alexametrics

Staycation ala Badrul

CATATAN FUAD ARIYANTO*
22 Mei 2022, 15:29:18 WIB

MATAHARI mengintip di timur. Jemaah salat Subuh di masjid kampung sudah bubar. Tinggal Badrul, guru ngaji anak-anak kampung, yang masih tafakur, duduk bersila menyandar pilar. Ketika Ramadan, jam segini masjid masih cukup ramai. Yang mengaji, yang menunggu waktu syuruk, yang tafakur, atau hanya ngobrol, sampai yang sekadar tiduran. Setelah Lebaran, masjid kembali sepi.

Tak lama kemudian, Badrul pun beranjak meninggalkan masjid. Meniti jalan kampung selebar sekitar 2 meter, Badrul melewati rumah-rumah kecil berdempetan. Dari rumah-rumah itu, terdengar suara orang berbincang, atau mengaji Alquran, atau suara dengkur penghuninya yang masih tidur lelap. Di antara rumah-rumah itu, ada yang berdinding papan tripleks atau bambu sehingga suara dengkuran keras bisa menerobos ke luar. Tak sedikit warga yang sudah membuka pintu rumahnya. Duduk merokok ditemani secangkir kopi. Hmm…

Di sebuah rumah tembok bangunan lawas, Badrul berhenti. Badrul melihat secangkir kopi yang masih mengepulkan asap dan sepotong lemper di meja teras. ’’Hmm…tumben ada temannya,’’ kata Badrul dalam hati. Dia tersenyum. Setelah melahap lemper dan menenggak habis kopinya, Badrul siap dengan motor bututnya untuk mengantar dua anaknya ke sekolah.

Badrul termenung di rumah sepulang dari sekolah anak-anaknya. Dari obrolan dengan orang tua murid di sekolah, Badrul tahu bahwa semua murid di kelas anaknya diwajibkan bikin karya tulis tentang aktivitas mereka selama libur Lebaran. Padahal, selama ini anak-anaknya berada di rumah saja tanpa aktivitas yang membanggakan mereka. Pikiran Badrul mumet (berputar), mencari aktivitas murah dan menyenangkan bagi anak mereka.

Tidak seperti biasanya, pagi itu ketika imam salat Subuh mengucap salam, Badrul langsung pulang. Di depan rumahnya terparkir motornya dan motor istrinya. Beberapa ransel menempel di hampir sekujur badan motor. Badrul melirik meja kecil di teras. Ada kopi. Kali ini pemain tunggal. Dia bersyukur. Di sela-sela menyiapkan segala sesuatu untuk staycation, istrinya masih sempat menyediakan kopi untuknya.

Untungnya, sehari sebelumnya Badrul mengumpulkan semua keperluan untuk acara itu yang dikemas dalam ransel besar. Ada tenda yang mampu menampung lima orang, kompor portabel berbahan bakar alkohol padat, kompor pompa berbahan bakar minyak tanah, lampu minyak, senter, dan lain-lain. Barang-barang tersebut merupakan bukti kegiatan Badrul ketika muda.

Satumi, istri Badrul, mengangkut anak bungsunya, perempuan. Badrul membawa dua anak laki-lakinya.

Di kawasan Pantai Kenjeran, tak jauh dari sungai kecil, mereka mendirikan tenda utama dan tenda dapur di sampingnya. Semua anaknya diwajibkan berpartisipasi dalam membangun tenda itu. ’’Kita tidak boleh tidur. Harus bekerja untuk makan malam,’’ ujar Satumi.

Mereka memang sengaja tidak membawa bekal makan dari rumah agar anak-anaknya paham, jika ingin makan, harus berusaha.

Si Mangil, anak pertama, langsung bereaksi. Dia pamit pergi ke luar. Menuju tempat parkir mobil dan motor tepi jalan yang penuh. Seizin tukang parkir, dia membantu mengarahkan mobil yang parkir maupun yang keluar. Ada satu-dua pemilik mobil yang memberikan tips kepada Mangil di luar ongkos parkir. Namun, semuanya diberikan kepada tukang parkir yang memberinya pekerjaan.

Cak Sidiq, tukang parkir itu, terkesan dengan kerja dan perilaku Mangil yang jujur dan sopan. Dia memberikan duit Rp 30 ribu kepada Mangil.

Dengan hati riang, Mangil kembali ke tenda. Di perjalanan, dia mampir ke warung membeli 2 kilogram beras dengan harga Rp 10.500/kg. Sisanya dibelikan kecap sachet-an dan kerupuk.

Di mana ibu dan adik-adiknya? Mencari ikan di kali. Satumi, perempuan asal Blawi, Glagah, Lamongan, memang biasa mencari ikan di kali. Kebetulan, di tepi kali yang tidak terlalu lebar itu, ada perahu kecil milik nelayan setempat. Satumi sudah meminta izin kepada pemilik perahu itu untuk pinjam ketika pemiliknya menambatkan perahunya.

Berbekal jala dan pakan ikan, Satumi mengajak dua anaknya, Mandra dan Patima, ke perahu. Di perairan yang agak dalam, Satumi memerintah Patima menebar pakan. Tak lama kemudian, ikan-ikan berkerumun melahap pakan yang ditebar itu. Satumi segera melempar jalanya ke kerumunan itu. Ketika mulut jala menutup, Satumi menarik jalanya yang otomatis terlipat kasar di perahu. Ikan-ikan menggelepar dalam jala. Satumi dibantu Patima mengambil ikan-ikan itu, lalu dimasukkan ke bakul yang sudah disiapkan, sementara Mandra berfokus mengayuh.

Dia pun mengajak anak-anaknya kembali ke tenda. Satumi menangani ikan-ikan tersebut. Mulai memotong ikan, membersihkan ikan, sampai mengiris kecil-kecil dan membumbuinya. Secara bergantian, ketiga anaknya mempraktikkan ajaran ibunya itu.

Badrul mengecilkan api kompor pompanya ketika tercium bau sangit. Dia mengangkat panci nasi liwet itu, menaruhnya di tatakan dari ranting kayu. ’’Malam ini kita makan nasi liwet gosong,’’ katanya yang disambut tawa anak-istrinya.

Matahari mengintip di timur. Jemaah salat Subuh di masjid kampung sudah bubar. Pulang ke rumah masing-masing. Tinggal Badrul, guru ngaji anak-anak kampung, yang masih tafakur, duduk bersila menyandar pilar.

Dia berniat iktikaf di masjid sampai waktu duha. Tak henti dia memuji syukur kepada Rabb-nya yang telah memberinya kenikmatan sempurna. Staycation yang dijalani keluarganya dirasakan sangat menyenangkan dan bermanfaat.

Dari aktivitas itu, karya tulis anak sulungnya terpilih sebagai karya terbaik dan ditempelkan di papan pengumuman sekolah sehingga bisa dibaca semua siswa. Nama Si Mangil pun masuk dalam deretan siswa berprestasi di sekolahnya. (*)

*) Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos 2007–2008

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads