alexametrics

Optimisme dan Tantangan Ekonomi 2021

Oleh M.H. SAID ABDULLAH *)
22 Februari 2021, 19:48:50 WIB

KITA sudah berada di triwulan I 2021. Tak terasa, hampir setahun pandemi Covid-19 melanda dengan segala dampaknya. Namun, rasanya kita patut menghadapi tahun ini dengan harapan yang lebih baik. Tiongkok, Amerika Serikat, Turki, Brasil, dan beberapa negara di Eropa telah menjalankan program vaksinasi dengan progres yang baik. Mudah-mudahan program vaksinasi yang dicanangkan pemerintah segera berjalan masif, menjangkau lebih dari 181 juta penduduk setahun ini.

Ada beberapa argumentasi kenapa kita patut optimistis tahun ini. Pertama, program vaksinasi cegah Covid-19 telah dipersiapkan dengan matang dan secara bertahap akan menjangkau seluruh rakyat Indonesia. APBN 2021 menganggarkan program kesehatan cegah Covid-19 sebesar Rp 104 triliun. Perinciannya, untuk pengadaan vaksin, vaksinasi, dan sarpras pendukungnya. Anggaran itu diperuntukkan 181 juta penduduk yang menjadi target vaksinasi.

Kedua, kondisi makroekonomi Indonesia menunjukkan arah pencapaian yang baik pada pengujung 2020. Pada triwulan III 2020 tumbuh sebesar -3,49 persen (YoY), membaik dari triwulan sebelumnya sebesar -5,32 persen (YoY). Secara keseluruhan, pada 2020 pertumbuhan ekonomi RI -2,19 persen setelah pada triwulan IV pertumbuhan ekonomi kita minus 2,07 persen, sedikit lebih baik dari triwulan III 2020. Tingkat inflasi sampai Desember 2020 sebesar 1,68 persen (YoY) dan rata-rata nilai tukar rupiah USD 14.577. Dengan bekal ini, saya yakin pertumbuhan ekonomi kita tahun ini mencapai 3,3–4,2 persen.

Ketiga, desain APBN tahun ini diasumsikan atas dasar keadaan yang lebih baik jika dibandingkan dengan APBN perubahan 2020. Pada APBN perubahan 2020, pertumbuhan ekonomi diasumsikan -0,4–2 persen; inflasi 2–4 persen; nilai tukar rupiah di kisaran Rp 14.900–Rp 15.500; tingkat pengangguran 7,8–8,5 persen; dan tingkat kemiskinan 9,1–10,2 persen.

APBN 2021 mengasumsikan pertumbuhan ekonomi 5 persen dan tingkat inflasi 3 persen. Asumsi inflasi lebih tinggi daripada realisasi 2020 karena sisi demand ekonomi RI mulai bergerak kembali. Nilai tukar rupiah berkisar Rp 14.600/USD; tingkat pengangguran 7,7–9,1 persen; tingkat kemiskinan 9,2–9,7 persen; dan rasio Gini 0,377–0,379. Optimisme ini didasarkan pada kinerja ekonomi yang membaik di akhir 2020 sebagaimana penjelasan di atas.

Keempat, berbagai lembaga ekonomi dan keuangan internasional mengasumsikan keadaan ekonomi dunia pada 2021 lebih baik daripada tahun lalu. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia di kisaran 5,2 persen; Bank Dunia 4,2 persen; serta OECD 5 persen. Bahkan, asumsi pertumbuhan ekonomi 2020 sebelum ada pandemi Covid-19 oleh tiga lembaga keuangan ini lebih rendah daripada asumsi pertumbuhan ekonomi dunia 2021. IMF, misalnya, memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia 2020 sebesar 3,3 persen; OECD 3,3 persen; dan Bank Dunia 2,5 persen.

Tantangan Ekonomi 2021

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads