Selamat Datang Vaksin Covid-19 untuk Bayi

Oleh DOMINICUS HUSADA *)
24 Juni 2022, 19:48:22 WIB

AKHIRNYA segmen terakhir vaksin Covid-19 mendapatkan persetujuan darurat dari otoritas di Amerika Serikat. Vaksin ini ditujukan untuk bayi usia 6 bulan hingga 4–5 tahun. Di negeri itu memang izin edar vaksin baru diperoleh untuk usia di atas 4–5 tahun. Kehadiran dua vaksin mRNA membuat hampir seluruh rentang usia manusia telah mempunyai vaksin yang sesuai. Sejauh ini belum muncul keinginan membuat vaksin untuk bayi baru lahir yang secara epidemiologis memang bukan korban serius Covid-19.

Di beberapa negara lain, vaksin sudah digunakan untuk usia 5 tahun ke bawah, namun tidak pada usia bayi. Vaksin Kuba, Soberana, dipakai mulai usia 2 tahun. Dua vaksin inaktif Tiongkok, yaitu Sinovac dan Sinopharm, mendapatkan izin untuk kelompok 3 tahun ke atas di banyak negara, terutama di Amerika Selatan.

Di India, vaksin Covaxin telah memublikasikan hasil penelitian pada usia 2–18 tahun. Vaksin ini sudah memperoleh izin untuk kelompok di atas 5 tahun sebelumnya.

Vaksin Comirnaty milik Pfizer-BioNTech sebenarnya sudah mengajukan permohonan lisensi beberapa bulan yang lalu setelah menyelesaikan dua kali suntikan pada bayi hingga usia 4 tahun sejumlah hampir 2.000 subjek. Otoritas di AS tidak menyetujui permohonan tersebut mengingat hasil yang didapat dari dua kali suntikan tidak cukup baik. Peneliti berargumen bahwa nanti setelah diberikan ulangan vaksin sekali lagi, imunitas akan meningkat tinggi dan hasil efikasi diperkirakan sebaik kelompok remaja.

FDA kemudian mempersilakan peneliti melanjutkan suntikan ketiga dan melaporkan kembali hasil uji klinis setelah data yang lebih lengkap tersedia. Saat ini izin edar pada usia 6 bulan hingga 4 tahun diberikan untuk tiga kali vaksinasi dengan dosis 3 ug yang hanya sepersepuluh kali dosis dewasa. Efikasi pada uji klinis vaksin Comirnaty adalah 80 persen.

Vaksin Spikevax milik Moderna menjalani uji klinis secara paralel pada rentang usia 6 bulan hingga 17 tahun dengan dosis yang beragam sesuai kelompok usia penerima. Untuk lebih dari lima ribu bayi dan anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, Moderna menggunakan dosis 25 ug atau seperempat dosis dewasa dan vaksin diberikan dua kali. Uji klinis berpatokan pada tingkat kekebalan yang dihasilkan yang dibuktikan setara dengan kelompok dewasa muda. Kesetaraan ini dianggap bisa juga menggantikan data efikasi yang kadang pada kelompok anak relatif lebih sulit dievaluasi. Data efikasi Moderna pada usia 6–23 bulan dan 24–59 bulan pada uji klinis tersebut sebenarnya hanya 50,6 dan 36,8 persen jika dihitung dalam konteks pencegahan penularan.

Dari segi keamanan, kedua vaksin terbukti aman dengan keluhan terbanyak berupa nyeri, kemerahan, bengkak, dan demam. Secara umum, aspek keamanan setara dengan kelompok usia di atasnya. Penerima vaksin Moderna tentu tahu bahwa keluhan pada penerima Moderna lebih sering dijumpai dibandingkan penerima vaksin Pfizer. Hal ini sebenarnya bisa dipahami mengingat dosis Moderna pada orang dewasa bisa mencapai tiga kali lipat dosis vaksin Pfizer.

Vaksinasi Covid-19 di Indonesia

Sementara sebagian negara telah melakukan vaksinasi Covid-19 pada usia 5 tahun ke bawah, Indonesia dan mayoritas negara lain belum membuat keputusan. Belajar dari pengalaman sebelumnya, Indonesia tidak akan lama menunggu untuk memutuskan melakukan imunisasi pada bayi. Karena di luar kedua vaksin mRNA belum ada yang tersedia untuk bayi, jika memang keputusan disetujui oleh Kemenkes, pilihan vaksin untuk usia 6–23 bulan adalah hanya Comirnaty dan Spikevax. Sesuai peraturan lokal, sebelum diedarkan, vaksin mutlak perlu mendapatkan persetujuan dari BPOM.

Tidak semua negara setuju untuk memberikan vaksin pada anak yang sangat muda karena beberapa alasan. Jumlah subjek uji klinis pada anak relatif sedikit dibandingkan dewasa sehingga ada kemungkinan beberapa efek simpang yang lebih jarang tidak akan muncul saat uji klinis dilakukan. Keradangan jantung yang terjadi pada remaja penerima vaksin mRNA adalah contoh dan hingga saat ini juga sedang dicermati pada kelompok usia anak dan bayi.

Alasan lain adalah urutan prioritas bagi negara yang belum dapat memperoleh vaksin dalam jumlah memadai. Bagaimanapun, jumlah kasus dan kematian jauh lebih menonjol pada kelompok tua.

Setelah semua kelompok umur kecuali bayi baru lahir telah mempunyai vaksin yang sesuai, pekerjaan rumah bagi para peneliti berkurang satu. Fokus bisa diarahkan pada persoalan selanjutnya yang terus menghantui, terutama menyangkut keragaman varian yang bisa melarikan diri dari sistem imun manusia.

Upaya mengubah isi dan desain virus dalam vaksin hanya dimungkinkan pada vaksin mRNA dan tidak mungkin dilakukan pada vaksin jenis lain. Selain itu, kecepatan penurunan sistem kekebalan setelah vaksinasi selesai masih memusingkan. Pekerjaan rumah ketiga adalah pengumpulan data yang lebih lengkap pada kelompok bayi dan anak. Sejauh ini, pengetahuan para ahli untuk dua rentang usia tersebut masih sangat minim.

Sekalipun di berbagai negara angka kejadian Covid-19 saat ini melandai, ada sejumlah negara yang belum berhasil mengatasi masalah mereka dengan memuaskan. WHO belum akan melepas status pandemi dalam waktu dekat.

Upaya pencegahan serta penanggulangan lain melalui berbagai lapis, termasuk imunisasi, jelas belum dapat dihentikan. Sudah selayaknya kita semua tetap waspada, tidak lengah, namun tidak perlu panik. Pada akhirnya, kita yakin memang semua di dunia ini akan berakhir juga. (*)

*) DOMINICUS HUSADA, Konsultan infeksi anak FK Unair/RSUD dr Soetomo Surabaya, anggota tim vaksin Covid-19 Universitas Airlangga, sekretaris Komda KIPI Jawa Timur

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: