alexametrics

Bulan Suci, Sedentari, dan Ironi Pola Konsumsi

Oleh SUNARDI SISWODIHARJO *)
24 April 2021, 20:24:00 WIB

SUDAH lebih dari sepekan umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadan 1442 H. Banyak ritual yang selalu dilakukan selama bulan puasa ini. Mulai sahur, tadarus Alquran, Tarawih, hingga ibadah-ibadah lainnya. Banyak pula nilai mulia yang bisa diambil selama pelaksanaan ibadah puasa. Di antaranya, nilai tentang kesabaran, kejujuran, kerja keras, kerja produktif, tidak makan berlebihan, dan rasa syukur terhadap nikmat sehat dan waktu luang. ”Ada dua kenikmatan di mana banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang (HR Bukhari dari Ibnu Abbas).”

Namun, tidak semua orang yang menjalankan ibadah puasa mampu menuai nilai-nilai mulia tersebut. Bahkan, sebagian justru menunjukkan perilaku dengan nilai yang berkebalikan. Paling tidak ada dua perilaku sebagai paradoks bulan suci Ramadan yang bahkan bisa merusak nilai-nilai ibadah puasa.

Pertama, perilaku sedentari. Perilaku ini mengacu pada kebiasaan orang-orang yang bermalas-malasan, termasuk malas gerak atau lebih populer disebut mager. Wujud lain perilaku ini banyak sekali. Misalnya, saat kita sedang rebahan, bersosialisasi, menonton televisi, bermain video game, dan menggunakan gawai atau komputer hampir sepanjang hari. Kebanyakan dari perilaku seperti ini tentu sangat tidak produktif dan tidak sehat.

Sedentari juga sangat lazim terjadi saat pandemi, di mana kerja dilakukan dari rumah atau WFH (work from home). Kegiatan seperti jalan kaki atau bahkan berlari menjadi relatif sangat sedikit. Maka, tidak mengherankan bila kita mendapati orang-orang yang naik berat badannya bahkan setelah sebulan penuh berpuasa. Hal ini salah satunya disebabkan penumpukan kalori karena perilaku sedentari dengan alasan sedang berpuasa.

Disebut dengan perilaku sedentari jika mengacu pada segala jenis aktivitas yang dilakukan di luar waktu istirahat atau tidur saat pengeluaran energinya sangat rendah. Hal ini dapat dinilai dari tingkat MET’s (metabolic equivalents), yaitu kurang dari 1,5 MET’s, sebuah angka yang berada di bawah intensitas aktivitas fisik yang rendah.

Data yang ada mengonfirmasi kondisi perilaku sedentari di atas. Misalnya, hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018. Modul sosial, budaya, dan pendidikan menyebutkan bahwa sangat sedikit penduduk Indonesia yang melakukan olahraga lebih dari 120 menit per minggu, yaitu hanya 2,59 persen. Hal ini juga yang diduga menjadi salah satu penyebab meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia sesuai hasil Riset Kesehatan Dasar 2018. Bahkan, saat ini PTM juga mulai menjangkiti usia 15–24 tahun atau usia remaja. WHO pada 2020 merilis data bahwa 80 persen remaja kurang dalam melakukan aktivitas fisik.

Sejatinya, selama melaksanakan ibadah puasa, kita tetap bisa melakukan aktivitas fisik yang termasuk kategori NEAT (non-exercise activity thermogenesis) movement. Misalnya, menyapu, membersihkan lantai, jalan santai, berkebun, dan memasak. Olahraga saat puasa juga boleh dilakukan. Hanya, waktu dan intensitasnya harus diatur agar tidak mengakibatkan dehidrasi dan membahayakan kesehatan.

Menjelang waktu berbuka puasa, kita boleh melakukan LISS (low intensity steady state) movement. Yaitu, olahraga intensitas rendah dengan durasi cukup panjang (45–60 menit). Misalnya, joging, jalan cepat, atau gowes santai. Sementara itu, olahraga dengan intensitas tinggi atau HIIT (high intensity interval training) dianjurkan hanya dilakukan setelah aktivitas berbuka puasa. Misalnya, lari, lompat tali, squat jump, atau angkat beban dengan durasi 10–30 menit. Meskipun durasi HIIT lebih pendek, manfaatnya dua kali LISS.

Perilaku kedua yang menjadi paradoks Ramadan adalah ironi pola konsumsi di kala berbuka puasa atau sahur yang berlebihan. Akibatnya, terjadi surplus kalori dan orang menjadi terlalu kenyang. Paling sering terjadi saat berbuka puasa, di mana hormon grelin sedang tinggi-tingginya di dalam tubuh kita.

Saat berpuasa, orang memang dikondisikan untuk melupakan makan. Saat itu tubuh akan menciptakan mekanisme alami untuk meningkatkan rasa lapar. Saat inilah tubuh meningkatkan produksi hormon grelin, sebuah hormon yang digunakan tubuh untuk mengirim sinyal ke otak untuk menaikkan nafsu makan.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads