alexametrics

Kongres tanpa Keinginan untuk Berubah

Oleh MOHAMMAD ILHAM, Wartawan Jawa Pos
21 Januari 2019, 16:24:48 WIB

JawaPos.com – Edy Rahmayadi mundur dari jabatan ketua umum dalam kongres tahunan PSSI di Bali pada 20 Januari. Apakah itu pertanda baik atau buruk bagi masa depan sepak bola Indonesia? Apakah harapan pencinta bola akan sepak bola yang bermartabat tanpa kecurangan akan tercapai?.

Juga, masih banyak pertanyaan lain di kepala kita.

Saya tidak bisa menjawab dengan gamblang. Hanya waktulah yang menjadi hakim paling adil sekaligus kejam untuk melihat ke mana semua akan bermuara. Namun, situasi dan dinamika dalam kongres bisa menjadi gambaran masa depan sepak bola kita, setidaknya hingga satu tahun ke depan.

Tuntutan agar Edy mundur dari jabatannya lantang disuarakan sejak dia menjabat gubernur Sumut. Memang tidak ada landasan hukum yang dilanggar atas rangkap jabatan itu. Hanya, yang jadi pertanyaan, di tengah segala kesibukannya dan jarak yang terbentang antara Medan dan Jakarta, mampukah dia membagi tugas dan konsentrasinya?

Lalu, karena begitu brutalnya kecurangan di Liga 2 dan Liga 3, situasi menjadi semakin runyam. Bermula dari Dagelan di Sleman yang diberitakan oleh Jawa Pos pada edisi 7 November 2018. Pertandingan antara PSS Sleman versus Madura FC itu benar-benar menghina akal sehat penonton.

Sejak itu, satu per satu borok kompetisi di tanah air terkuak. Bermula dari Dagelan di Sleman yang berujung mundurnya ang­gota Exco PSSI Hidayat karena teriakan Manajer Madura FC Januar Herwanto atas percobaan penyuapan pada laga musim reguler Liga 2 antara PSS versus Madura FC.

Setelah itu, bola semakin liar dengan teriakan dari Lasmi Indaryani, mantan Manajer Persibara Banjarnegara. Akhirnya, pada 21 Desember 2018 Kapolri Jenderal Tito Karnavian meresponsnya dengan membentuk Satgas Antimafia Bola. Sejak satgas terbentuk hingga saat ini, sudah sebelas orang dijadikan tersangka atas kasus-kasus culas sepak bola kita.

Bahkan, anggota Exco PSSI Johar Lin Eng dan anggota Komdis PSSI Dwi Irianto alias Mbah Putih pun kena. Hidayat dalam bidikan. Sulit untuk dikatakan ini bukan situasi darurat di PSSI. Sayang, situasi darurat itu tidak tergambar dalam Kongres Tahunan PSSI 2019 di Bali. Faktanya, tidak ada pembahasan soal pergantian tokoh-tokoh yang bermasalah tersebut.

Tentu bukan hanya itu. Ada satu hal yang mungkin bisa kita harapkan. Kongres menghasilkan keputusan pembentukan Komite Ad Hoc Integrity yang dikepalai Ketua Asprov PSSI Jatim Ahmad Riyadh dengan mantan Sekjen PSSI Azwan Karim sebagai wakil. Riyadh dalam obrolan santai dengan saya setelah kongres berkata akan merekrut orang-orang dari lingkaran luar PSSI alias orang-orang profesional untuk bergabung dalam tim kecilnya. Bisa dari unsur kepolisian atau akademisi.

Tugas komite ad hoc itu tidaklah ringan. Di tengah rendahnya kepercayaan publik kepada PSSI, langkah awal mereka tidak boleh keliru. Langkah awalnya adalah membentuk tim kecil, solid, dan mampu melakukan kerja-kerja investigasi yang selama ini belum bisa dilakukan oleh Komdis PSSI. Kalau komdis lebih banyak bertugas menyidang dan memutuskan berdasar laporan dari perangkat pertandingan, PSSI, dan PT Liga Indonesia Baru (LIB), komite ad hoc dipaksa untuk benar-benar turun ke bawah dan mencari fakta-fakta pelanggaran terhadap integritas di sepak bola kita.

Karena itu, butuh dari unsur polisi yang terbiasa melakukan penyelidikan dan butuh juga dari intelektual atau akademisi yang cerdas dalam melihat setiap celah serta mengantisipasinya. Yang tak kalah penting, integritas mereka harus teruji di mata publik. Apalagi, masih orang yang itu-itu saja, maka harapan kita akan komite ad hoc akan layu sebelum berkembang.

Kolaborasi dengan Satgas Antimafia Bola juga penting. Entah dalam bentuk MoU atau apa pun itu. Selain itu, komite ad hoc harus benar-benar bisa memaksimalkan Genius Sports atau Sportradar untuk menganalisis kejanggalan dalam sebuah pertandingan sepak bola. Selama ini, perangkat itu belum benar-benar difungsikan sebagaimana mestinya. Padahal, dari sana selalu muncul petunjuk awal ada match fixing atau tidak dalam sebuah pertandingan. Ingat, hanya petunjuk awal.

Selain itu, tidak banyak yang bisa saya harapkan. Sebab, PSSI masih dikendalikan oleh sosok-sosok yang sama dan voter juga tidak berniat melakukan perubahan. Juga, keputusan Edy mundur dari jabatannya sebenarnya terdengar sejak malam sebelum kongres. Sinyalnya pun mulai terasa saat gala dinner Sabtu, 19 Januari. Ya, dukungan untuk Edy surut sejak gala dinner. Harapan pembina PSMS Medan itu agar bisa bertukar pendapat sebelum kongres hanya direspons dingin. Dari 85 voter yang sudah mendaftarkan diri ikut kongres, hanya 20-an yang hadir di gala dinner. Padahal, rata-rata sudah berada di Bali malam itu. Setelah gala dinner, dimulailah gerilya untuk pembahasan kongres keesokan harinya. Beberapa voter berkumpul dan bernegosiasi. Atau hanya bertemu untuk membicarakan jual beli lisensi klub. Namun, suasana begitu tenang dan senyap, seolah itu bukan kongres pada masa yang darurat di mana PSSI jadi sorotan.

Seorang voter dari Liga 2 lalu menghampiri saya dan berkata, “Kok senyap-senyap saja, ya. Padahal, ini darurat. Biasanya, akan ada sesuatu yang mengejutkan kalau begini.” Lalu, voter lain dari klub Liga 1 berkata, “Laksana perang, ada yang dar-der-dor dan tampak, ada pula yang gerilya, dan juga perang dalam air yang tak tampak di permukaan.” Ternyata benar. Pada pagi harinya, dalam pembukaan kongres, Edy memutuskan untuk mundur. Sebagai gantinya, sesuai statuta PSSI, wakilnya, Joko Driyono, tampil sebagai Plt ketua umum. Ketika dalam pidatonya Edy menyatakan mundur, tepuk tangan terdengar begitu riuh, seolah para voter mendapatkan kemenangan mereka dalam perang yang senyap sebelum kongres.

Selesai pembukaan, Edy memutuskan untuk pulang dari lokasi acara. Kongres pun dilanjutkan. Di luar lokasi kongres, para suporter dari 14 elemen yang berbeda menuntut kongres luar biasa (KLB) dan muncul dorongan agar voter serius menanggapi kemelut sepak bola saat ini. Di dalam ruangan, para voter melempem.

Tak ada satu pun voter yang mengusulkan KLB. Semua sudah puas dengan situasi yang ada. Benar, ada yang berminat mengusulkannya. Tapi, setiap mengangkat tangan, sang voter tidak diberi kesempatan bicara. Fakta itu menunjukkan, memang tidak ada keinginan petinggi PSSI dan voter untuk melakukan perubahan besar dalam tubuhnya. Nyaman dengan situasi yang sekarang.

Memang banyak usulan dan tanggapan selama kongres berjalan. Namun, rata-rata dari klub Liga 1 dan semua sibuk mempertanyakan atau menanggapi regulasi kompetisi dan bla bla bla. Tampak nyata hanya memikirkan kepentingan sendiri. Bukan kepentingan sepak bola yang lebih bersih dan berwibawa. Bukan demi kepentingan membersihkan unsur yang terindikasi mafia di luar atau dalam tubuh PSSI. 

Editor : Ilham Safutra

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Kongres tanpa Keinginan untuk Berubah