alexametrics
Lingua

Menang atau Terpilih

Oleh UMAR FAUZI BALLAH*
21 April 2019, 12:10:32 WIB

JawaPos.com – Dalam sejarah politik Indonesia, kata menang telah digunakan sejak pemilu pertama Indonesia tahun 1955. Harian Rakjat edisi Senin, 3 Oktober 1955, misalnya, pernah menurunkan berita utama berjudul Di Djokjakarta, ibu kota revolusi, PKI menang. Jika pemilu pada akhirnya dimaknai sebagai ajang perebutan kekuasaan antarkandidat, kata menang seolah tanpa persoalan. Namun, secara etik, kata menang menanggung persoalan.

Dalam KBBI V daring, me.na.ng diartikan: “v dapat mengalahkan (musuh, lawan, saingan); unggul/meraih (mendapat) hasil (perolehan) karena dapat mengalahkan lawan (saingan).”

Secara khusus, menang tepat digunakan sebagai hasil akhir dalam pertandingan atau perlombaan yang mensyaratkan keunggulan ego: pribadi atau tim. Dengan demikian, kata menang dalam pemilu, pilpres, maupun pilkada (pemilihan kepala daerah) menjadi pilihan kata yang peyoratif lantaran politik kekuasaan adalah ranah pengabdian yang bersumber dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Mari kita simak kata yang digunakan dalam politik Indonesia. Lembaga resminya dinamai KPU, Komisi Pemilihan Umum. Kerja utama lembaga itu adalah melaksanakan pemilihan wakil rakyat dengan varian: pemilu, pemilihan umum; pilpres, pemilihan presiden; maupun pilkada, pemilihan kepala daerah. Artinya, semua diksi yang dipakai berasal dari kata dasar pilih.

Pemilihan adalah kata benda yang diturunkan dari kata kerja aktif memilih. Karena itu, pemilihan bermakna proses memilih. Dalam logika ini, munculnya menang sebagai diksi yang mengacu pada hasil akhir pemilu menjadi sumbang. Sebagai tawaran, mungkinkah kata terpilih dihadirkan sehingga memiliki kesatuan makna dengan lembaganya, KPU. Varian kalimatnya nanti bisa ditulis: “Si Fulan terpilih sebagai Presiden RI” atau “Partai A menjadi pilihan rakyat di Kampung Z”.

Secara gramatikal, kata terpilih adalah jenis kata kerja pasif. Hal itu menjadi logis sebagai diksi karena dalam proses pemilihan, yang dipilih pada dasarnya merupakan subjek pasif (calon presiden), sedangkan yang memilih merupakan subjek aktif (pemilih). Hal tersebut berbeda dengan kata menang yang menyiratkan makna bahwa yang dipilih merupakan subjek aktif sehingga layak dipertanyakan menang atas siapa jika pesta demokrasi adalah milik bersama.

Kalimat “Si Fulan menang (pilpres)”, misalnya, secara gramatikal semakna dengan kalimat “Mike Tyson menang”. Namun, dalam kontestasi politik kekuasaan, menang bukan bersifat adu unggul sebagaimana dalam perlombaan. Kata menang pun tidak akan lahir jika tidak dipilih rakyat. Artinya, yang terjadi sebenarnya dia terpilih, bukan menang.

Untuk itu, kata menang yang sudah “disahkan” dalam tata lembaga partai politik perlu juga diubah. Jika selama ini parpol memiliki divisi yang disebut “tim pemenangan”, mungkin perlu dikenalkan “tim keterpilihan”.

Hal tersebut lebih sesuai dengan runutan istilah pemilu, dan pe- adalah pemilihan. Karena itu, kata keterpilihan bisa digunakan yang bermakna hal terpilih. Sama halnya dengan kata kemenangan yang bermakna hal menang. Divisinya pun bisa diberi nama “tim keterpilihan”.

Ketika seorang pemimpin mengatakan bahwa keterpilihannya sebagai pemimpin bukan soal menang dan kalah, ada kesadaran dalam dirinya bahwa politik kekuasaan bukan ajang lomba. Meski begitu, klausa “bukan soal menang dan kalah” yang sering disampaikan dalam pidato keterpilihan pada dasarnya kontradiktif dengan adanya divisi struktural yang disebut “tim pemenangan”, pun istilah “pidato kemenangan”. (*)

*) Pengelola Komunitas Stingghil Sampang dan pengajar di Ganesha Operation

Editor : Ilham Safutra