alexametrics

Reformasi dan Kualitas Demokrasi

*oleh:Dr Taufan Hunneman
24 Mei 2022, 22:30:15 WIB

Peringatan 24 tahun reformasi tahun ini, ditandai dengan peristiwa menarik, yakni kemenangan Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr sebagai Presiden Filipina. Tampak sebuah anomali, reformasi di Indonesia ditandai dengan kejatuhan Soeharto, yang dikenal otoriter saat berkuasa.(1966-1998), sementara di negara tetangga, anak seorang diktator (Marcos senior) justru terpilih sebagai presiden.

Sungguh sebuah ujian bagi demokrasi, mengingat kita tidak pernah membayangkan, bahwa anak-cucu Soeharto akan kembali berkuasa di negeri ini. Demokrasi pada dasarnya memang memiliki gagasan menciptakan sirkulasi elite secara adil, mungkin itulah yang terjadi di Filipina saat ini. Indonesia sebagai negara demokrasi besar, sesuai prinsip demokrasi, layak menyambut gembira siapa pun yang menjadi pilihan rakyat Filipina.

Pelajaran yang bisa kita petik adalah, sudah sepantasnya negara-negara demokratis tidak pernah puas, dan terus meningkatkan kualitas demokrasinya. Seperti baru saja terjadi di Australia, berkat demokrasi, kelompok politisi yang pro-lingkungan, yaitu Partai Buruh, bisa memenangkan pemilihan umum (pemilu). Ini semacam sinyal, rakyat mulai peduli pada isu lingkungan dan perubahan iklim (climate change), untuk mewujudkan masa depan planet Bumi yang lebih baik.

Kontribusi generasi 1998
Demokrasi tak bisa menjamin senantiasa menghasilkan pemimpin yang ideal, kira-kira situasi seperti itulah yang baru saja di Filipina. Namun demokrasi yang berkualitas, dapat memastikan perimbangan dan koreksi senantiasa terjadi. Pada titik ini aktivis generasi 1998 bisa memberikan kontribusinya, untuk membangun demokrasi berkualitas, dan berlanjut pada kesejahteraan rakyat secara menyeluruh.

Rasanya sudah tiba waktunya bagi Generasi 98 untuk tampil di level lebih tinggi dalam politik nasional. Bila kita bandingkan dengan Generasi 66, tampilnya Generasi 98 terhitung terlambat. Pada tahun 1978, Abdul Gafur sebagai eksponen Generasi 66 sudah masuk kabinet sebagai Menteri Pemuda (setara Menteri Pemuda dan Olahraga sekarang). Jadi hanya butuh waktu 12 tahun untuk masuk lingkaran dalam kekuasaan.

Begitulah tradisi politik yang selama ini berlaku, komunitas aktivis selalu mendapat ruang pengabdian, baik di pemerintahan maupun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Sedikit berbeda bagi Generasi 74 dan Generasi 78, tokoh sentral mereka tidak sempat muncul menjadi menteri, mungkin karena momentumnya sudah lewat, mengingat Rezim Orde Baru berkuasa demikian lama.

Editor : Dimas Ryandi

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads