Waspada Serangan Jamur Hitam

Oleh ARI BASKORO *)
25 Mei 2021, 19:48:56 WIB

DUNIA dikejutkan berita serangan jamur hitam yang melanda India. Bak sudah jatuh tertimpa tangga. Negeri Bollywood itu sudah terengah-engah menghadapi badai tsunami Covid-19 yang bergelombang. Kini mereka dihadapkan pada suatu kenyataan munculnya kejadian luar biasa (KLB) penyakit infeksi yang diakibatkan oleh jamur hitam, khususnya pada orang-orang yang mengidap Covid-19.

Kementerian Kesehatan India menyatakan, ribuan kasus di beberapa kota dari negara Barata itu teridentifikasi mengalami mucormycosis, nama penyakit yang disebabkan jamur hitam tersebut. Penyakit infeksi jamur yang relatif sangat jarang terjadi itu sebenarnya bukanlah hal yang baru di dunia medis. Namun, peningkatan insiden yang begitu pesatnya tentulah memerlukan penjelasan-penjelasan yang rasional.

Sesuai namanya, disebut jamur hitam karena pada suatu fase perkembangan penyakitnya, penderita yang mengalami serangan infeksi dengan jamur tersebut akan mengeluarkan cairan berwarna kehitaman. Terutama pada kasus-kasus yang menyerang area wajah, sinus-sinus sekitar hidung, mata, dan selanjutnya akan mengalami akibat yang sangat fatal bila berkembang progresif hingga menyerang susunan saraf pusat (SSP) atau otak. Organ-organ lain yang potensial mengalami dampak buruk akibat infeksi jamur yang menyebar melalui aliran darah adalah paru, kulit, limpa, jantung, saluran pencernaan, serta organ-organ tubuh lainnya.

Penyakit jamur yang sangat serius dan potensial berakibat fatal itu memiliki dampak mortalitas yang tinggi. Diperlukan penanganan spesialistis dengan obat-obatan yang sangat terbatas dan dengan harga obat yang relatif mahal. Tidak jarang, diperlukan tindakan operatif pada organ-organ tubuh yang terlibat, seperti pengambilan bola mata yang mengalami infeksi berat.

Penyebab infeksi jamur hitam adalah golongan jamur yang dinamakan mucormycetes. Ia berada di sekitar lingkungan hidup manusia, terutama tanah, tanaman, bahan organik yang membusuk, tumpukan kompos, dinding yang lembap, bangunan tua, serta lebih dominan pada daerah/kota-kota yang memiliki kualitas udara yang buruk dan berdebu.

Spora jamur yang tumbuh subur pada tempat-tempat tersebut, bila terhirup oleh orang-orang yang memiliki sistem imunitas buruk seperti pasien-pasien Covid-19, akan tumbuh menjadi jamur pada organ-organ tubuh yang terkena. Dampaknya sangat mematikan. Lingkungan rumah sakit juga dapat ’’menyimpan” spora jamur tersebut seperti sistem ventilasi dan pencahayaan yang kurang memadai, seprai, selimut, atau taplak meja yang berdebu dan kurang terpelihara kebersihannya.

Sistem Kekebalan Tubuh

Dalam kondisi normal, artinya bila seseorang tidak sedang mengalami defisiensi sistem imunitas, jamur hitam itu jarang menimbulkan manifestasi penyakit. Namun pada kondisi tertentu yang dalam bidang medis disebut predisposisi, jamur hitam bisa sangat berbahaya. Misalnya, pada penderita Covid-19 dan penyintasnya, terutama long Covid-19. Juga pada penderita HIV/AIDS, kencing manis (terutama pada penyandang diabetes yang gula darahnya tidak terkendali dengan baik), kanker (seperti kanker kelenjar getah bening), gagal ginjal, serta individu dengan cangkok jaringan/organ (misalnya cangkok ginjal atau lever).

Kondisi yang sama bisa terjadi pada penderita penyakit sirosis hati (lever cirrhosis), penyakit akibat malanutrisi, serta penggunaan obat-obat tertentu yang dapat menekan sistem imun seperti penggunaan steroid yang tidak atas indikasi medis atau tidak terkontrol dengan baik.

Covid-19 yang menimbulkan manifestasi klinis yang berat, bahkan berakhir dengan kematian, bukan akibat aktivitas virus yang berkembang hebat. Namun, lebih disebabkan laju inflamasi/peradangan yang tidak terkendali sebagai respons imunitas tubuh terhadap invasi virus. Inflamasi yang sangat berlebihan dan tidak terkontrol itu (hiperinflamasi) dalam istilah medis disebut ’’badai sitokin”. Bisa menimbulkan kegagalan fungsi organ-organ tubuh yang penting, termasuk terjadinya gagal napas yang sering menjadi biang penyebab kematian.

Saat ini pengobatan standar yang biasa dilakukan para dokter pada keadaan kritis adalah penggunaan alat bantu pernapasan (ventilator) atau obat-obatan anti peradangan yang sangat kuat seperti kortikosteroid (contohnya dexamethason). Tentu saja bila jamur hitam menyertai atau bersamaan dengan Covid-19, risiko kematian akan meningkat hingga beberapa kali lipat.

Gejala Klinis

Infeksi jamur hitam menimbulkan gejala dan tanda-tanda yang bervariasi, bergantung bagian tubuh mana yang terlibat. Bila melibatkan jaringan paru, akan terjadi batuk yang berkepanjangan disertai sesak napas. Oleh karena itu, bila terjadi bersamaan dengan Covid-19, sering kali infeksi tumpangan akibat jamur hitam tersebut menjadi relatif sulit diduga. Gejala yang sering terjadi adalah mucormycosis pada area hidung dan sinus. Bisa memberikan manifestasi klinis berupa wajah membengkak pada satu sisi, nyeri kepala, demam, hidung terasa tersumbat, bercak kehitaman pada batang hidung atau bagian dalam atas mulut yang mengeluarkan cairan kehitaman.

Selain itu, bisa timbul gejala saluran cerna berupa nyeri perut, mual, dan muntah-muntah yang disertai darah atau buang air besar yang berwarna kehitaman. Apabila menyebar melalui sirkulasi darah sehingga menyasar ke otak, bisa timbul pembekuan darah, gangguan kesadaran, dan perubahan status mental atau koma.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Covid-19 tidak henti-hentinya memberikan tantangan dan pelajaran tersendiri bagi dunia kedokteran. Termasuk fenomena infeksi tumpangan jamur hitam yang kini melanda India. Situasi geografi yang mungkin tidak jauh berbeda dengan negara kita memberikan semacam peringatan peningkatan kewaspadaan atas peristiwa yang terjadi di India.

Peningkatan insiden infeksi jamur hitam yang menimpa orang-orang dengan sistem imunitas yang kurang sempurna, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bisa dijadikan petunjuk dalam meningkatkan kedisiplinan untuk mengontrol diri dalam berobat agar sistem imunitas lebih terjaga dengan baik.

Baca Juga: Sepuluh Tahun Menikah, Istri Akui Dua Anaknya dari Pria Lain

Kortikosteroid atau obat-obat penekan peradangan yang sangat bermanfaat pada terjadinya ’’badai sitokin” tidak terlepas dari efek seperti pedang bermata dua, satu sisi sangat menguntungkan. Namun, di sisi lain sangat mungkin meningkatkan risiko peningkatan insiden infeksi jamur hitam. (*)


*) Ari Baskoro, Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD dr Soetomo

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: