misalnya, India dengan angka kematian ’’hanya” satu per mil. Demikian juga persentase angka kematian jemaah haji yang berasal dari Turki dan Iran, selalu lebih rendah daripada Indonesia. Pada periode waktu yang sama, jemaah haji Malaysia yang wafat hanya mencapai 0,3 per mil.

Evaluasi Penyelenggaraan Haji 2022

Laporan sementara menyatakan, mayoritas angka kematian terjadi pada jemaah yang berusia 55–60 tahun. Laki-laki masih tetap menduduki porsi terbesar. Penurunan angka kematian jemaah haji tahun ini sebenarnya lebih banyak terkait aturan pembatasan usia jemaah yang diberangkatkan. Calon jemaah yang telah berusia lebih dari 65 tahun batal diberangkatkan. Hal itu berdasar pedoman yang dikeluarkan otoritas Arab Saudi.

Padahal, pada 2019 sebanyak 63 persen jemaah haji Indonesia berusia di atas 65 tahun. Kuota haji pun berbeda jauh dengan tahun sebelumnya. Alokasinya pada tahun ini telah dipangkas hingga tidak sampai mencapai separonya saja bila dibandingkan 2019. Total ’’hanya” 100.051 jemaah yang akhirnya bisa diberangkatkan. Adanya dua variabel (aturan batas usia dan kuota) tersebut berkontribusi menekan jumlah jemaah haji yang wafat.

Malaysia juga berhasil dengan baik menekan jumlah kematian jemaah hajinya. Pada tahun ini, tercatat hanya satu jemaah haji asal negeri jiran yang wafat. Negara tetangga kita tersebut mengirimkan 14 ribu jemaah pada tahun ini. Mereka dipastikan dalam keadaan benar-benar sehat saat diberangkatkan. Artinya, jemaah yang memiliki kondisi komorbid telah terkendali secara optimal. Skriningnya pun bisa dikategorikan sangat teliti. Termasuk di antaranya aspek berat badan atau body mass index/BMI (Jawa Pos, 23 Juli 2022).

Pembinaan Kesehatan Haji

Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 15 Tahun 2016 merupakan landasan pembinaan kesehatan haji. Tujuannya, memberikan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan terhadap jemaah haji. Ibadah haji merupakan rukun Islam dan wajib bagi umat yang mampu. Mampu atau istitaah bukan hanya dari sisi ekonomi dan agama. Aspek kesehatan juga harus menjadi persyaratan.

Pelaksanaan seluruh rangkaian rukun haji memerlukan modal kesehatan fisik dan mental yang prima. Karena itu, diperlukan kewajiban bersama antara pemerintah, jemaah haji, dan masyarakat. Semuanya demi mewujudkan istitaah kesehatan haji. Program pemeriksaan dan pembinaan kesehatan haji harus dilakukan sejak calon jemaah haji (CJH) mendaftarkan diri.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: