alexametrics

Etape Terakhir 2021

Oleh AHMAD ERANI YUSTIKA*
22 November 2021, 15:23:52 WIB

INSTABILITAS ekonomi belum berakhir. Berbeda dengan risalah triwulan II 2021 yang memperoleh tanggapan riuh dari publik, kinerja ekonomi triwulan III 2021 yang dilaporkan BPS direspons dengan irama lebih datar.

Sebelum diumumkan BPS, pemerintah, lembaga kajian ekonomi (seperti Indef), dan para ekonom memiliki konsensus nyaris seragam terkait pertumbuhan ekonomi, yakni di kisaran 3,5 persen (%).

Hasilnya, seperti yang diumumkan, pertumbuhan ekonomi triwulan III 2021 sebesar 3,51% year-on-year (YoY). Penurunan pertumbuhan ekonomi dibanding triwulan sebelumnya sebagian besar disumbang oleh keganasan pandemi yang mengamuk pada Juli 2021 (pertambahan orang terpapar sampai 56 ribu per hari saat puncaknya). Saat itu ekonomi kembali ”dilumpuhkan” via kebijakan PPKM sehingga menurunkan aktivitas ekonomi secara drastis. Situasi berangsur membaik sejak pertengahan Agustus hingga sekarang.

Keruntuhan Pertumbuhan

Beberapa negara maju merasakan getirnya serangan virus gelombang kedua (sebagian sekarang menghadapi gelombang ketiga) karena kehidupan ekonomi dan sosial kembali runtuh. Indonesia juga bukan perkecualian. Entakan gelombang kedua pandemi pada akhir Juni-Juli 2021 menyebabkan pertumbuhan ekonomi triwulan III 2021 hanya separo dari pertumbuhan triwulan II 2021.

Perlambatan itu terjadi pula secara global oleh sebab yang sama. Pertumbuhan ekonomi negara G20 mengalami penurunan, misalnya Tiongkok dan Amerika Serikat 4,9%, Singapura 6,5%, serta Uni Eropa 3,9%, akibat lonjakan pandemi varian Delta. Realitas menunjukkan, aneka ikhtiar yang telah dilakukan selama ini seperti sosialisasi protokol kesehatan dan vaksinasi tidak lantas mengubur pandemi. Artinya, ancaman akan terus mengintip jika kelengahan menjadi perilaku yang dilazimkan.

Editor : Ilham Safutra




Close Ads