Keamanan Vaksin Covid-19 untuk Anak

Oleh DOMINICUS HUSADA *)
23 Desember 2021, 19:48:52 WIB

BERBEDA dengan vaksin lain di dunia, anak menjadi prioritas terakhir dalam urutan penerima vaksin Covid-19. Hal itu disebabkan rendahnya kasus di kelompok anak dibandingkan kelompok usia lain. Angka kematian pun mengikuti angka kesakitan. Setelah sekitar 8 miliar dosis vaksin Covid-19 disuntikkan, akhirnya tersedia vaksin untuk kelompok usia di bawah 12 tahun. Kelompok remaja berusia 12–17 tahun lebih dahulu menerima. Data vaksin pada remaja ini banyak ditopang data pada dewasa muda walaupun penelitian terpisah juga sudah dilakukan dengan hasil baik.

Saat ini, dari 25 vaksin di dunia yang telah mendapatkan persetujuan sedikitnya di satu negara, hanya ada empat vaksin yang mempunyai cukup data pada usia di bawah 18 tahun. Yaitu, vaksin mRNA milik Pfizer (Comirnaty) dan Moderna serta dua vaksin inaktif, yaitu CoronaVac Sinovac dan Sinopharm. Ada hampir sepuluh vaksin lain yang sedang diuji pada kelompok remaja dan anak. Namun, belum jelas kapan penelitian itu selesai.

BPOM menyetujui penggunaan vaksin CoronaVac dan Pfizer untuk kelompok usia 12–17 tahun. Untuk usia di bawah 12 tahun, hingga 20 Desember 2021 BPOM baru mengizinkan vaksin CoronaVac. Di AS, vaksin Pfizer telah disetujui untuk digunakan pada anak berusia 5–11 tahun. Sangat mungkin BPOM segera meluluskan izin darurat bagi Comirnaty dan vaksin Sinopharm untuk anak di bawah 12 tahun dalam waktu singkat.

Vaksin CoronaVac mempunyai data uji klinis kelompok usia 3–17 tahun dari 550 anak. Itu jumlah yang terbatas, sebenarnya, dibandingkan yang dimiliki Comirnaty (12–15 tahun sebanyak 2.124 orang), Moderna (12–17 tahun sebanyak 2.500 orang), maupun Sinopharm (3–17 tahun sebanyak 900 orang). Comirnaty mempunyai data terbatas pada kelompok 16–17 tahun ketika melakukan uji pada dewasa. Keterbatasan jumlah sampel uji klinis biasanya akan dilindungi dengan pengawasan pasca beredar yang lebih ketat dan hal ini sering terjadi sebelumnya.

Kedua vaksin mRNA menunjukkan efikasi sempurna terhadap kematian maupun sakit berat. Data dari kedua vaksin inaktif tidak menunjukkan efikasi. Namun, hanya berhenti pada keamanan dan kadar kekebalan yang ditimbulkan.

Tiongkok menjadi negara pertama yang melakukan imunisasi secara massal pada anak berusia 3 tahun ke atas dengan menggunakan kedua vaksin inaktif mereka. Berdasar keempat laporan uji klinis serta data tambahan dari negara pengguna seperti Argentina, Cile, AS, dan Uni Emirat Arab, keempat vaksin mempunyai tingkat keamanan yang baik. Pada vaksin mRNA memang ada laporan kasus keradangan otot jantung bagi remaja yang kebanyakan menyerang laki-laki. Namun, sejauh ini kebanyakan kasus bersifat ringan dan sembuh sempurna.

Ada beberapa negara yang memberikan peringatan kewaspadaan akan hal ini, namun mereka tidak melarang penggunaan vaksin mRNA tersebut. Di Amerika Serikat yang hanya menggunakan tiga vaksin, kedua vaksin mRNA adalah andalan utama. Untuk vaksin Sinovac dan Sinopharm, data keamanan sangat baik. Pada umumnya tidak ada perbedaan bermakna dengan data pada kelompok dewasa. Mayoritas keluhan setelah vaksinasi bersifat ringan sampai sedang dan menghilang tanpa terapi ataupun menggunakan beberapa obat sederhana. Memang biasanya vaksin inaktif yang telah dikenal di dunia vaksin sejak lebih dari seratus tahun lalu mempunyai profil keamanan yang bagus.

Nyeri di tempat suntikan, sakit kepala, nyeri otot, demam, dan kelelahan biasanya menjadi yang paling sering dilaporkan selama uji klinis dan penggunaan lapangan vaksin untuk anak dan remaja. Hal itu tidak sepenuhnya disebabkan vaksin karena di kelompok yang saat uji klinis menerima bukan vaksin pun mengeluhkan hal tersebut dalam skala yang hampir sama.

Di situasi nyata ada beberapa aspek yang perlu dicermati. Dosis Comirnaty pada dewasa dan remaja sama, namun pada anak berbeda. Kemasan yang digunakan produsen juga berbeda. Itu sebabnya tidak diperkenankan memberikan vaksin dewasa pada anak. Pada beberapa kejadian sebelum ini di beberapa negara ada laporan penggunaan vaksin dewasa untuk anak dengan mengurangi jumlah dosis. Hal itu dilarang dilakukan di dunia vaksin.

Di Indonesia ditetapkan juga skrining sebelum menerima vaksin. Hal itu akan menambah tingkat keamanan ketika vaksin diberikan. Elemen skrining agak berbeda dengan pada dewasa, namun sama menjadi elemen dalam sistem Pcare.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads