alexametrics

Refleksi Hari Kartini: Asa Kepemimpinan Perempuan Pandemial

Oleh ANDY YENTRIYANI *)
21 April 2022, 19:48:39 WIB

Lebih dari 4 juta perempuan yang kehilangan pekerjaan di masa pandemi tidak pernah bisa memperoleh pekerjaan lagi. Persepsi perempuan sebagai pencari nafkah tambahan adalah salah satu alasan yang memperburuk kerentanan perempuan pada PHK dan kesulitan mendapatkan pekerjaan baru. Persepsi itu juga yang menjadi faktor perbedaan penghasilan antara laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan yang sama, dengan disparitas pada 2021 masih sebesar 26,5%.

Selain persoalan krisis ekonomi, perempuan pandemial harus menghadapi kesulitan untuk menyikapi tantangan masa depan terkait model pendidikan yang diyakini sudah ketinggalan zaman. Kondisi serupa itu juga hadir di Indonesia. Sistem pendidikan kita masih berorientasi pada hafalan, membatasi cara pikir kritis, dan minim ruang kreativitas. Apalagi terkait penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), yang semakin tampak di masa pandemi ini ketika ruang belajar berpindah digital.

Kondisi pendidikan akan sangat memengaruhi kapasitas kepemimpinan perempuan. Saat ini rata-rata lama sekolah di Indonesia masih sangat rendah, yaitu 8,9 tahun di mana rata-rata lama sekolah anak perempuan lebih pendek 0,6 tahun daripada laki-laki. Akses pendidikan anak perempuan juga dipengaruhi usia perkawinannya. Pada 2021, berdasar data pengadilan agama, ada 59.709 permohonan dispensasi perkawinan anak yang dikabulkan, turun 7% dari tahun sebelumnya. Dengan data tersebut, diperkirakan ada 53 ribu anak perempuan yang menikah dan berpotensi untuk berhenti bersekolah.

Belum lagi persoalan kekerasan berbasis gender yang harus dihadapi perempuan. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat lonjakan pelaporan kasus kekerasan terhadap perempuan semasa pandemi. Pada 2021 kasus yang dilaporkan langsung meningkat 80% dan dari 3.838 kekerasan berbasis gender terhadap perempuan, 66% adalah kekerasan yang terjadi di ruang personal. Termasuk kekerasan di dalam rumah tangga terhadap istri dan anak perempuan. Komnas Perempuan juga mencatat kenaikan 72% kasus kekerasan seksual, yang mengakibatkan perempuan korban terpuruk, bahkan ada yang sampai memutuskan untuk menghilangkan nyawa sendiri.

Arah Penguatan

Mengubah cara pandang masyarakat pada kepemimpinan perempuan dan memastikan akses serta manfaat dari penggunaan akses pendidikan dan upaya pemberdayaan bagi perempuan menjadi basis utama menguatkan kepemimpinan perempuan. Langkah afirmasi untuk pemenuhan hak maternitas perempuan pekerja dan menciptakan lingkungan kerja yang bebas dari diskriminasi dan kekerasan juga kunci bagi penguatan kepemimpinan perempuan.

Tentunya langkah afirmasi juga diperlukan untuk mendorong lebih banyak perempuan menempati posisi pengambil keputusan. Koreksi terkait sistem pendidikan dan kebijakan ekonomi juga perlu menjadi bagian integral dalam menyiapkan kapasitas kepemimpinan perempuan pandemial. (*)


*) ANDY YENTRIYANI, Ketua Komnas Perempuan

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: