alexametrics

Londo, Bule, Turis

Oleh SAMSUDIN ADLAWI, Wartawan Jawa Pos
24 Februari 2019, 09:56:56 WIB

JawaPos.com – Setiap 10 November memori bangsa Indonesia langsung melanting jauh ke tahun 1945. Terjadi perang hebat pada tanggal dan tahun itu. Indonesia melawan Belanda.

Tak bisa dimungkiri. Lamanya Belanda menjajah Indonesia meninggalkan trauma berkepanjangan.

Hingga kini. Trauma terdalam dirasakan mereka yang mengalami langsung peristiwa memilukan itu: hidup dalam cengkeraman penjajah. Termasuk orang-orang sepuh di kampung saya. Di Banyuwangi, Jawa Timur. Mereka tidak hanya didera trauma psikologis. Tetapi juga trauma bahasa.

Singkat kata, trauma psikologis menimbulkan trauma bahasa. Tanda-tanda itu tampak dari bagaimana mereka menyebut orang asing. Terutama orang dari Eropa.

Siapa pun yang berkulit putih dan berambut blonde mereka sebut Londo. Londo dari istilah bahasa Jawa “Walondo” untuk menyebut Belanda.

“Kunu telat. Londone buru baen muleh,” ucap H Timbul, tetua adat Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kalimat dalam bahasa Osing yang berarti “Kamu telat, Londo-nya baru saja pulang” itu dia ucapkan kepada saya di Sanggar Minum Kopi Genjah Arum, Kemiren, beberapa waktu lalu.

Karena penasaran, saya langsung klarifikasi kepada pemilik Sanggar Genjah Arum Setiawan Subekti. Ternyata yang dimaksud Londo oleh Pak Timbul adalah rombongan wisatawan dari beberapa negara di Eropa, antara lain, Prancis dan Swiss.

Malah sama sekali tidak ada yang berasal dari Belanda. Sekilas, fisik mereka memang tidak jauh berbeda dengan orang Belanda. Sama-sama berbadan besar. Tinggi. Dan kulitnya putih. Maklum, mereka hidup di benua yang sama: Eropa.

Berbeda dengan orang sepuh yang terstigma oleh Londo, banyak generasi mutakhir yang ternyata gagap menggunakan kata bule. Bukan hanya orang awam. Beberapa teman seprofesi saya (wartawan) juga masih ada yang belum mengerti secara baik siapa itu bule.

Kebetulan pada 16 Februari 2015 saya pergi ke Jember, Jawa Timur. Mata saya terbetot pada judul berita Bule Blusukan Pesantren di sebuah harian lokal.

Saya bergegas membaca lead berita dua kolom di halaman depan itu. Bunyi lengkapnya: “Sebanyak 13 pelajar dari Tiongkok, Taiwan, Jerman, dan Jepang berkenalan dengan dunia pesantren.”

Kulit dahi saya langsung berkerut. Mencoba memecahkan dua kejanggalan yang terdapat dalam kepala berita itu terkait dengan judul beritanya. Pertama, ternyata bule-nya masih berstatus pelajar.

Bukan orang biasa yang sedang berwisata ke pesantren. Sampai di situ, saya masih bisa memahami: judul memang harus dibikin semenarik mungkin.

Namun, kulit dahi saya makin berkerut begitu mengetahui asal bule itu dari Tiongkok, Taiwan, Jerman, dan Jepang. Saya mulai bingung.

Kalau pelajar yang dari Jerman masih tepat disebut bule. Semua orang tahu Jerman berada di Benua Biru, Eropa. Namun, tidak untuk pelajar yang berasal dari Tiongkok, Taiwan, dan Jepang itu. Sangat tidak tepat memasukkan mereka ke rumpun bule.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Edisi IV, lema bule mempunyai arti sebagai orang berkulit putih. Terutama orang Eropa dan Amerika. Bule juga sering dikonotasikan sebagai orang Barat.

Penyebutan seperti itu dikaitkan dengan letak negara. Secara geografis, Eropa dan Amerika memang berada di barat Indonesia. Yang juga masih sering rancu dalam masyarakat adalah penyebutan “turis”. Turis yang (dalam KBBI) berarti pelancong atau wisatawan sering dikonotasikan sebagai bule.

Padahal, seperti halnya wisatawan, turis belum tentu bule. Sebab, ada dua macam turis: “turis domestik” dan “turis asing”. “Turis domestik” adalah wisatawan dari dalam negeri. Dikenal juga dengan sebutan wisnu (wisatawan Nusantara). Jadi, jangan tersinggung kalau ada orang yang menyebut Anda sebagai turis ketika sedang melancong ke salah satu destinasi wisata yang ada di tanah air kita.

Itu sama sekali bukan sebentuk olok-olok. Melainkan, marwah istilah yang layak Anda sandang sebagai pelancong.

Sementara itu, “turis asing” biasa digunakan untuk menyebut wisatawan yang datang dari luar negeri. Disebut juga: wisman (wisatawan mancanegara). Istilah “turis asing” lebih luas daripada bule. Sebab, mereka tidak hanya berasal dari Benua Eropa dan Amerika. Tapi, juga berasal dari benua lainnya, seperti Asia dan Afrika.

Kreativitas berbahasa bangsa ini telah melahirkan banyak istilah baru. Namun, dalam praktiknya, penggunaan istilah-istilah baru itu sering menunjukkan kegagapan dalam berbahasa yang baik dan benar. Dalam posisi demikian, kehadiran ilmu bahasa sangat perlu. Terutama bagi kalangan milenial. (*)

Editor : Ilham Safutra

Londo, Bule, Turis