Perlunya Pembaruan Peta Gempa dan Pengecekan Struktur Bangunan

Oleh ENDRA GUNAWAN*
23 November 2022, 11:32:00 WIB

PADA 21 November 2022 pukul 13.20 WIB, telah terjadi gempa daratan dengan magnitudo 5,6. Guncangan gempa ini dirasakan warga di Cianjur, Depok, Jakarta, bahkan sampai di Bandung.

Apabila kita lihat dari dampak gempa yang ditimbulkan, magnitudo 5,6 dari suatu sesar daratan sepertinya memiliki dampak mematikan buntut guncangan yang dirasakan. Kekuatan guncangan yang dirasakan akan berbeda, salah satunya bergantung pada kedalaman gempa, kondisi tanah terdampak, dan jarak dengan episentrum gempa.

Apabila kita melihat episentrumnya, terlihat jelas bahwa gempa tersebut terjadi tidak pada suatu sistem sesar yang sudah diketahui. Di selatan episentrum sejauh 30 kilometer adalah sesar Cimandiri yang merupakan sesar naik.

Hal ini berbeda dengan informasi mekanisme fokus gempa yang menelan ratusan korban jiwa tersebut. Informasi mekanisme fokus gempa dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) dan GFZ (German Research Centre for Geosciences) menunjukkan bahwa gempa terjadi pada suatu sesar mendatar mengiri.

Dari informasi tersebut, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan. Yang pertama, gempa Cianjur terjadi pada suatu sistem sesar mendatar yang belum dipetakan sebelumnya. Peta sumber dan bahaya gempa tahun 2017 yang dikeluarkan oleh konsorsium peneliti gempa di Indonesia, yaitu PuSGeN, merupakan peta terakhir terlengkap yang merupakan kompilasi dari berbagai sumber yang kita miliki.

Tidak tepatnya lokasi episentrum gempa dengan sumber sesar Cimandiri menunjukkan bahwa pembaruan peta sumber dan bahaya gempa tersebut perlu dilakukan secepatnya. Dalam era modern sekarang, keilmuan geoscience untuk identifikasi sumber sesar dapat menggunakan banyak sekali tools, seperti penggunaan GPS (global positioning system), data seismik, data radar dari satelit, maupun data-data geofisika lainnya yang dapat dikonfirmasikan dengan observasi lapangan geologi.

Yang kedua, perlunya pengecekan struktur bangunan yang sudah ada agar mampu menahan guncangan gempa. Menurut penulis, mutlak setiap bangunan yang penting dan krusial, seperti bangunan pemerintahan semacam kantor gubernur, kantor wali kota, atau yang lain, untuk mengikuti standar bangunan tahan gempa. Panduannya jelas, yaitu SNI 1726:2019.

Dari kejadian gempa di Indonesia, misalnya gempa Mamuju tahun lalu, publikasi Hanifa dkk pada tahun 2022 di jurnal Remote Sensing Applications: Society and Environment menunjukkan bahwa kerusakan bangunan terjadi akibat bangunan tidak memiliki standar yang baik terhadap guncangan gempa.

Yang ketiga, perlu dilakukan simulasi-simulasi gempa apabila gempa yang jauh lebih besar terjadi lagi di masa yang akan datang. Publikasi 2020 dari Widiyantoro dkk di jurnal Nature, Scientific Report maupun publikasi Hanifa dkk pada 2014 di jurnal Earth and Planetary Science Letters menunjukkan bahwa ada potensi magnitudo 8,7–9,1 dari sumber megathrust di selatan Jawa.

Apabila dengan magnitudo 5,6 saja sudah menimbulkan kepanikan, kerusakan, dan bahkan korban jiwa hingga ratusan orang, dapat dibayangkan apabila gempa megathrust dengan magnitudo 8,7–9,1 ini terjadi. Pada 2021 dan 2022, melalui program pengabdian masyarakat dari ITB, penulis dan tim membantu masyarakat pesisir Lebak dalam melakukan simulasi gempa dan tsunami yang dapat terjadi di masa yang akan datang. Diharapkan jika gempa dan tsunami itu benar terjadi, masyarakat tidak kaget atau shock.

Selain itu, masyarakat setempat juga sudah mengetahui jalur evakuasi yang dipilih. Masyarakat mengetahui pula tugas dan kapasitasnya untuk tanggap terhadap bencana.

Warga di pesisir Lebak, Banten, hanyalah salah satu dari banyak sekali masyarakat yang hidup di zona tektonik aktif di Indonesia. Oleh karena itu, perlu kerja sama menyeluruh untuk pelaksanaan simulasi gempa (dan tsunami) di wilayah lain di Indonesia.

Akhirnya, hal lain yang harus diperhatikan, gempa di Cianjur merupakan salah satu contoh dari banyak sekali gempa daratan yang akan terjadi di Indonesia. Sebab, siklus gempa puluhan hingga ratusan tahun. Dan, salah satu sesar utama di Pulau Jawa, seperti sesar Baribis–Kendeng, melewati selatan Jakarta (berdasarkan publikasi Gunawan dan Widiyantoro pada tahun 2019 di Journal of Geodynamics dan publikasi Widiyantoro dkk pada tahun 2022 di jurnal Nature, Scientific Report), juga melintasi tengah kota Semarang hingga tengah Kota Surabaya.

Detail lokasi sesar ini harus dipetakan dengan baik dan informasinya harus dapat didiseminasikan kepada masyarakat. Tujuannya, masyarakat mengetahui potensi bahaya yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. (*)

 

*) ENDRA GUNAWAN, Dosen Kelompok Keahlian Geofisika Global Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung

 

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads