alexametrics

Ekosistem Halal, Tren yang Menjanjikan

Oleh MASTUKI H.S. *)
22 Januari 2021, 19:48:16 WIB

EKOSISTEM halal di Indonesia terus mengalami eskalasi dan tren yang menjanjikan. Sejumlah faktor ditengarai berkontribusi positif dalam perkembangan ekosistem halal. Sebut saja regulasi jaminan produk halal, seperti ditengarai Edi Purwanto, Menyongsong Era Baru Ekosistem Halal (Jawa Pos, 18/1/2021).

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memang menjadi pasar halal potensial dan challenging. Dengan jumlah penduduk muslim mencapai 209,1 juta jiwa (87,2 persen dari total penduduk Indonesia), permintaan akan produk dan jasa halal dipastikan besar. Artinya, ”keuntungan demografik” ini menjadikan Indonesia opportunity industri halal. Bahkan, hanya bermain pada local market saja sebenarnya cukup bagi Indonesia memenangkan persaingan industri halal dunia.

Apa alasannya? Potensi ke arah sana sangat menjanjikan. Market share perbankan syariah sudah berada di kisaran 5,7 persen, meski kalah jauh oleh market share perbankan konvensional yang berada di 94,3 persen. Pertumbuhan perbankan syariah Juli 2018 mencapai 14,6 persen secara tahun ke tahun (year-on-year/YoY). Sementara bank-bank konvensional pada periode yang sama hanya tumbuh 8,9 persen. Sampai Juni 2020, pangsa pasar perbankan syariah dalam negeri sebesar 6,18 persen. Industri ini diperkirakan tumbuh positif tahun ini, salah satunya adalah faktor megamerger (penggabungan) bank syariah anak usaha bank BUMN.

Selain layanan berbasis syariah, kesadaran masyarakat terhadap sertifikasi halal produk dan tumbuhnya halal lifestyle di kalangan muslim menjadi peluang baru pertumbuhan industri halal. Sertifikasi halal vaksin Sinovac yang diajukan PT Bio Farma (Persero) ke BPJPH, MUI, dan BPOM mendorong industri obat dalam negeri berstandar halalan thayyiban.

Dampak ikutannya, ekosistem halal akan menjangkau pasar yang luas dan variatif. Ada halal food, moslem fashion, pariwisata halal, haji dan umrah, zakat, sedekah, serta wakaf. Ekosistem halal ini mendongkrak pangsa pasar perbankan syariah. Halal food punya potensi Rp 2.300 triliun, moslem fashion mempunyai potensi hingga Rp 190 triliun. Sementara pariwisata halal di kisaran Rp135 triliun, haji dan umrah sebesar Rp120 triliun.

Ikon pariwisata halal (halal tourism) makin dikenal publik Indonesia. Sektor ini tak hanya menawarkan rekreasi atau lokasi wisata, tapi juga kuliner, penyediaan hotel ramah muslim (moslem friendly), layanan keuangan syariah, kebutuhan barang gunaan, fasilitas ibadah, hingga ekonomi sektor riil. Meski sempat terganggu pandemi Covid-19, sektor ini masih dipercaya memperkuat pertumbuhan industri halal di Indonesia.

Animo dan minat masyarakat menyelenggarakan haji dan umrah atau wisata religi mendorong industri pariwisata halal di tanah air. Perbaikan regulasi, pengawasan, pembiayaan, dan pelayanan yang dilaksanakan Kementerian Agama berimplikasi positif bagi pembenahan industri yang memadukan unsur religi dan wisata ini. Jamaah haji Indonesia sebanyak 231.000 (tahun 2019) adalah jumlah terbesar jamaah haji dunia. Secara industri, haji merupakan bisnis yang besar.

Bisnis umrah tak kalah menggiurkan. Jamaah umrah tercatat tak kurang 1,2 juta per tahun. Penyelenggara perjalanan ibadah umrah dan haji khusus (PPIU/PIHK) biasanya memadukan perjalanan suci ini dengan berbagai fasilitas tambahan, seperti makanan halal atau paket wisata ke negara lain (Turki, Mesir, atau Palestina).

Paket wisata religi di tanah air, misalnya, ziarah Wali Sanga masih tetap digemari masyarakat muslim Jawa dan Kalimantan. Ziarah seperti ini melibatkan sektor-sektor bisnis yang krusial. Seperti travel agent, ticketing, transportasi, edukasi, kuliner, layanan syariah, pembimbing ziarah, dan ekonomi sektor riil di masyarakat sekitar lokasi ziarah.

Masjid-masjid bersejarah dan berarsitektur indah di berbagai kota menjadi incaran pelancong yang ingin memuaskan dahaga spiritual. Kuburan atau makam para wali dan penyebar Islam tak pernah sepi dari ziarah setiap hari. Artefak kebudayaan, termasuk di dalamnya museum, tak luput dari jepretan wisman yang segera mengunggah via media sosial.

Berkelindan dengan itu, market moslem fashion terus menanjak. Saat ini Indonesia jadi kiblat islamic fashion dunia. Desainer-desainer busana muslim Indonesia memiliki market cukup besar di Asia, bahkan dunia, termasuk Uni Emirat Arab. Menurut laporan State of the Islamic Economy Report 2019-2020, di sektor ini Indonesia sebagai negara kedua tertinggi setelah Uni Emirat Arab.

Satu sektor lagi yang tengah digenjot pemerintah adalah kawasan industri halal (KIH). Kawasan ini peduli rantai pasok halal yang melibatkan pelaku usaha untuk berbagai produk makanan dan minuman, obat, kosmetik, ekonomi kreatif, serta garmen. Selaras dengan model ini, pada 2019 lalu Presiden Jokowi meresmikan Halal Park sebagai embrio proyek Halal District di kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.

Halal District ini rencananya menjadi pusat gaya hidup halal di Indonesia, selain ekosistem bagi para pelaku bisnis yang bergerak di industri halal. Industri yang dilibatkan dalam proyek ini mulai dari mode, makanan dan minuman, pariwisata, perbankan, hingga financial technology (fintech) syariah.

Baca Juga: Menyongsong Era Baru Ekosistem Halal

Dari sisi produktivitas, inisiasi Halal Park maupun KIH memberi jalan lempang hilirisasi berbagai produk halal yang sudah ada segmennya masing-masing. Ekosistem yang dibangun tuntas dari hulu ke hilir. Stimulus ke pelaku usaha dilakukan melalui halal supply chain management yang adekuat. Sisi hilir melibatkan multi-stakeholders halal melalui pembangunan berbagai sarana, seperti Halal District dan semacamnya.

Kalau kita berhasil memadukan konsep ini, optimistis semua kekuatan untuk mengangkat industri halal Indonesia ke tingkat dunia akan terlaksana. Dengan begitu, ekosistem halal diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi, ladang kreativitas dan produktivitas, serta mengangkat industri halal sebagai sumber kesejahteraan umat.


*) Mastuki H.S, Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal BPJPH Kementerian Agama RI

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads