alexametrics

Nasib Budaya Lokal di IKN Baru

Oleh PURNAWAN BASUNDORO *)
24 Januari 2022, 19:48:08 WIB

JIKA tidak ada aral melintang, pada awal 2024 ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah berada di tempat baru, yaitu di Kota Nusantara. Perpindahan ibu kota dari Jakarta ke Nusantara merupakan boyongan raksasa. Karena memboyong seluruh unsur yang ada di ibu kota, mulai unsur fisik (material), sumber daya manusia, hingga unsur budaya.

Perbincangan mengenai pemindahan ibu kota negara (IKN) selama ini lebih difokuskan pada aspek fisik dan sumber daya manusia. Aspek budaya nyaris tidak pernah disinggung dalam rencana pemindahan IKN. Bahkan, dalam poin-poin Undang-Undang IKN sebagaimana tersebar di media massa dan media sosial, unsur budaya tidak muncul sama sekali. Padahal, keberadaan IKN salah satunya adalah sebagai simbol identitas nasional yang merepresentasikan keberagaman.

Unsur-unsur fisik pembentuk Kota Nusantara sebagai IKN nyaris seluruhnya baru. Istana Negara sebagai unsur sentral di IKN yang merupakan tempat tinggal sekaligus kantor presiden bahkan sampai saat ini baru tahap persiapan pembangunan. Menyusul sesudahnya adalah bangunan perkantoran berbagai unsur lembaga negara yang akan ikut pindah pada tahap awal. Pada tahapan pemindahan sumber daya manusia, yaitu para pejabat tinggi beserta seluruh staf lembaga negara, yang dipindahkan tentu saja bukan semata-mata manusia, melainkan juga budaya mereka.

IKN memang dibangun di kawasan yang masih minim aktivitas, namun bukan berarti IKN dibangun di ruang hampa budaya. Hampir seluruh kawasan di Indonesia, di Kalimantan sekalipun yang dianggap masih sedikit dihuni manusia, adalah ruang pencipta budaya lokal. Budaya lokal adalah budaya khas dan unik yang terbangun selama ribuan tahun tahap demi tahap. Perjumpaan unsur budaya yang berbeda bisa berdampak positif maupun negatif. Para ahli ilmu sosial dan budaya percaya, jika golongan-golongan manusia dengan latar belakang budaya yang berbeda itu bergaul secara intensif dalam jangka waktu yang lama, akan terjadi asimilasi. Pada proses tersebut, kebudayaan golongan-golongan tadi masing-masing berubah sifatnya yang khas dan unsur-unsurnya berubah wujudnya menjadi kebudayaan campuran. Sebagai contoh, perjumpaan kebudayaan Eropa/Belanda dengan kebudayaan bumiputra di Indonesia selama masa penjajahan yang berjalan ratusan tahun menghasilkan budaya baru yang namanya budaya indis (Sukiman 2011, Kebudayaan Indis dari Zaman Kompeni sampai Revolusi).

Namun, bisa saja perjumpaan kebudayaan akan menimbulkan kematian bagi kebudayaan yang lain. Kisah perjumpaan orang-orang Eropa dengan penduduk asli di pedalaman Amerika yang disebut suku Indian telah menyebabkan lenyapnya hampir semua unsur kebudayaan masyarakat lokal tersebut. Sikap imperialistis orang-orang Eropa terhadap penduduk asli Amerika yang didukung dengan kekuatan senjata telah mempercepat lenyapnya kebudayaan penduduk asli tersebut.

Terlalu ekstrem menjadikan kasus di Amerika pada masa lalu sebagai landasan dalam melihat kasus perjumpaan kebudayaan yang akan terjadi di Nusantara. Namun, bukan berarti budaya setempat akan aman-aman saja setelah menjadi IKN. Kebudayaan kosmopolit Jakarta yang ikut terbawa ke IKN saat terjadi boyongan memiliki legitimasi yang jauh lebih kuat untuk berkembang jika dibandingkan dengan budaya daerah yang ada di IKN. Legitimasi tersebut adalah apa yang disebut sebagai modern, yang memiliki arti terbaru atau mutakhir atau sikap dan cara berpikir serta bertindak sesuai dengan tuntutan zaman. Secara alamiah, manusia memiliki naluri untuk mengejar yang terbaru (up-to-date) dan meninggalkan hal-hal yang lama.

Bagong Suyanto dalam opininya di Jawa Pos, 20 Januari 2022, sudah memberi peringatan bahwa penetrasi budaya urban yang dibawa para pendatang ke IKN yang masih bernuansa rural bisa menimbulkan gegar budaya. Lebih dari itu, ancaman kematian budaya lokal juga sangat besar jika masyarakat setempat menjadikan modernitas yang dibawa para pendatang sebagai referensi baru ketimbang menawarkan budaya setempat kepada para pendatang. Dengan demikian, ancaman lenyapnya budaya lokal ada di depan mata. Hal itu bisa terjadi manakala masyarakat setempat tidak memiliki daya tawar yang cukup dalam menghadapi gelombang budaya kosmopolit yang akan datang bersamaan dengan gelombang migrasi besar-besaran dari Jakarta.

Budaya lokal atau budaya daerah adalah kekayaan yang membentuk mozaik keindonesiaan. Karena itu, ancaman kematian terhadap budaya lokal di IKN harus dihindari. Pemerintah harus membuat berbagai regulasi yang bertujuan untuk melindungi budaya setempat. Kerja sama dengan lembaga-lembaga adat dan pelaku budaya setempat mutlak dilakukan. Meski demikian, bukan berarti IKN harus steril dari budaya luar. Tujuan perlindungan terhadap budaya lokal adalah memastikan bahwa kebudayaan tersebut bisa tetap hidup dan berdampingan secara harmonis dengan budaya baru yang datang belakangan.

Regulasi yang dibuat pemerintah juga harus bisa menjamin bahwa para pendatang baru dengan budaya yang mereka bawa bersedia menghormati seluruh elemen budaya setempat. Modernitas yang terbangun bersamaan dengan mulai berfungsinya IKN harus bisa menjamin bahwa budaya lama tidak musnah.

Tujuan pindahnya ibu kota adalah menghindari Jakarta yang sudah demikian kompleks dengan berbagai permasalahan. Namun, jangan sampai tindakan menghindari Jakarta tersebut justru akan mengulangi apa yang pernah dilakukan ibu kota Indonesia ini. Yaitu, meminggirkan budaya Betawi sampai pada titik yang paling rendah. IKN harus menjamin bahwa penghormatan terhadap kearifan lokal bisa berjalan dengan baik. Sehingga eksistensi budaya setempat bisa tetap dipertahankan. Bahkan ikut mewarnai secara proporsional ibu kota baru tersebut. Jika pemerintah mampu melindungi kebudayaan setempat, tujuan IKN menjadi simbol identitas nasional yang merepresentasikan keberagaman bangsa Indonesia akan tercapai dengan baik. (*)

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads