alexametrics

Refleksi Hari Kartini: Asa Kepemimpinan Perempuan Pandemial

Oleh ANDY YENTRIYANI *)
21 April 2022, 19:48:39 WIB

SELAIN masih berhadapan dengan persoalan kultural, kepemimpinan perempuan kini ditantang oleh dampak pandemi Covid-19 yang memperbesar kesenjangan di dalam masyarakat. Pandemi Covid-19 bagai serangan mendadak pada tatanan kehidupan manusia. Ia menghadirkan krisis yang menuntut perubahan fundamental, multidimensi, sistemis, dan berkelanjutan.

Persebaran Covid-19 yang tidak terduga juga menuntut percepatan respons pada yang telah terjadi dan sekaligus mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan tidak terduga lainnya. Kepekaan pada masalah, kegigihan, daya adaptasi, dan resiliensi perempuan menjadi modalitas penting kepemimpinan perempuan. Dalam menghadapi tantangan ke depan, kapasitas kepemimpinan perempuan perlu ditopang dengan menguatkan pengetahuan, mengasah kreativitas, dan meningkatkan keterampilan digital.

Pandemi dan Kepemimpinan Perempuan

Di dalam situasi krisis serupa ini, perempuan memiliki kemampuan untuk menghadapinya dengan lebih baik daripada laki-laki. Saat ini, dari 241 negara di dunia, 21 di antaranya dipimpin perempuan. Dari sejumlah kajian, selain para pemimpin negara, para pemimpin perempuan di berbagai lapis pemerintahan menunjukkan kapasitas kepemimpinan efektif dalam memastikan langkah menyikapi pandemi. Selain mampu ”mendatarkan” kurva persebaran virus, mereka cakap berkomunikasi dengan lebih transparan dan empatik berbasis fakta mengenai kondisi kesehatan masyarakat.

Model kepemimpinan perempuan yang lebih merangkul, bekerja bersama dalam menyikapi tantangan, juga berkontribusi pada efektivitas penyikapan situasi krisis. Keberhasilan kepemimpinan perempuan ini mematahkan banyak mitos yang menghalangi pengakuan dan dukungan kepada kepemimpinan perempuan.

Hal yang sama dapat kita lihat di Indonesia. Perempuan segera bergerak untuk menyikapi dampak pandemi. Mereka bergotong royong membuat masker kain dan sebagian dibagikan gratis. Ada pula yang membangun dapur umum, menggalang dana publik, dan menyalurkannya kepada pihak-pihak yang membutuhkan.

Perempuan juga berkreasi mencari tambahan untuk menopang ekonomi keluarga yang terdampak pandemi. Misalnya berjualan makanan secara daring. Sebagian besar sambil merawat anggota keluarga yang sakit, menemani anak belajar, dan melayani suami yang bekerja dari rumah.

Usaha perempuan dalam skala mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peran besar untuk menopang perekonomian Indonesia. UMKM menyumbang 60 persen (%) dari total ekonomi nasional serta 97% dari sisi penciptaan dan penyerapan tenaga kerja. Saat ini 57% dari 63,9 juta pelaku usaha mikro dan 34% dari 44,7 pelaku usaha menengah adalah perempuan dan 56% dari 193 ribu usaha kecil dimiliki perempuan.

Tantangan Pandemial

Berbagai kajian global menunjukkan bahwa kesenjangan dunia menjadi semakin tajam akibat pandemi Covid-19. Bank Dunia (2021) mencatat ada lebih dari 100 juta jiwa yang menjadi miskin di tahun awal pandemi Covid-19 dan sekitar 689 juta jiwa hidup dalam kemiskinan yang berat, yaitu dengan penghasilan kurang dari USD 1,9 per hari (Rp 27.000/hari). Setengah dari kelompok itu adalah anak. Juga, pada setiap negara dan usia, perempuan adalah yang terbanyak dari kelompok miskin tersebut. Jurang kemiskinan diperburuk dengan hierarki sosial lainnya di dalam masyarakat, seperti ras, etnis, agama, dan kasta.

Meski termasuk salah satu negara yang masih mampu bertahan dengan kenaikan pertumbuhan ekonomi 3,9% (BPS, 2021), kemiskinan akibat pandemi juga dirasakan di Indonesia. Pada akhir 2021 proporsi masyarakat dalam kondisi kemiskinan ekstrem mencapai 4%, terbesar sejak 2015. Berdasar kajian Badan PBB untuk Pembangunan (UNDP, 2021) tentang kemiskinan ekstrem yang bersifat multidimensi, Indonesia berada di peringkat ke-28 dari 43 negara yang dikaji.

Perempuan jelas paling rentan menghadapi kemiskinan ekstrem. Pandemi meningkatkan kerentanan perempuan menghadapi pemutusan hubungan kerja (PHK) dan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan baru. Organisasi Perburuhan Dunia/ILO (2022) menyebutkan bahwa perempuan muda dua kali lebih rentan menghadapi PHK daripada laki-laki dan pada negara-negara menengah ke bawah, ruang kerja bagi perempuan berkurang 15,8%.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads