Amazon Dibantu Lontong Balap

CATATAN FUAD ARIYANTO*
22 Januari 2023, 15:13:20 WIB

DI salah satu hotel di Surabaya digelar resepsi pernikahan yang berlangsung khidmat. Mempelai selalu menebar senyum pada tamu-tamu yang hadir. Seakan mencerminkan isyarat optimisme menatap masa depan membina rumah tangga. Demikian juga kedua orang tua masing-masing. Wajah mereka ceria. Hatinya melantunkan doa, bersyukur atas karunia Allah SWT.

Padahal, beberapa hari sebelumnya mereka sempat galau karena pernikahan tersebut terancam tertunda gara-gara terganjal masalah administrasi kependudukan (adminduk). Ketika calon mempelai wanita memasukkan berkas terkait pernikahan melalui online ke dispendukcapil, beberapa dokumen ditolak. Sebab, ada ketidaksesuaian antara dokumen satu dan yang lain. Akibatnya, dia tak bisa mendapatkan surat pengantar nikah dari kelurahan untuk mengurus pernikahannya ke kantor urusan agama (KUA).

Panik. Apalagi waktu terus bergulir mendekati hari H. Untunglah, petugas kelurahan mengarahkan agar menyelesaikan masalah seperti itu lewat aplikasi Lontong Balap, layanan terpadu one gate system Dispendukcapil Surabaya dengan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, sebagaimana dikutip dari laman surabaya.go.id, mengatakan bahwa inovasi itu merupakan komitmen pemkot dalam melayani masyarakat. Program tersebut untuk memudahkan warga dalam mengurusi adminduk yang penyelesaiannya harus melalui pengesahan PN. Di antaranya, ganti nama, menambah nama marga, dan akta kelahiran.

Caranya mudah dan cepat dengan biaya murah. Pemohon cukup menyerahkan dokumen yang diperlukan ke kelurahan sesuai domisili. Petugas kelurahan akan memproses dokumen tersebut melalui aplikasi ke dispendukcapil untuk diverifikasi. Jika perlu pengesahan PN, petugas akan memberi tahu pemohon jadwal sidang dan biaya yang harus dibayar melalui transfer bank.

Pemohon tak perlu datang ke PN, tapi cukup ke Mal Pelayanan Publik di gedung Siola, Jalan Tunjungan. Sidangnya cepat. Tak lebih dari tiga menit. Keluar dari ruang sidang, semua berkas dan dokumen yang dimohonkan langsung diberikan. Seperti keluarga calon mempelai wanita pada awal cerita ini yang mengurusi pembaruan KK, KTP, dan akta kelahiran.

Sidang lontong itu digelar sekali sebulan. Biasanya akhir bulan, minggu ketiga atau keempat. Karena itu, pemohon harus memasukkan semua dokumen yang diperlukan sebulan sebelumnya.

Kasus seperti yang dialami calon mempelai itu ternyata cukup banyak. Ada perempuan lansia yang punya lebih dari lima nama. Mulai nama Belanda, Manado, sampai Jawa. Dia mengajukan satu nama saja yang tercatat dalam adminduk.

Sementara kasus dokumen calon mempelai wanita itu terdapat perbedaan nama ayahnya di ijazah dan akta kelahiran dengan nama yang tercantum di KK. Nama ayahnya di KK dan KTP memang tertulis dua nama. Dhochak Amazon/Achmad Dhochak.

Nama aslinya sebetulnya Achmad Dhochak. Sejak muda dia suka menulis. Mulai cerita konyol, cerita pendek, naskah drama, sampai puisi. Tulisan tersebut dikirim ke berbagai koran dan majalah. Ketika namanya mulai dikenal secara terbatas, seorang teman menyarankan agar namanya sedikit dimodifikasi. Nama Achmad Dhochak dinilai aneh, tidak keren, dan kurang komersial. Kedengarannya seperti merek obat batuk berdahak, katanya.

Pada tulisan berikutnya di koran lokal, namanya sudah tertulis D. Amazon. D mewakili Dhochak. Dalam perkembangannya, D. Amazon lebih dikenal di kalangan komunitasnya. Artinya, secara tidak resmi dia punya dua nama.

Ketika kantor catatan sipil membuka penerbitan akta kelahiran gratis, Amazon yang kebetulan mau bikin paspor memanfaatkan kesempatan itu. Dia berspekulasi memasukkan dua nama, Dhochak Amazon/Achmad Dhochak. Ternyata, tidak ada masalah. Di akta kelahirannya tertulis seperti yang diajukan. D. Amazon sudah resmi tercatat dalam administrasi kependudukan, pikirnya.

Persoalan baru muncul di administrasi sekolah. Ada nama D. Amazon di ijazah anaknya, sedangkan anak yang lain menggunakan Achmad Dhochak. Dualisme nama itu selalu jadi persoalan ketika mengurus adminduk maupun urusan lain. Misalnya, sistem di BPJS menolak mencetak kartu karena ada tanda garis miring (/) di kolom nama. ’’Harus pilih salah satu,’’ kata petugas.

Dulu, sebelum administrasi berbasis aplikasi, adanya dua nama itu tidak banyak persoalan. Cukup surat keterangan dari kelurahan yang menerangkan bahwa dua nama itu sebetulnya orang yang sama. Kini, model seperti itu tidak bisa dilakukan lagi. Ganti nama, ubah nama, harus ada pengesahan dari PN. Inovasi Lontong Balap itu membantu perubahan tersebut.

Selain Lontong Balap, Pemkot Surabaya juga punya aplikasi Lontong Kupang. Program itu kerja sama dispendukcapil dengan pengadilan agama, Kementerian Agama. Misalnya, untuk kasus pernikahan yang belum sempat dicatatkan di kantor catatan sipil atau KUA.

Beruntung, warga Surabaya punya aplikasi atau program Lontong Balap dan Lontong Kupang itu. Bukan tidak mungkin ke depan pemkot juga membuat aplikasi lontong cap go meh untuk memudahkan layanan lain lagi. Cap go meh bagi sebagian orang dikenal sebagai hari raya Khonghucu yang digelar tiap tanggal 15 setelah Tahun Baru Imlek hari ini. Gong Xi Fa Cai. (*)

*) Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos 2007–2008

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads