alexametrics

Darurat Pelakor dan Pebinor

Oleh SHOLAHUDDIN AL-FATIH *)
23 Februari 2021, 21:43:19 WIB

TERBONGKARNYA skandal perselingkuhan di internal grup band Sabyan semakin menambah panjang daftar kasus perceraian di negeri ini. Berdasar data yang disampaikan Dirjen Bimas Islam Kemenag, angka perceraian di Indonesia terus naik sejak 2015 hingga 2020. Angka perceraian pada 2015 mencapai 394.246 kasus, kemudian pada 2016 naik menjadi 401.717 kasus. Jumlah tersebut kembali naik pada 2017 sebanyak 415.510 kasus dan pada 2018 meningkat lagi sebesar 444.358 kasus. Angka perceraian tetap naik pada 2019, yakni mencapai 480.618 kasus. Sementara itu, per Agustus 2020, jumlah angka perceraian di Indonesia sudah mencapai 306.688 kasus.

Secara global, angka perceraian memang diprediksi meningkat, terutama akibat pandemi Covid-19. Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok, dan Swedia melaporkan kenaikan angka perceraian sepanjang pandemi Covid-19 (BBC, 2020). Firma hukum Stewarts yang berbasis di Inggris melaporkan, sebagian besar angka perceraian selama pandemi Covid-19 diajukan perempuan, yakni 76 persen. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 2019 yang hanya 60 persen.

Faktor psikologis sebagai dampak karantina wilayah cukup signifikan menjadi pemicu utama keretakan rumah tangga. Banyak istri yang menyimpan ekspektasi besar, jika karantina wilayah diterapkan, akan lebih banyak waktu bersama keluarga dan terjadi pembagian pengasuhan anak atau mengurus rumah yang berimbang bersama suami.

Faktanya, ekspektasi tersebut justru berbanding terbalik. Para suami ternyata juga bekerja dari rumah, yang bahkan kadang meningkatkan risiko stres. Alhasil, komunikasi suami-istri justru semakin kacau. Kebuntuan komunikasi mengakibatkan para suami-istri kadang mencari pelampiasan atau sekadar teman curhat, terutama dalam komunitas masing-masing. Praktik seperti itulah yang sering kali memicu retaknya rumah tangga dan memunculkan timbulnya peran pelakor (perebut laki orang) dan pebinor (perebut bini orang).

Urgensi Sertifikasi Pranikah

Komunikasi yang nyambung antara suami dengan pelakor atau istri dengan pebinor sering kali menjadi jalan bagi tumbuhnya benih-benih perselingkuhan. Benih tersebut akan sangat subur jika setiap hari dipupuk rumitnya komunikasi antara suami dan istri yang sah. Padahal, faktor komunikasi ini sejatinya telah menjadi materi nasihat dalam proses pranikah. Di sinilah pentingnya peran penghulu dalam mewujudkan rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Sebab, nasihat pranikah sejatinya sangat dibutuhkan, terutama untuk para calon pasangan suami istri (pasutri) yang berusia muda. Sebab, usia muda identik dengan semangat dan emosi yang bergelora sehingga komunikasi yang gagal antara suami-istri sering kali berdampak pada perceraian.

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads