Suara Lantang Prof Azyumardi Azra

Oleh HASIBULLAH SATRAWI *)
21 September 2022, 19:48:27 WIB

KEPERGIAN Prof Dr Azyumardi Azra menambah dalam kesedihan bangsa ini. Mengingat beberapa bulan sebelumnya, Buya Syafii Maarif juga meninggalkan kita semua. Kini bangsa ini juga ditinggalkan guru bangsa lain yang tak gentar untuk mengkritik penguasa sekalipun.

Perjumpaan penulis dengan beliau kali pertama terjadi di Kairo pada awal 2000-an. Saat itu beliau diundang untuk mengisi acara di kalangan mahasiswa Indonesia di Kairo, Mesir (Masisir). Penulis saat itu mewawancarai beliau untuk kepentingan buletin mahasiswa yang cukup legendaris di kalangan Masisir, Terobosan.

Setelah kembali ke Indonesia pada 2004, penulis lebih sering bertemu dengan beliau. Sesekali mengisi acara bersama, termasuk di salah satu talk show yang diadakan beberapa stasiun televisi. Pada 2018 Prof Azra berkenan memberikan epilog untuk buku penulis berjudul Jangan Putus Asa: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya.

Islam (di) Indonesia

Dalam banyak tulisan dan ceramahnya, Prof Azra selalu membanggakan pengalaman Islam (di) Indonesia yang belakangan dikenal dengan istilah Islam Nusantara atau Islam Berkemajuan. Pengalaman Islam (di) Indonesia menjadi contoh kepada dunia bahwa Islam tidak anti terhadap kemajuan, modernitas, dan demokrasi. Islam yang berkembang di Indonesia justru identik dengan kemajuan, adaptif terhadap realitas modernitas, sekaligus pro terhadap demokrasi.

Dalam perkembangan mutakhir di dunia Islam, pengalaman Islam seperti di Indonesia sangat istimewa. Termasuk bila dibandingkan dengan pengalaman Islam di beberapa kawasan lainnya. Di Timur Tengah, contohnya, Islam acap identik dengan aksi kekerasan, keterbelakangan, dan anti terhadap demokrasi. Kegagalan megaproyek mutakhir yang dikenal dengan istilah Arab Spring menjadi contoh betapa tidak mudah Islam yang berkembang di Timur Tengah untuk bersenyawa dengan demokrasi ataupun modernitas.

Adalah benar, negara-negara Arab Teluk saat ini menjadi kiblat kemajuan Timur Tengah dan dunia Islam, khususnya secara perekonomian. Namun, hampir semua sepakat bahwa pelbagai macam kemajuan yang ada di Arab Teluk saat ini lebih disebabkan oleh limpahan minyak daripada karena limpahan Islam yang lebih terbuka dan menghormati prinsip-prinsip demokrasi dan HAM.

Dalam pandangan Prof Azra, pelbagai macam pencapaian Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran ormas-ormas moderat seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan yang lainnya. Terlebih lagi, di Indonesia sebenarnya ada pihak-pihak tertentu yang menginginkan Islam dipraktikkan secara lebih mirip (juga dalam kekakuannya) dengan yang berkembang di Timur Tengah. Namun, upaya-upaya yang ada tidak mampu menembus benteng-benteng tradisi keislaman yang telah dipraktikkan ormas-ormas moderat seperti NU dan Muhammadiyah.

Mungkin karena ingin menghormati ormas-ormas moderat di Indonesia, belakangan Prof Azra acap berpenampilan dengan simbol-simbol yang digunakan ormas tersebut. Sebagai kader dan tokoh Muhammadiyah, identitas ke-Muhammadiyah-an beliau tidak perlu diragukan. Namun, belakangan Prof Azra juga acap tidak pernah lepas dari pakaian atau atribut yang acap identik dengan ormas lain seperti NU. Prof Azra sangat cinta terhadap Muhammadiyah, NU, dan ormas moderat lainnya. Alasan utamanya tentu saja karena beliau cinta terhadap Islam sebagai agama dan Indonesia sebagai negara.

Sikap Kritis

Alasan cinta itulah yang juga bisa digunakan untuk memahami pandangan-pandangan Proz Azra yang belakangan acap kritis terhadap penurunan kualitas demokrasi di Indonesia. Dalam beberapa tulisan terakhirnya di banyak media, Prof Azra acap menyoroti praktik demokrasi yang dianggap mengalami penurunan. Khususnya terkait dengan kebebasan berekspresi sebagai semangat dasar dari demokrasi.

Kebebasan berekspresi tentu tidak bisa lepas tanpa batas. Tapi, sejatinya batas dari kebebasan berekspresi adalah kebebasan masyarakat yang lain, bukan kebebasan atau kemaslahatan yang ditafsirkan oleh pemerintah ataupun aparat hukum semata-mata. Bila kebebasan berekspresi dibatasi oleh tafsir pemerintah, yang terjadi bisa dipahami sebagai praktik otoriter dari sebuah rezim.

Pada pemerintahan sebelumnya, negara acap dianggap kurang berpihak terhadap demokrasi, toleransi, dan pluralisme. Hingga kerap terjadi hal-hal yang bercorak intoleran. Tapi, pengalaman pemerintahan sekarang justru sebaliknya: di mana negara dianggap terlalu dominan dalam menafsirkan kebebasan, demokrasi, toleransi, bahkan juga Pancasila. Hingga yang terjadi bukan kebebasan, melainkan pengaturan. Yang terjadi bukan penghormatan, melainkan kewajiban untuk menghormati.

Akibatnya, timbul kekakuan, bahkan mungkin ketakutan untuk mengkritik pemerintah. Hanyalah segelintir orang yang tetap lantang mengkritik pemerintah, salah satunya adalah Prof Azra. Hal demikian terjadi karena mereka yang bersikap kritis terhadap pemerintah tak jarang berurusan dengan hukum. Kalaupun tidak berurusan dengan hukum, para pengkritik pemerintah acap mendapatkan serangan dari pihak-pihak yang dianggap sebagai pendukung pemerintah, khususnya di dunia maya.

Pada saat kritik ”semakin mahal” seperti belakangan, Prof Azra tetap tampil dengan suara lantangnya. Prof Azra seakan memberikan contoh bagaimana seharusnya kritik terhadap pemerintah dilakukan. Pun demikian, Prof Azra hendak menekankan bagaimana seharusnya pemerintah menyikapi sebuah kritik.

Sikap kritis Prof Azra terbaru bisa dilihat dari penolakannya terhadap proyek ibu kota negara (IKN). Bahkan, bersama beberapa tokoh lainnya, Prof Azra menjadi inisiator petisi yang menolak kebijakan IKN.

Dalam hal pemberantasan korupsi, kritik Prof Azra tidak kalah lantang, termasuk terhadap pemberlakuan UU Nomor 19 Tahun 2019 tentang KPK yang dianggap justru menggembosi KPK dari dalam. Prof Azra juga tidak segan-segan mengkritik pemberantasan korupsi belakangan ini yang hanya sebagai gimik.

Kini sang guru bangsa telah pergi. Beliau telah menyelesaikan tugasnya untuk menyuarakan yang wajib disuarakan. Selamat Jalan, Prof Azra. Terima kasih atas semua ilmu dan keteladananmu. (*)


*) HASIBULLAH SATRAWI, Alumnus Al-Azhar Kairo, pengamat politik Timur Tengah dan dunia Islam

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: