alexametrics

Jangan Remehkan Pandemi

Oleh ABDURACHMAN*
23 Maret 2020, 14:28:44 WIB

AWAL Februari 2020 WHO menyatakan Covid-19 darurat global. Pada 11 Maret dinyatakan sebagai pandemi. Sigap dan bersiap.

Tiba-tiba saja di Indonesia ada yang upload di media sosial PDP Covid-19 ditelantarkan oleh rumah sakit (RS). Parahnya lagi, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto menyatakan bahwa tindakan demikian dilakukan oleh banyak rumah sakit. Bagaimana bisa?

Mari Menghitung Peluang

Covid-19 diketahui memiliki angka kematian (fatality rate 3 persen). Artinya, ada kesempatan 3 orang meninggal dari setiap 100 penderita. Lalu, andai ada virus lain yang memiliki angka kematian 97 persen, berarti hanya 3 persen yang berhasil hidup. Mana yang lebih membahayakan global?

Logika awal menduga virus lain yang jauh lebih mematikan. Benarkah? Mari gunakan hitungan.

Virus lain yang dengan mudah membunuh penderitanya (97 persen), maka hanya tinggal 3 persen pasien yang mungkin bisa menularkan. Tetapi, sebaliknya, Covid-19 yang membuat 3 persen meninggal menyisakan 97 persen pasien sembuh yang siap menularkan kepada yang lain. Dari sini terlihat bahwa Covid-19 memiliki potensi besar menyebar secara cepat, meluas, dan mengglobal.

Teknologi transportasi memungkinkan virus semaunya lepas landas. Globalisasi menjadikan dunia tanpa sekat. Segalanya berpindah bebas batas. Ketidakdisiplinan satu negara mengelola Covid-19 menjadi pemicu berakhirnya keselamatan semua negara. Negara-negara saling tergantung. Pasti harus bekerja sama.

Coba tengok ke belakang. Sekitar seratus tahun silam, sewaktu berakhirnya Perang Dunia I, Eropa dihantam wabah influenza. Tidak diketahui pasti dari mana asal flu itu. Media cenderung tidak acuh meliput peristiwa pandemi yang sedang terjadi. Semua fokus membahas perang besar (The Great War), kecuali Spanyol. Kala itu memasuki tahun keempat.

Tidak aktif terlibat di Perang Dunia I, media massa Spanyol banyak memberitakan gelombang influenza merebak menyesaki Eropa. Itu menjadikan Spanyol pemilik trademark wabah influenza tersebut, flu Spanyol.

Perang Dunia I berakhir sebelas bulan kemudian, masyarakat Eropa menyadari bahwa wabah benar-benar di depan wajah. Bukan hanya Eropa, flu Spanyol cepat meluas hingga Amerika, Asia, Afrika, bahkan menjangkau kepulauan-kepulauan kecil di Pasifik.

Flu Spanyol dideteksi sebagai wabah pertama pada Januari 1918. Sampai Desember 1920, hampir tiga tahun di pengujung wabah tersebut, virus itu menjangkiti 27 persen penduduk dunia. Korban berjumlah nyaris 500 juta.

Pandemi global itu pun menyelimuti dunia, membuat rumah-rumah sakit dibanjiri pasien, ekonomi berhenti berputar, dan kematian terjadi di mana-mana. Data American Journal of Epidemiology menyatakan, 17 juta orang tewas di pandemi tersebut. Jadi, berapa angka kematiannya? Hanya 3 persen? Benar, angka kematian 3 persen bisa menghilangkan 17 juta nyawa jika tidak terkendali.

Jadi, tergambar sudah bahwa angka 3 persen bukanlah sesuatu yang bisa ditelantarkan begitu saja. Sudahkah terbayang bila 1 pasien Covid-19 menularkannya ke 5 orang, lalu 5 orang menularkan ke 25 orang, 25 orang menularkan ke 125 orang, secara eksponensial?

Dari 125 pasien tersebut, 4 di antaranya meninggal dunia. Tiga persen.

Sudahkah terbayang berapa banyak yang harus menjadi korban meninggal seandainya virus itu menyebar ke 1 juta orang atau 10 juta orang? Pasti kita sependapat bahwa cara terbaik adalah mencegah sebelum wabah serupa benar-benar menggusar.

Tahun 1918–1920, pada periode pandemi flu Spanyol, Indonesia (Hindia Belanda) merupakan daerah yang memiliki penanganan pandemi begitu buruk. Angka kematian begitu tinggi. Faktor penyebabnya, pemerintah kolonial tidak tanggap, kesadaran kesehatan rakyat rendah, fasilitas kesehatan parah, dan media terkesan meremehkan.

Korban meninggal mencapai 1,5 juta jiwa penduduk Nusantara. Dari total penduduk 30 juta jiwa, angka tersebut sangatlah fantastis. Jauh di atas rata-rata global.

Daerah pandemi buruk seperti Madura kehilangan 23,71 persen populasi. Artinya, 1 di antara 4 penduduk Madura tewas gara-gara flu hanya dalam kurun waktu dua tahun. Data tersebut mengacu studi Siddharth Chandra tahun 2013 dalam Mortality from the Influenza Pandemic of 1918–19 in Indonesia. Angka kematian di kepulauan Nusantara bahkan mencapai empat kali lipat dari estimasi awal, yaitu sekitar 5 juta jiwa.

Saat itu Hindia Belanda terlambat menyadari ancaman. Respons masyarakat cenderung santai. Harian Sinar Hindia menduga Perang Dunia I merusak kualitas udara. Lalu membuat banyak orang flu.

Harian Sin Po berujar, ”Ini penjakit sedang hebatnja mengamoek di seantero negeri, sekalipoen tiada begitoe berbahaja seperti kolera atau pes.” Bahkan, surat kabar De Sumatra Post menyebut pandemi itu sebagai ”penjakit rakjat”. Bersifat sementara, tidak perlu dikhawatirkan.

Tidak lebih beberapa bulan setelah itu, pandemi merebak cepat dan membunuhi rakyat. Memasuki pergantian tahun 1918, satu demi satu mereka menjadi korban.

Ketika itu rumah sakit-rumah sakit di Sumatera kewalahan, kapasitasnya belum sesuai. Pada akhir 1918, akses-akses pelabuhan di Nusantara ditutup pemerintah kolonial.

Untuk mencegah pandemi meluas. Bahkan, pemerintah menyebarkan buklet berjudul Lelara Influenza terbitan Balai Pustaka. Upaya menggalakkan kesadaran masyarakat Jawa dalam menjaga kebersihan. Wabah bertambah luas, mayat-mayat mulai bergelimpangan.

Setelah itu, baru mereka sadar bahwa wabah tersebut lebih serius daripada yang diprediksi. Korban meninggal jauh di atas korban Perang Dunia I. Ada kemajuan nada pemberitaan, ”We are in deep trouble.” Sekali lagi, hanya 3 persen fatality rate.

Sejarah mengajar manusia untuk lebih cemerlang. Namun, sampai kini pun sebagian masih senang mengulang kekurangan. Sudah tibakah waktunya Indonesia berpeluang menang dalam upaya penanganan pandemi global?

Kesimpulan sementara Yuri bisa jadi benar. Tetapi, stigma negatif BPJS bisa juga membayang kesulitan likuiditas keuangan manajemen RS. Ketika pendanaan ditelantarkan. Terlebih sejak awal.

Dunia melihat Indonesia terkesan santai dalam turut serta menangani pandemi global. Semoga pemerintah utamanya, swasta, dan seluruh masyarakat memiliki upaya yang senada dengan upaya dunia. Untuk bersama menangani masalah besar, pandemi global Covid-19, secara optimal.

Sebab, bagaimanapun, sejarah merekam bahwa meremehkan pandemi bisa berakibat fatal! (*)

*) Guru besar FK Unair, Dewan Pakar IDI Jatim, president Asia Pacific International Congress of Anatomist-6

Editor : Ilham Safutra



Close Ads