alexametrics

Korona dan Pertumbuhan Ekonomi

Oleh PROF BAMBANG SETIAJI*
24 Maret 2020, 13:16:53 WIB

PERKEMBANGAN pandemi virus korona yang begitu cepat mengglobal dibayangi dengan datangnya resesi ekonomi. Resesi dipicu lockdown, penutupan berbagai tempat wisata, serta menurunnya perjalanan di sektor turisme dan sektor perdagangan.

Industri yang pertama terpukul tentu saja transportasi, perhotelan, restoran, dan industri suvenir. Putaran berikutnya adalah para supplier, baik besar maupun kecil.

Langkah-langkah untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal dan moneter konvensional seperti menurunkan pajak dan suku bunga mungkin tidak banyak menolong. Penurunan pajak tentu saja mengurangi arus masuk pendapatan pemerintah yang sebelum kasus itu saja kurang menggembirakan. Penurunan suku bunga belum tentu direspons dengan meningkatnya pertumbuhan melalui investasi atau penjualan kredit, tetapi bisa sebaliknya, mendorong spekulasi.

Performa neraca perdagangan tentu saja menurun karena salah satu komponennya adalah pergerakan manusia lintas negara. Di samping itu, harga komoditas andalan, terutama batu bara, merosot tajam.

Indonesia sangat terlambat mengumumkan keberadaan Covid-19 setelah dunia meragukannya. Para juru bicara pemerintah memberikan alasan yang kurang masuk akal seperti virus tidak bisa hidup di daerah tropis. Padahal, Singapura dan Malaysia mengalaminya.

Penjelasan yang kurang masuk akal akan direspons dengan langkah yang sebaliknya, menimbulkan kepanikan. Penjelasan yang tidak masuk akal akan menyebabkan masyarakat seperti sedang bermain catur dengan pemerintah. Yaitu, menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi dan membuat langkah-langkah sendiri.

Keadaan itu sangat tidak baik bagi pasar modal. Saham dan nilai rupiah terbukti turun signifikan.

Mendewakan Pertumbuhan Ekonomi

Mendewakan pertumbuhan ekonomi sangat kelihatan akhir-akhir ini, ketika pertumbuhan ekonomi masuk dalam debat politik dan menjadi perdebatan di media sosial yang luar biasa di sekitar pemilu. Pemerintah menjadi sangat tertekan apabila ekonomi tidak tumbuh tinggi di atas 5 persen.

Wacana pertumbuhan itu terpaku pada angka statistik, apakah tumbuh 5,2; 5,1; atau 5 koma sekian. Sedangkan debat soal pertumbuhan dan pembangunan yang lebih bermakna menghilang dari arus wacana publik. Perdebatan menjadi sangat teknis antara besaran di belakang koma dari angka 5.

Wacana dalam ekonomi pembangunan sebagai antitesis pertumbuhan lebih bermakna secara konseptual dan lebih humanistis. Misalnya, memperdebatkan siapa yang tumbuh, di mana, dan untuk apa pertumbuhan itu. Ekonomi yang tumbuh dipersentil dengan tidak ada gunanya karena kebutuhan primer, sekunder, tersier, dan derajat berapa pun sudah terpenuhi, nilai marginal dari pertambahan kekayaan sudah sangat rendah bagi kelompok teratas. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi akan sangat bermakna jika yang tumbuh adalah kelompok bawah, misalnya 40 persen terbawah. Pertumbuhan ekonomi akan berwujud perbaikan pendapatan bagi kelompok miskin.

Di sinilah konsep pembangunan ekonomi bekerja, yaitu konsep di mana pertumbuhan ekonomi harus berdampak positif terhadap kelompok bawah. Konsep pertumbuhan versus pemerataan dan kelestarian sumber alam masih lebih unggul dan memberikan kepuasan intelektual dan kemanusiaan.

Pertumbuhan ekonomi yang bertujuan untuk prestasi statistik dan angka-angka, pertumbuhan teknis semata untuk lolos dari ukuran kinerja politik sebenarnya tidak berguna.

Kerangka kerja atau rezim pertumbuhan ekonomi itulah yang tampaknya mendorong pemerintah Indonesia terlambat mengumumkan keberadaan Covid-19. Bahkan ingin mengambil kesempatan dalam kesempitannya. Di saat negara lain meliburkan sekolah dan melarang kerumunan, bahkan Saudi dengan berani melarang umrah yang merupakan ibadah suci, pemerintah memberi insentif wisata, subsidi tiket, dan hotel. Wisata adalah salah satu kerumunan yang sangat sulit menghindari persebaran virus.

Pendek kata, skenario mengambil kesempatan dalam kesempitan Covid-19 adalah naif. Wisata yang didorong justru menjadi salah satu sebab berkembangnya virus.

Lockdown Nasional Memberi Istirahat Bumi

Libur nasional 4 minggu atau 2 kali masa inkubasi adalah proposal terbaik untuk menekan perkembangan virus. Jika seluruh negara meliburkan kegiatan ekonomi empat minggu, transmisi antarmanusia langsung berhenti. Untuk libur empat minggu, tentu saja ada hitung-hitungannya dalam pertumbuhan ekonomi. Tetapi, itu masih lebih optimal daripada pertumbuhan yang menurun tidak menentu, bahkan lama. Lebih baik berhenti sebentar dan segera bangkit lagi.

Dengan libur empat minggu dan dianjurkan tinggal di rumah, negara juga harus menyetop sementara salah satu atau beberapa proyek pembangunan yang menggunakan dana besar untuk dialihkan membeli pangan berprotein tinggi dan dibagikan kepada rakyat terbawah yang terdampak lockdown. Empat minggu itu adalah saatnya bersedekah nasional kepada rakyat terbawah yang puluhan tahun hidup pas-pasan, menjadi roda-roda pembangunan dengan bersedia dibayar murah sebagai sumber daya saing negara.

Kelompok menengah dan atas selama libur panjang hendaknya membeli protein penangkal virus dengan uangnya sendiri. Mereka menikmati pemotongan pajak karena pendapatan berada pada wilayah kena pajak. Sedangkan si miskin yang terdampak lockdown selama ini sudah bebas pajak. Mengandalkan kebijakan konvensional moneter dan fiskal sering kali memperparah ketidakadilan.

Empat minggu itu juga sangat bermakna bagi bumi. Memberi jeda dari pengerukan energi dan sumber-sumber lainnya yang tidak pernah henti. Wacana pembangunan, di samping selaras dengan nasib rakyat bawah atau ”wong cilik”, juga selaras dengan kelestarian sumber-sumber.

Empat minggu jeda sebenarnya belum cukup untuk memberi bumi masa recovery dari eksploitasi besar-besaran sepanjang waktu sejak industrialisasi dan diperhebat pada masa kapitalisme global sekarang.

Namun, empat minggu jeda itu lumayan dan merupakan uji coba. Itu adalah masa reses bagi bumi, masa introspeksi kemanusiaan-keadilan, masa sedekah kepada si miskin dan tujuan-tujuan lain seperti ini. (*)

*) Ekonom, Rektor Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur

Editor : Ilham Safutra



Close Ads