Hari Maritim Nasional: Kesiapan Teknologi Wujudkan Visi Maritim

Oleh MOCHAMAD ASHARI *)
23 September 2022, 19:48:14 WIB

SETIAP 23 September, bangsa Indonesia memperingati Hari Maritim Nasional. Gagasan menjadikan tanggal tersebut sebagai Hari Maritim tercetus saat Munas Maritim I Tahun 1963. Setahun kemudian Presiden Soekarno menerbitkan SK No 249/1964 tentang Penetapan Hari Maritim Nasional.

Dengan SK tersebut seakan Bung Karno ingin menyadarkan rakyat Indonesia tentang potensi besar menjadi negara adidaya maritim. Utamanya karena kekayaan melimpah di perairan Indonesia. Ini juga berarti kita dituntut mampu mengelola potensi maritim untuk peningkatan perekonomian bangsa.

Guna mengukuhkan visi menjadi negara adidaya maritim, Presiden Jokowi di KTT Ke-9 East Asia Summit pada 2021 di Myanmar memaparkan konsep Indonesia sebagai poros maritim dunia. Beberapa program harus dijalankan. Di antaranya penegakan kedaulatan laut, revitalisasi sektor-sektor ekonomi kelautan, penguatan dan pengembangan konektivitas maritim, rehabilitasi kerusakan lingkungan dan konversi biodiversity, serta peningkatan kualitas dan kuantitas SDM kelautan.

Jelas konsep yang dipaparkan presiden akan bermuara pada visi Indonesia Emas 2045. Diharapkan pada 100 tahun kemerdekaan nanti, Indonesia mampu keluar dari middle income trap serta menjadi negara maju. Juga menjadi salah satu dari lima kekuatan ekonomi dunia. Semua itu disertai dengan kualitas manusia yang unggul dan menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi. Diharapkan kesejahteraan rakyat juga jauh lebih baik dan merata. Ketahanan nasional dan tata kelola kepemerintahan pada seabad kemerdekaan itu juga kuat dan berwibawa.

Visi maritim Indonesia tentu sangat menunjang visi Indonesia Emas. Menuju 2045 diharapkan terjadi peningkatan kontribusi dari sektor maritim. Pada aspek ekonomi maritim, diprediksi terdapat peningkatan sekitar 12,5 persen product domestic bruto (PDB). Konsentrasi harus diberikan untuk setidaknya empat aspek. Pertama, pembangunan konektivitas laut yang efisien dan efektif. Kedua, industrialisasi perikanan yang berkelanjutan dan berdaya saing. Ketiga, penguasaan teknologi migas laut dalam. Keempat, pariwisata bahari yang inklusif.

Dari sisi peradaban maritim, diharapkan kontribusi terkait penciptaan kualitas sumber daya manusia maritim yang unggul, inovasi teknologi kemaritiman, dan budaya maritim yang kuat sebagai basis peradaban bahari. Serta dukungan penuh dari aspek kekuatan pertahanan maritim. Indonesia dituntut segera mewujudkan kemampuan hankam maritim yang kuat dan andal menghadapi tantangan regional dan global.

Bukanlah hal mudah menguatkan ketiganya. Beberapa peristiwa penting membuat kita paham akan pentingnya penguasaan teknologi untuk kesiapsiagaan dan antisipasi. Beberapa peristiwa tersebut antara lain tenggelamnya MV Sewol (2014), inisiasi pembangunan Kanal Kra (2016), inisiasi proyek one belt one road (2019), pembangunan mega container ships (2019), Global Sulphur Cap (2020), serta kandasnya MV Ever Given di Terusan Suez (2021).

Peristiwa-peristiwa di atas mengingatkan kita untuk menguasai teknologi menuju pencapaian visi maritim Indonesia. Beberapa teknologi tersebut antara lain: penguasaan teknologi untuk membangun pelabuhan laut dalam. Hal itu mutlak dikuasai karena makin banyak dibangun kapal peti kemas berukuran mega container ship. Kapal dengan ukuran ini termasuk dalam kelas kapal ultra large container vessel (ULCV: kapal berukuran lebih besar dari 14.501 Teus). Kapal jenis ini memerlukan kedalaman perairan pelabuhan (sarat/draf kapal) sekitar 20 meter untuk bersandar. Sehingga teknologi pengerukan, teknologi penguatan tanah, serta teknologi fondasi laut dalam sangat diperlukan.

Banyaknya kecelakaan kapal yang terjadi akhir-akhir ini memerlukan perhatian khusus. Utamanya terkait penguasaan teknologi untuk menjamin keselamatan kapal dan keamanan perairan. Salah satu teknologi yang sering dimanfaatkan adalah teknologi automatic identification system (AIS). Kelak teknologi ini harus mampu dikombinasikan dengan sistem informasi digital lain (posisi pipa bawah laut, posisi kabel bawah laut, koordinat dermaga, dan informasi lain). Sehingga keamanan pelayaran dan keselamatan kapal dapat dijamin.

Teknologi Marine autonomous surface ship (MASS) juga perlu lebih ditingkatkan kemampuan adaptasinya di perairan Indonesia. MASS dapat didefinisikan sebagai kapal yang pada level tertentu mampu beroperasi secara mandiri dan tanpa campur tangan manusia. Sejak 2018 International Maritime Organization (IMO) telah menetapkan metodologi pengaturan MASS. Sehingga di masa mendatang penggunaan autonomous ship akan semakin banyak dan aman bagi pelayaran.

Dari sisi pemakaian energi bersih (green and clean energy), tidak dapat dimungkiri, dengan makin padatnya lalu lintas kapal, akan meningkatkan emisi gas berbahaya pada gas buang kapal. Sejak 2020 telah ditetapkan aturan Global Sulphur Cap. Aturan ini membatasi kadar sulfur pada gas buang kapal sebesar 0,5 persen sejak Januari 2020. Kadar di atas dapat dipenuhi dengan tiga alternatif: pembersih sistem gas buang, penggunaan teknologi dual-fuel dengan bahan bakar rendah sulfur, serta pemanfaatan bahan bakar alternatif seperti LNG (liquefied natural gas). Bagi Indonesia tentu saja hal itu sangat menguntungkan. Karena cadangan gas serta lahan gas baru banyak ditemukan, khususnya di laut dalam.

Luasnya perairan RI memerlukan dukungan penuh berupa keandalan dan ketangguhan armada Angkatan Laut Republik Indonesia. Beberapa fakta di lapangan terkait usia armada kapal yang dimiliki TNI-AL terbukti memerlukan perhatian khusus. Hal ini utamanya terkait kemampuan rancang bangun anak bangsa dalam hal desain kapal patroli serta kapal perang dalam negeri guna mendukung kecukupan armada laut Indonesia.

Keamanan sistem pelayaran laut Nusantara juga ditentukan oleh ketersediaan informasi akurat mengenai prediksi cuaca di perairan Indonesia. Informasi cuaca yang disediakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) harus mempunyai akurasi dan presisi yang baik. Seringnya kecelakaan kapal saat cuaca buruk merupakan salah satu petunjuk bahwa penguasaan teknologi prediksi cuaca adalah mutlak untuk keamanan pelayaran nasional.

Apabila beberapa teknologi di atas mampu dikuasai, akan menjadi salah satu langkah penting menuju pencapaian visi maritim Indonesia. Tentu saja diperlukan koordinasi yang baik antar-stakeholder maritim untuk hasil paling optimal. Akhirnya, izinkan saya menyampaikan Selamat Hari Maritim 2022: ”See the Future, the Sea is Our Future.” (*)


*) MOCHAMAD ASHARI, Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: