alexametrics

Pintu Pertama Kartini Masa Kini Adalah Literasi

Oleh Ika Puspitasari, Wali Kota Mojokerto
22 April 2019, 08:25:59 WIB

140 tahun yang lalu, tepat di tanggal 21 April, seorang bayi perempuan lahir dari rahim M.A. Ngasirah. Bayi perempuan itu diberi nama Kartini, yang kelak akan harum oleh perjuangannya akan nasib para perempuan pribumi.

Kartini kecil hidup dalam lingkungan keluarga bangsawan yang kala itu sudah lazim menjalankan praktik poligami. Walaupun ibunya adalah istri pertama, ia bukan istri utama ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Pada masa itu, sistem kolonialisme mewajibkan bupati memiliki istri yang berasal dari kalangan bangsawan, ayah Kartini menikah lagi dengan RA Woerjan (Moerjam) yang merupakan keturunan langsung Raja Madura.

Sedari kecil, Kartini sudah bisa merasakan perbedaan perlakuan yang diterima oleh masing-masing istri ayahnya. Misalnya saja, kondisi ibunya hanya diperbolehkan menempati rumah di bagian belakang, dan tidak adanya gelar kebangsawanan “Raden Ayu” (RA) pada namanya. Kartini sendiri, karena terlahir sebagai putri bangsawan dari garis ayah, masih memperoleh keiistimewaan yang lebih dibanding ibunya.

Itulah yang membuatnya merasa bahwa sistem sosial pada masa itu begitu tidak adil. Ia kemudian menegaskan hanya ingin dipanggil dengan nama Kartini. Tanpa embel-embel gelar. Sebab, hal itu dianggap hanya semakin menjauhkan dirinya dengan sang ibu.

Meskipun demikian, hubungan Kartini dengan ayahnya sangat dekat. Ayah Kartini juga tergolong memiliki pemikiran yang lebih terbuka dibanding orang-orang lain pada masa tersebut. Beliau dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang menerapkan pendidikan Barat, dan oleh karena itu pula Kartini dan saudari-saudarinya diperbolehkan mengenyam pendidikan di Europese Lagere School (ELS).

Sayangnya, berdasarkan tradisi Jawa, setelah usia 12 tahun, Kartini harus menjalani masa pingitan sebelum kelak dijodohkan dengan pria pilihan keluarganya. Meskipun demikian, semangat Kartini untuk terus belajar sangat besar. Karena ia pernah mempelajari bahasa Belanda di sekolah, Kartini berinisiatif untuk meneruskan studi bahasanya di rumah, dan ia rajin berkorespondensi dengan kawan-kawannya yang ada di Belanda.

Kartini percaya bahwa dengan cara itulah ia–yang merupakan seorang bumiputera–dapat berkomunikasi dengan orang Belanda. Dari surat-menyurat itulah pemikiran Kartini semakin berkembang, karena ia bisa melihat perbandingan yang lebih luas terhadap kondisi sosial di sekelilingnya.

Pemikiran-pemikiran Kartini yang kritis untuk ukuran seorang perempuan pribumi kala itu, tidak serta-merta didapat dari perasaan tidak nyaman akibat diskriminasi yang diterima ibunya. Andai kata saat itu Kartini tidak bersentuhan dengan literasi, pola pikirnya mungkin akan serupa dengan sang ibu sendiri, yang kerap memilih “nrima ing pandum” terhadap kondisi yang diterimanya.

Kartini menyadari pentingnya pendidikan bagi perempuan berdasar pengalamannya sendiri. Di kala hasratnya begitu menggebu ingin menempuh pendidikan yang lebih tinggi, tradisi Jawa mengikatnya. Hampir semua perempuan Rembang yang ia lihat di sekelilingnya, hanya menyuarakan satu tujuan hidup yang sama: menikah dan punya anak.

Pada masa itu saja, Kartini sudah bisa melihat perbedaan yang mencolok dari kehidupan teman-teman perempuannya di Belanda dengan saudari-saudarinya yang hidup di Tanah Jawa. Jangankan sekolah ke universitas, melanjutkan sekolah yang lebih tinggi dari ELS saja ia tak diizinkan, apalagi memiliki pekerjaan seperti laki-laki.

Bagaimanapun juga, Kartini masih ‘jauh lebih beruntung’ dari perempuan-perempuan lain sebayanya karena mendapat akses literasi. Bisa baca-tulis. Bahkan dalam bahasa Belanda. Ia sadar betul akan pentingnya literasi, dan itulah yang mendorongnya membuka sekolah khusus perempuan di Jepara. Kartini mengawali gerakan emansipasi wanita dengan memberi akses pendidikan.

Bagi perempuan, literasi bisa diibaratkan sebuah pintu. Jika pintu itu dapat dibuka, maka seorang perempuan akan menemukan ribuan jalan yang bisa ia pilih untuk turut berkontribusi dalam masyarakat, entah itu dalam bidang sains, teknologi, ekonomi, budaya, kesehatan, bahkan pemerintahan.

Baru-baru ini, NASA merilis sebuah foto blackhole untuk pertama kalinya. Prestasi itu bisa dicapai berkat urun tangan seorang programmer perempuan bernama Katie Bouman. 50 tahun sebelumnya, pada 1969, programmer perempuan lain bernama Margaret Hamilton juga memegang andil besar dalam proyek Apollo yang berhasil mendaratkan manusia pertama di bulan.

Di Indonesia , ada sosok Alamanda Shantika yang turut memulai perkembangan bisnis startup Go-Jek dengan ilmu pemrogramannya. Ketiganya membuktikan bahwa pencapaian-pencapaian besar dalam sejarah peradaban umat manusia di bidang sains dan teknologi tidak melulu dikuasai oleh kaum laki-laki.

Literasi bisa dimaknai sebagai pengetahuan dan penguasaan akan suatu bidang, serta kemampuannya dalam mengolah informasi untuk kecakapan hidup. Seorang perempuan bisa saja memberikan kemajuan bagi bangsa walaupun tidak mengenyam pendidikan formal tertinggi. Indonesia memiliki sosok panutan bernama Menteri Susi Pudjiastuti, yang membawa kebijakan maritim Indonesia dengan pengalamannya selama bertahun-tahun di bidang tersebut.

Pengetahuan luas Menteri Susi tidak hanya meliputi bidang perikanan, tapi juga keseluruhan ekosistem laut Indonesia, termasuk keamanannya. Peran Menteri Susi itu tak lepas dari aksesnya terhadap literasi―tidak hanya secara tekstual, tetapi kontekstual.

Pada masa di mana teknologi telah semakin berkembang seperti sekarang, akses informasi kita semakin lengkap dengan adanya literasi digital. Dibutuhkan pemahaman dan tingkat literasi digital yang baik agar masyarakat dapat memilah dan menyerap informasi mana yang benar. Saat ini perempuan masih menjadi golongan yang rentan terhadap paparan informasi yang sifatnya hoaks, baik dari media sosial maupun media daring. Yang mengherankan, kondisi tersebut juga mencakup perempuan dari generasi muda.

Kondisi diperparah dengan adanya gerakan yang ingin mengembalikan perempuan pada kodrat domestiknya, dan ingin mencegah perempuan memiliki akses terhadap pendidikan yang lebih tinggi, menghilangkan aksesnya terhadap dunia profesi dengan jargon-jargon tradisional yang diusung melalui media daring maupun luring. Hal-hal semacam ini harus kita lawan.

Itulah sebabnya, penting sekali adanya akses literasi bagi para perempuan, tidak hanya untuk melindungi dirinya, tapi juga untuk menentukan sendiri peran apa yang akan diambilnya dalam masyarakat nanti. Bangsa kita akan menjadi lebih maju dengan partisipasi yang seimbang dengan dukungan dari kaum perempuan. Semangat Kartini dalam memperoleh pendidikan telah dimulai sejak lebih dari seabad yang lalu, dan masih akan kita teruskan hingga abad-abad selanjutnya nanti.

Editor : Dhimas Ginanjar