alexametrics

Mereka Punya Superhero, Kita Punya Jagoan

Oleh JOKO ANWAR, Sutradara, Tengah Menyutradarai ''Gundala''
25 April 2019, 15:36:28 WIB

JawaPos.com – Penikmat film di tanah air tengah dihebohkan oleh rilisan film superhero paling ambisius dari Marvel Cinematic Universe: Avengers: Endgame. Dari judulnya saja, sudah diketahui bahwa ini adalah akhir dari rangkaian kisah Avengers yang dimulai sejak Iron Man pada 2008.

Perjalanan sebelas tahun yang tidak bisa dibilang singkat, tetapi berhasil menunjukkan power-nya sebagai film superhero kelas dunia.

Tak ayal, Avengers pun menjadi salah satu tolok ukur film-film superhero lain dari seluruh dunia. Mereka tidak sendiri. Di sampingnya ada rival yang tidak pernah luput disejajarkan, yaitu DC Universe.

Keduanya sama-sama bermula dari komik yang diterbitkan di Amerika Serikat. Marvel maupun DC kemudian sama-sama menuangkannya ke dalam bentuk film alias cinematic universe yang begitu rumit, tetapi menyenangkan disimak.

Terbukti, jutaan pencinta kisah-kisah superhero dengan setia mengikuti setiap film Marvel maupun DC. Marvel pun nyaris tidak pernah gagal menyabet predikat box office pada rangkaian sekuel film dalam cinematic universe mereka. Rangkaian yang mencapai 21 judul film inilah yang kemudian menjadi fondasi kuat bagi cerita Avengers: Endgame.

Bisa dibilang, Marvel telah berhasil mengawali franchise Avengers dengan sukses lewat Iron Man. Kemudian Captain America, disusul para hero lain seperti Thor, Hulk, Black Panther, Ant Man, hingga yang paling muda tergabung dalam pasukan Avengers: Spider-Man.

Kendati sangat banyak nama yang muncul, Marvel terbukti berhasil memunculkan karakter-karakter yang dicintai penonton. Karena itu, tak heran jika Endgame menjadi penghabisan yang sangat ditunggu di seluruh dunia.

Untuk menghasilkan film kolaborasi berbagai superheroes di seluruh semesta itu, tentu biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Untuk memproduksi Avengers: Endgame, Marvel menghabiskan USD 350 juta hingga USD 400 juta. Kurang lebih setara dengan Rp 4 triliun. Bisakah rumah produksi film lokal kita mendanai film sebegitu besarnya?

Sangat sulit. Pengalaman saya, untuk membuat satu film, anggaran rumah produksi lokal maksimal hanya 0,5 persen dari total bujet film pemungkas MCU tersebut. Atau Rp 20 miliar. Angka itu saja sudah terbilang sangat besar. Rasanya amat sulit jika harus membuat film yang setara dengan kualitas Avengers dari Hollywood. Kebanyakan memang habis untuk pembuatan efek visual alias CGI.

Belum lagi stuntman, lokasi syuting, dan berbagai teknologi editing yang digunakan untuk memoles film-film itu jadi layak tonton. Rumah produksi Indonesia mungkin belum bisa jika harus menyamai kualitas CGI Hollywood yang begitu mulus, nyaris terlihat seperti aslinya itu. Tapi, apakah itu berarti kita tidak bisa membuat film tentang superhero? Tidak juga.

Bagi saya pribadi, alih-alih menyebut film superhero, Indonesia lebih cocok memiliki film jagoan. Marvel banyak mengeksplorasi karakter superhero yang tidak selalu manusia, tetapi superhuman. Ranahnya sudah bukan cuma bumi lagi, tetapi semesta. Musuhnya dari luar bumi. Kekuatannya pun kadang tidak masuk di akal saking hebatnya.

Sementara “hero” di Indonesia punya karakteristik sendiri. Tidak bisa disamakan dengan superhero Marvel atau DC. Jika ingin memproduksi film jagoan, sebaiknya sineas Indonesia lebih mengedepankan tokoh manusia, tetapi punya karakter yang melebihi manusia biasanya. Itu bisa.

Kesannya akan lebih dekat ke penonton. Bagi saya, masyarakat Indonesia butuh sosok karakter jagoan yang tidak cuma hebat. Tetapi juga related dengan mereka.

Saya sendiri tengah dalam produksi film jagoan Gundala. Diambil dari komik jagoan karya almarhum Hasmi yang kali pertama muncul pada 1969, saya yakin Gundala bisa menjadi salah satu tokoh jagoan yang bisa menarik perhatian masyarakat kita. Saya tertarik menyutradarai Gundala karena memang sedari kecil sudah akrab dengan ceritanya. Ada sense of belonging terhadap karakter tersebut.

Sebagai sineas yang mulai merambah film aksi dan jagoan, saya belum melihat adanya tren yang cukup masif untuk jagoan lokal. Kalau dari cerita-cerita komik Marvel dan DC, mungkin sudah terlihat masifnya. Banyak penggemar yang benar-benar setia dengan cerita mereka.

Tapi, sineas juga punya tanggung jawab untuk menghadirkan tokoh-tokoh lokal. Karena Indonesia sendiri sebetulnya punya banyak sosok yang pantas dijadikan jagoan atau hero. Dari karakter-karakter inilah kita juga bisa belajar sesuatu tentang kehidupan.

Bergantung insan film Indonesia, apakah cukup berani untuk mengangkat kisah-kisah jagoan lokal dari komik lawas ke layar lebar. Tapi, sekali lagi, tidak untuk me­nyaingi Marvel dan DC.

Disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Debora Sitanggang

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c5/ttg)