alexametrics

Cah Indie

Oleh EDI AH IYUBENU*
23 Juni 2019, 16:30:24 WIB

JawaPos.com – Doktrinnya adalah “berbahasa harus tepat konteks”. Di dalamnya tercakup banyak aspek seperti makna, maksud, tujuan, hingga cita rasa.

Beberapa masa silam Ivan Lanin yang selalu tampan siang dan malam membuat survei di akun Twitter-nya terhadap penggunaan kata “merisak” dan “merundung” sebagai padanan kata bully. Sebanyak 62 persen responden memilih kata “merisak”, selainnya “merundung”.

Lalu, tersebarlah ulasan dari seorang pengamat bahasa bahwa pilihan kata “merisak” tersebut lebih tepat konteks dibanding kata “merundung” atau selainnya. Seperti mengganggu, merusuhi, atau menyakiti.

Saya pribadi sependapat saja dengan ulasan tersebut, kendati pula seketika mesti kita mafhumi bersama bahwa esensi “tepat konteks” pada hakikatnya adalah relativitas belaka. Populasi mayoritas responden dalam survei Ivan Lanin tersebut adalah fakta kebenaran, nyata, tapi sekaligus memperlihatkan fakta kebenaran yang relatif.

Mari segera ingat pula bahwa prinsip pokok berbahasa adalah konsensus alias kesepakatan. Ia bisa semata terdiri atas dua penutur. Itu sahih! Keberadaan dua penutur bahasa yang berkonsensus itu -apalagi dalam skala survei tersebut populasinya 37 persen- adalah fakta kebenaran. Yang tak bisa dinegasi oleh seribu atau sejuta kesepakatan penutur lain yang tak bersepakat dengan dua penutur tersebut.

Seribu atau sejuta penutur sahih saja menyatakan “merisak” adalah pilihan kata yang paling tepat konteks untuk makna bully. Tapi, 2 penutur atau 37 penutur lain dalam survei tersebut yang memilih kata “merundung” juga akurat sahih. Terbanjarkan di sini sekarang bahwa otoritas “tepat konteks” dalam berbahasa adalah kebenaran yang relatif semata.

Di nDalem Kapithikan, Jogja, salah satu lingkaran Komunitas Absurdisme yang disepuhi Prop Picoez dan Mbah Nyutz, yang saya kerap hadir di dalamnya, saya pernah terkekeh karena mendengar celetukan Mas Tedjo Cahaya Asia. Pendiri Band Trias Politika itu melayangkan kata “cah indie” (baca: bocah indie) kepada Alfin, Cito, dan Marno Blewah sebagai padanan kata jomlo (KBBI menuliskannya demikian meski khalayak luas lebih karib dengan “jomblo”).

Semua orang yang hadir dalam forum tersebut terkekeh pula. Kekehan yang menyiratkan keseragaman ilustrasi semantik bahwa yang dimaksudkan adalah “anak independen” dalam hal asmara atau pasangan.

Tawa kami mengindikasikan konsensus makna kata yang tunggal dalam memaknai jomlo sebagai orang yang “independen dalam asmara”, yang tentu mustahil buat kelaziman suatu hubungan asmara atau berpasangan. Berasmara seorang diri, bagaimana mungkin ada?

Walaupun terdiri atas sepuluh orang, kata “cah indie” itu adalah konsensus. Dan mustahil di dalam suatu konsensus bahasa tidak teruntai “suatu konteks yang tepat”.

Sampai di sini, prinsip pokok berbahasa telah menyelesaikan kewajibannya antara penutur dan pendengar, penulis dan pembaca, kata “cah indie” tersebut. Sebuah language game -dalam istilah Ludwig Wittgenstein- telah tertunaikan. Mau menuntut apa lagi kepada kata “cah indie” tersebut untuk, misalnya, menyatakannya tidak memenuhi doktrin berbahasa yang mesti tepat konteks?

Memang yang kemudian bisa menuntut pemahaman terhadap kata anyar tersebut adalah khalayak di luar komunitas Kapithikan yang belum tahu kata itu. Namun, mari ingat, ini tidak bisa didoktrinkan sebagai bukti gugurnya kata tersebut, termasuk konsensus yang telah terwedar di dalam kata “cah indie” itu.

Pola verstehen sejenis secara absolut juga berlaku pada kata “merisak” di hadapan kata “merundung”. Orang boleh saja menciptakan analisis meyakinkan bahwa merisak lebih tepat konteks dengan bully karena kata dasar “merisak”, yakni “risak”, lebih dekat dengan kata “rusak”. Yang telah populer dipahami dan dipakai ketimbang kata dasar “merundung”, yakni “rundung”. Namun, analisis berbau cocoklogi itu jelas tak berhak apa-apa untuk menggugurkan kata “merundung” sama sekali.

Kata “jomlo” tak bisa menggugurkan sama sekali kepada kata “cah indie”. Jika poin kita ialah ihwal cakupan dan luasannya, itu hanya perihal intensitas penggunaannya dalam interaksi sosial dan waktu. Hanya itu!

Anda tentu ingat betapa kata “viral” baru belakangan ini dipahami dan dipakai dengan sangat luas, bukan sejak era Orde Baru. Dengan nada bercanda, Cak Nun berkata, “Pak Harto itu tak kenal lho sama kata viral….”

Prinsip kerja bahasa sejenis itu sepenuhnya berlaku pada semua kosakata. Kita menyadari betapa tebalnya KBBI. Namun, berapa persenkah kosakata di dalamnya yang kita pahami dan pakai secara umum selama ini? Tentu sangat terbatas, saking tak terbatasnya konsensus pengguna bahasa.

Kata “melintas”, misal, dibandingkan dengan kata “mengelindan”. Dapat kita bayangkan perkara perbandingan intensitas penggunaannya dalam keseharian kita, ucapan maupun tulisan. Begitu pun kata “menggoda” di hadapan kata “melucah”. Dan lain sebagainya.

Walhasil, parameter yang semata berurusan dengan persentase atau populasi penggunanya dapat dinyatakan tidak hakiki sama sekali. Termasuk dalam doktrin “berbahasa harus tepat konteks”. (*)

*) Esais, cerpenis, dan kurator Basabasi, Jogja. @edi_akhiles.

Editor : Ilham Safutra



Close Ads