alexametrics

Catatan Haul Ke-52 Sukarno: Warisi Apinya, Juga Abunya

Oleh KUKUH YUDHA KARNANTA *)
21 Juni 2022, 19:48:24 WIB

SETIDAKNYA, pasca-Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila, memori kolektif tentang Sukarno (1901–1970) semakin dirayakan luas. Perayaan itu via beragam aktivitas seperti upacara, perlombaan, sekolah kebangsaan, diskusi sejarah, dan lainnya. Juni menjadi ”Bulan Bung Karno”.

Warisi Apinya, Jangan Abunya menjadi slogan resmi demi meneladani legasi Sukarno. Pertanyaannya, api apa yang mesti diteladani dan abu mana yang tak boleh diwarisi?

Sukarno dalam Praktik

Dari buku otobiografi berjudul Penjambung Lidah Rakjat, lintasan hidup Sukarno memang lekat dengan bulan Juni. Terlahir dengan nama Raden Koesno Sosrodihardjo pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Sukarno lulus dari Hoogere Burgerschool (HBS) pada 10 Juni 1921. Kemudian meninggalkan kota kelahiran –yang dia sebut sebagai Dapur Nasionalisme– untuk selanjutnya meniti pendidikan sebagai arsitek di Technische Hoogeschool te Bandoeng. Pada 16 Juni 1930, Sukarno mengetahui kali pertama dari surat kabar bahwa dirinya akan dihadapkan ke pengadilan kolonial –yang menginspirasinya menulis pleidoi sekaligus salah satu karya pentingnya: Indonesia Menggugat.

Juni 1943, Sukarno menikah dengan Ibu Fatmawati. Pada 1 Juni 1945, Sukarno membabar philosofische grondslag (dasar filosofis) Indonesia dalam pidato berjudul Lahirnja Pantja Sila. Di bulan Juni pula Sukarno wafat, tepatnya pada 21 Juni 1970. Total 25 bintang tanda jasa dari dalam maupun luar negeri, termasuk gelar Pahlawan Nasional, yang disandang Sukarno.

Pengakuan atas jasa besar Sukarno tentu bukanlah sesuatu yang didapat secara mudah. Melainkan karena investasi perjuangan panjang dalam hal intelektual serta komitmen kuat dalam pergerakan nasional, khususnya di masa muda. Sejak muda, Sukarno merupakan salah satu tokoh terkemuka dengan modal lengkap, strategi jitu, dan visi seorang pemimpin. Yakni keluasan wawasan dan ketajaman berpikir, keterampilan memengaruhi massa lewat orasi yang memukau, kemampuan menghadirkan karisma diri, semangat egalitarian yang membuatnya sangat dekat dengan golongan mana pun, serta prinsip persatuan dan gotong royong.

Habitus Sukarno terbentuk dari kelindan antara keterbatasan ekonomi, nilai-nilai budaya khususnya Jawa, sistem pendidikan Eropa, dengan latar struktur masyarakat kolonial yang menindas dan diskriminatif. Surabaya yang dikenal dengan karakter budaya arek yang blak-blakan dan pemberani boleh jadi adalah salah satu lokus terpenting terbentuknya karakter kepemimpinan Sukarno semasa indekos di Peneleh dalam naungan HOS Tjokroaminoto.

Beragam diskusi, bacaan, serta keterampilan lain dipelajari Sukarno. Modal kultural (intelektual) dan sosial (jaringan) Sukarno paling mula dibentuk di Surabaya, untuk kemudian digunakannya di arena politik Hindia Belanda di fase hidup setelahnya. Pun pengalaman hidup di berbagai daerah seperti Bandung, Bengkulu, Ende, Yogyakarta, dan lainnya, memungkinkan Sukarno mempelajari keragaman budaya bangsanya secara langsung, yang kelak menyala dalam visi bernegaranya.

Keluasan wawasan Sukarno tampak terang dalam karya-karyanya seperti Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme (1926), yang dengan teramat berani mencoba menawarkan sintesis antara pandangan-pandangan dalam ajaran Islam dan filsafat kritis basis gerakan revolusioner di dunia. Dalam karya itu, Sukarno berupaya memadukan dan ”membumikan” dua -isme besar dunia dengan menambahkan isu kemerdekaan bangsa-bangsa Asia. ”Supaja kaum buruh di negeri-negeri Asia dengan leluasa bisa mendjalankan pergerakan jang sosialistis sesungguh-sungguhnja, maka perlu sekali negeri-negeri itu merdeka, perlu sekali kaum itu mempunjai nationale autonomie (otonomi nasional).” Di usia semuda itu, visi Sukarno bukan hanya dalam konteks Indonesia, melainkan Asia.

Tidak hanya piawai mengutip kata kunci dari para filsuf, tokoh, atau teoretisi hukum dan politik, tulisan Indonesia Menggugat (1930) menunjukkan penguasaan Sukarno pada data kekayaan Indonesia yang ”diangkut” ke Belanda. Dengan teramat rinci, Sukarno membabar, ”Memang milyunan rupiah harganya hasil-hasil perusahaan kapital asing itu yang saban tahun diangkut dari Indonesia, milyunan rupiah besarnya harga pengeluaran hasil-hasil itu saban tahun… Pendek kata, saban tahun kekayaan yang diangkut dari Indonesia, sedikit-dikitnya f 1.500.000.000,-!”

Sekali lagi, penggalan kutipan itu disampaikan Sukarno saat berusia 29 tahun. Sukarno muda tidak hanya menunjukkan keluasan wawasan dan visi, tapi juga nyali untuk menggunakannya sebagai suatu pleidoi sekaligus gugatan tajam kepada pemerintah kolonial.

Kurang lebih 15 tahun setelah menunjukkan nyali menggugat di pengadilan itu, Sukarno jugalah yang bernyali menulis dan membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negara. Sukarno boleh jadi tidak lama berprofesi sebagai arsitek. Namun, tanpa mengecilkan peran dari para bapak bangsa lainnya, sukar untuk tidak mengakui Sukarno adalah salah satu ”arsitek” terpenting berdirinya bangsa Indonesia.

Keteladanan

Tetapi, tidak ada gading yang tak retak. Betapapun banyak dan nyaris tidak tergoyahkan legitimasi yang direngkuh Sukarno sebagai bapak bangsa, ada saja hal-hal yang ditafsirkan sebagai kelemahan atau ”kesalahan” Sukarno. Misalnya anggapan Sukarno sebagai influencer Jepang saat romusa atau juga sederet nama perempuan jelita yang kerap dikaitkan dengannya. Meskipun hal tersebut masih debatable, apabila benar itu adalah ”abu” dari Sukarno, haruskah lebih baik dilupakan atau dianggap tidak perlu disampaikan kepada generasi kiwari? Penulisan narasi berikut penjelasan yang berimbang tentang tokoh bangsa, siapa pun itu, mutlak diperlukan.

Gelap dan terang merupakan dualitas, bukan dualisme. Keduanya ada dan sama-sama perlu dipelajari, ditafsirkan, dan diaktualisasikan sesuai dengan semangat zamannya. Seperti pernyataan Sukarno yang kerap dikutip, ”Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya.” Artinya, bangsa ini perlu mewarisi apinya, juga abunya.

Karyamu abadi, Bung. (*)


*)  KUKUH YUDHA KARNANTA, Pengajar di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FIB Universitas Airlangga Surabaya, Peraih Kritik Film Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2021

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads