alexametrics

Ekspor Dibuka, Awasi Suplai Dalam Negeri

Oleh SHINTA WIDJAJA KAMDANI
23 Mei 2022, 12:59:52 WIB

KALANGAN pengusaha mendukung dan menyambut baik keputusan pemerintah untuk kembali membuka keran ekspor CPO dan turunannya. Hal ini membuat seluruh rantai suplai sawit bisa memaksimalkan kinerja dan produktivitasnya. Mulai petani, eksportir, hingga industri pengolahan sawit.

Selain mengembalikan tren kinerja, kebijakan ini akan berkontribusi terhadap peningkatan penerimaan ekspor, ketahanan fiskal, bahkan pertumbuhan ekonomi nasional. Sebab, ekspor sawit memiliki porsi yang signifikan terhadap total ekspor nasional.

Namun, kami rasa yang lebih penting adalah, dengan kebijakan ini, Indonesia sebagai ketua G20 bisa membuktikan secara konkret bagaimana kita bersungguh-sungguh dan konsisten terhadap komitmen keterbukaan ekonomi. Selain itu, berkontribusi positif dalam meredakan krisis suplai pangan yang saat ini terjadi di pasar global.

Hal ini sangat penting untuk dijaga. Sebab, kita memiliki kepentingan strategis untuk memanfaatkan presidensi G20 untuk menarik investasi dan kerja sama strategis dengan pelaku ekonomi global.

Harapan kami, setelah kebijakan ini, akan ada normalisasi kinerja ekspor CPO dan turunannya ke seluruh dunia, khususnya ke negara-negara yang membutuhkan substitusi vegetable oil. Kalau bisa, kita perlu menggunakan ekspor CPO untuk membuka pasar-pasar ekspor baru yang sebelumnya pangsa pasar vegetable oil-nya belum kita kuasai.

Namun, pada saat yang sama, kami juga mengimbau agar pemerintah terus meningkatkan pengawasan terhadap kecukupan suplai CPO terhadap industri migor nasional. Kecukupan suplai dan kelancaran distribusi migor nasional kepada masyarakat juga dibutuhkan untuk mengurangi potensi panic buying atau manipulasi harga jual migor di pasar oleh oknum-oknum. Dengan demikian, kita bisa mempertahankan stabilitas suplai dan harga migor di pasar dalam negeri, meski tetap mengekspor.

Larangan ekspor crude palm oil (CPO) dan migor kelapa sawit yang baru saja dilakukan memang belum sampai menjadi sentimen negatif yang berdampak pada investasi. Kadin sudah memproyeksikan bahwa kebijakan itu hanya bersifat sementara, sehingga dampaknya tidak signifikan terhadap investor.

Isu lain yang lebih signifikan, ada yang lebih berpotensi memengaruhi iklim investasi di Indonesia. Salah satunya adalah kondisi geopolitik yang secara keseluruhan sangat tidak berpihak pada kelancaran arus investasi ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ada juga sentimen negatif lain seperti risiko inflasi yang berlebihan, faktor ketidakpastian persebaran pandemi pasca-Lebaran, atau ketidakpastian terkait keabsahan Undang-Undang Cipta Kerja. Faktor-faktor tersebut lebih dominan menciptakan tekanan terhadap iklim investasi daripada kebijakan larangan ekspor migor sawit.

Kami sendiri tetap optimistis realisasi investasi tahun ini bisa terus meningkat. Yang penting, kita harus fokus dan konsisten memastikan stabilitas ekonomi makro sepanjang tahun. (agf/c17/oni)

*) SHINTA WIDJAJA KAMDANI, Koordinator Waketum III Kadin

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads