alexametrics

Investasi Mobil Listrik, RI Punya 3 Keunggulan

OLEH: FABBY TUMIWA*
21 Juni 2022, 11:00:09 WIB

INDONESIA punya beberapa daya tarik utama yang membuat investor kendaraan listrik dan industri baterai cukup agresif berinvestasi. Salah satunya adalah teknologi baterai kendaraan listrik yang membutuhkan banyak bahan baku seperti nikel, metal, dan mineral. Indonesia punya sebagian besar sumber daya itu.

Dengan teknologi baterai sekarang, nikel paling dibutuhkan. Indonesia punya cadangan nikel terbesar di dunia dengan kisaran stok 21 miliar ton. Jumlah tersebut kurang lebih 30 persen dari cadangan dunia. Kita juga punya kobalt, manga, aluminium bauksit, dan sebagainya.

Melalui segala sumber daya tersebut, investor pabrik baterai maupun produsen kendaraan listrik bisa membuat proses end-to-end yang terintegrasi.

Investor sangat mempertimbangkan hal ini karena rantai pasok yang terintegrasi membuat produksi jauh lebih efisien.

Kedua, Indonesia memiliki perekonomian yang baik dan pasar industri otomotif yang besar. Kendaraan roda empat terjual 1,1 sampai 1,2 juta unit per tahun. Kendaraan roda dua terjual 5–6 juta unit setiap tahun. Hal ini, di pandangan investor, merupakan potensi yang besar bagi produk baterai dan mobil listrik (moblis) itu sendiri. Apalagi, investor tahu bahwa saat ini pemerintah cukup gencar mengampanyekan pengurangan karbon dan efek gas rumah kaca.

Alasan ketiga yang tak kalah penting adalah letak geografis. Indonesia berada di posisi yang strategis karena cukup dekat untuk menjangkau seluruh kawasan Asia. Hal ini membuat Indonesia sangat potensial untuk dijadikan production hub. Paling tidak untuk pasar Asia Tenggara dan Australia.

Memang, negara tetangga seperti Thailand juga memiliki industri otomotif yang kuat. Tapi, dalam konteks kendaraan listrik, mereka bisa bikin kendaraannya, tapi apakah mereka punya sumber daya buat baterainya? Sudah ada dalam rencana Indonesia Battery Corporation (IBC) bahwa sebagian baterai yang diproduksi di Indonesia itu akan diekspor. Salah satu tujuan ekspor juga ke negara-negara yang sudah punya basis produksi kendaraan bermotor, tapi tidak punya sumber daya untuk produksi baterai listrik.

Lantas, apa yang perlu dipersiapkan pemerintah untuk menyambut semua itu? Tentu banyak hal. Regulasi perpajakan, persiapan lokasi, lahan, infrastruktur, hal-hal seperti itu rasanya menjadi kewajiban untuk diperhatikan. Pemerintah terlihat sudah bergerak ke arah sana seiring dengan pembangunan berbagai ruas jalan, pelabuhan, dan sebagainya. Kemudian, yang tak kalah penting adalah memperhatikan faktor sustainability dari sebuah rantai produksi industri. Banyak investor sekarang yang cukup concern pada konsep industri hijau. Katakanlah sebuah perusahaan baterai, sering kali mereka mempertanyakan sumber energi yang digunakan untuk mining. Mereka maunya green nickel atau nikel yang didapat dari proses sustainability mining practice.

Indonesia punya banyak potensi energi baru terbarukan yang lebih bersih jika dibandingkan dengan PLTU biasa. Di sini pemerintah juga perlu menaruh perhatian bahwa tidak hanya mengajak investor untuk datang. Tapi juga mulai memperhatikan apa yang menjadi concern mereka dalam menentukan sebuah tempat untuk membuka investasi baru.

*) FABBY TUMIWA, Executive Director Institute for Essential Services Reform

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : agf/c19/oni

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads