Long Covid-19, Tragedi bagi Penyintas

Oleh ARI BASKORO *)
23 Januari 2021, 19:48:58 WIB

PERJALANAN pandemi Covid-19 ini sudah memasuki tahap pencegahan dengan dimulainya program vaksinasi. Secercah harapan dalam upaya menekan laju penularan infeksi virus diikuti fenomena kelabu dengan semakin banyaknya laporan terkait munculnya manifestasi klinis yang ’’tidak lazim’’ pada penyintas Covid-19.

Seorang penyintas diharapkan masih bisa memberikan uluran tangan berupa kontribusi plasma konvalesen dalam upaya membantu pemulihan sesama yang sedang dalam perawatan karena Covid-19. Namun, di sisi lain, mereka masih perlu mendapat perhatian lebih apabila mengalami berbagai macam keluhan, walaupun telah dinyatakan ’’sembuh’’ melalui pemeriksaan PCR dari spesimen hapus tenggoroknya. Long Covid-19 merupakan terminologi yang bisa disematkan pada seorang penyintas yang dalam kurun waktu berbulan-bulan mengalami gejala sisa akibat Covid-19 yang pernah dideritanya.

Data yang diperoleh dari pengamatan para penyintas, sebanyak 87 persen menunjukkan setidaknya masih ada satu gejala yang dialaminya setelah hampir dua bulan dinyatakan terbebas dari Covid-19. Keluhan paling sering diungkapkan berturut-turut adalah: perasaan lelah yang tidak hilang dengan istirahat yang cukup, terasa sesak atau napas terasa pendek, sulit berkonsentrasi, nyeri-nyeri pada persendian, demam, nyeri dada, dan batuk. Ada juga keluhan berkurangnya sensitivitas penciuman, mata terasa kering, hidung ’’meler’’, mata tampak merah seperti kurang tidur, hilangnya rasa mengecap makanan/minuman, nyeri kepala, batuk produktif (mengeluarkan banyak dahak), nafsu makan berkurang, nyeri telan, pusing, nyeri otot/pegal-pegal, sulit tidur, dan diare.

Long Covid-19 tidak hanya menghinggapi para penyintas pasca mengalami sakit yang berat, tapi juga bisa dialami penyintas yang bergejala ringan, bahkan tanpa gejala, namun telah terkonfirmasi sebagai kasus Covid-19. Keluhan yang tidak kunjung usai ini sering disalahartikan sebagai kasus depresi akibat trauma terhadap pengalaman buruk setelah menjalani perawatan yang bisa memakan waktu cukup lama.

Penyebab

Di Amerika Serikat, fenomena long Covid-19 ini disebut juga sebagai ’’long haulers’’. Terjadi pada 10 persen penyintas dan keluhan-keluhan tersebut berlangsung selama tiga bulan (lebih pada 50 persen hingga 80 persen kasus). Sulit bisa diprediksi profil individu yang mungkin mengalami ’’long haulers’’ ini. Namun, umumnya terjadi pada penyintas yang berusia di atas 50 tahun, memiliki komorbid lebih dari satu macam penyakit, dan lebih sering terjadi pasca mengalami gejala Covid-19 yang berat. Tidak sedikit laporan kasus pada penyintas yang status kesehatannya belum pulih setelah enam bulan dinyatakan terbebas dari Covid-19.

Para ahli saat ini memfokuskan perhatian pada proses inflamasi atau peradangan yang ’’tidak kunjung padam’’ setelah sistem imunitas tubuh ’’berkobar hebat’’ dalam upaya mengenyahkan virus di dalam tubuhnya. Fenomena ini sangat mirip dengan penyakit autoimun, di mana antibodi yang dibentuk untuk melawan virus seolah-olah menjadi liar dan tidak terkendali. Pada akhirnya, antibodi itu menyerang sel-sel organ tubuh sendiri layaknya senjata makan tuan.

Sistem imun manusia dirancang untuk menyerang mikroba yang sedang menginfeksi serta dapat mengendalikan dan membatasi dampak kerusakan jaringan yang ditimbulkannya. Tubuh manusia telah dianugerahi limfosit (salah satu bagian dari leukosit/sel darah putih) yang terdiri atas limfosit T dan B. Komponen imunitas ini memerlukan rentang waktu tertentu untuk mengidentifikasi dan mempelajari mikroba yang dihadapinya. Namun, apabila sudah ’’terlatih’’ (misalnya pascavaksinasi), limfosit ini dapat dengan cepat dikerahkan untuk mencari dan menghancurkan mikroba (virus korona) tersebut.

Limfosit T dan B saling bekerja sama melawan infeksi, tapi keduanya sangat berbeda fungsi dalam mengemban tugas melindungi tubuh dari berbagai macam penyebab infeksi tersebut. Sel B berfungsi membentuk antibodi yang akan mampu menetralisasi virus. Sedangkan limfosit T terbagi atas dua komponen penting, yaitu T sitotoksik yang dapat membunuh virus dan T helper yang bertugas membantu limfosit B menghasilkan antibodi serta mendukung aktivitas limfosit T sitotoksik. Semua komponen limfosit ini disebut sebagai sel efektor.

Seharusnya, saat virus penyebab Covid-19 tersebut telah mampu dieliminasi, sel efektor akan ’’padam’’ dengan sendirinya agar tidak terjadi kerusakan jaringan tubuh yang berlebihan. Namun, pada penyintas yang mengalami long Covid-19, sel efektor ini masih ’’menyala-nyala’’ hingga kurun waktu yang bisa berlangsung hingga berbulan-bulan. Para ahli belum bisa memastikan bagaimana pola respons imunitas sel-sel efektor dalam jangka panjang karena hal ini masih menjadi bahan kajian intensif. Meski demikian, sebagian peneliti mengkhawatirkan terjadinya fenomena ’’berkobarnya’’ kembali aktivitas sel-sel efektor apabila terinfeksi kembali dengan virus korona jenis yang sama atau jenis lainnya.

Rekomendasi

Karena belum diketahuinya secara pasti fenomena yang mendasari terjadinya long Covid-19 pada penyintas, belum ada tata laksana secara medis yang mesti dilakukan. Namun, para ahli sepakat menyarankan beberapa hal. Antara lain, jangan paksakan diri beraktivitas seperti saat sebelum mengalami Covid-19. Lalu, cukupkanlah waktu untuk beristirahat, baik secara fisik maupun mental.

Baca Juga: Peneliti Israel Temukan Semprotan Hidung, 2 Menit Bunuh Virus Korona

Saran lainnya, buatlah perencanaan agar aktivitas yang melelahkan tidak berlangsung setiap hari. Bikin juga skala prioritas dalam pekerjaan dan tidak semuanya harus dikerjakan sendiri.

Antibodi yang protektif pada penyintas Covid-19 akan mereda, bahkan menghilang dalam kurun waktu 3 hingga 6 bulan. Karena itu, vaksinasi Covid-19 sangat diperlukan bagi penyintas walaupun kebijakan pemerintah saat ini menyatakan bahwa hal tersebut bukan skala prioritas. Namun, bagi penyintas yang mengalami long Covid-19, sebaiknya menunda dilakukan vaksinasi sampai menunggu hasil kajian para ahli. Sikap kehati-hatian sangat diperlukan untuk mengambil suatu keputusan yang bijaksana. (*)


*) Ari Baskoro, Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/SMF Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD dr Soetomo Surabaya

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: