Sulit Kendalikan Inflasi di Bawah 5 Persen

Oleh EKO LISTIYANTO*
20 September 2022, 10:52:31 WIB

TREN pergerakan inflasi diperkirakan lebih meningkat hingga akhir tahun. Peningkatan itu lebih tinggi jika dibandingkan dengan tren-tren tahun sebelumnya. Alasan pertama, tentu ada kenaikan harga BBM yang berdampak pada inflasi.

Yang kedua, walau sudah tidak mencapai peak-nya, harga pangan memang cukup tinggi.

Apalagi kalau dibandingkan dengan posisi tahun lalu. Faktor-faktor itu yang membuat inflasi hingga akhir tahun ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Baru-baru ini Presiden Jokowi menyentil lima kabupaten/kota dengan inflasi tinggi di atas 7 persen. Kondisi itu membuat pemerintah mendorong daerah-daerah agar bisa menekan inflasi hingga di bawah 5 persen. Namun, menurut saya, harapan inflasi di bawah 5 persen itu sulit terwujud tahun ini.

Memang ada kompensasi yang diberikan pemerintah, baik itu bansos maupun dana insentif bagi daerah yang bisa menanggulangi inflasi. Namun, dampak kenaikan harga BBM memang signifikan. Menurunkan kembali inflasi tidak bisa dilakukan seketika. Diperlukan waktu beberapa bulan. Efeknya baru netral biasanya sekitar tiga atau empat bulan dari sekarang. Jadi, sampai akhir tahun inflasi akan tinggi.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi sepanjang tahun berada di kisaran 5,2 persen. Dugaan saya, inflasi justru bisa lebih tinggi dari itu. Bisa tembus 6 persen. First row-nya bisa di September ini tembus 7 persen, lalu Oktober second row dengan masih adanya kenaikan harga pangan.

Berikutnya, ketika efek kenaikan harga BBM sudah melandai, pada saat yang bersamaan kita akan bertemu dengan libur Natal dan tahun baru (Nataru). Biasanya, inflasi akan terkerek lagi. Jadi, itulah gambarannya. Dengan demikian, kalau pemerintah menargetkan inflasi di bawah 5 persen, target itu akan sangat sulit tercapai.

Bagaimana dengan tahun depan? Ini akan agak berbeda. Melihat situasi global 2023, mungkin ada negara-negara yang mengalami resesi. World Bank pun sudah memperkirakannya. Kalau ada resesi di eksternal, ada pengaruhnya ke Indonesia.

Inflasi pada 2023 akan lebih rendah. Memang, hingga Desember 2022 inflasi tinggi. Namun, bila pada 2023 ekonomi global lebih suram, pasti permintaan akan turun. Bukan inflasi yang akan terjadi, melainkan deflasi. Meski, saya menduga tidak sampai deflasi. Tetap inflasi, tetapi tidak setinggi 2022.

Kondisi inflasi tinggi yang terjadi saat ini membuat pemerintah dan regulator terus bekerja keras menurunkan inflasi, terutama melalui tim pengendalian inflasi daerah (TPID). Dilihat secara kelembagaan, TPID cukup strategis. Anggotanya lintas kementerian dan lembaga. Dalam konteks kelembagaan, organisasi itu powerful dalam mengendalikan harga.

Namun, problem di daerah kadang lebih banyak terjadi karena supply and demand tidak imbang. Ada daerah-daerah tertentu yang defisit pada produk-produk tertentu. Meski ada TPID yang secara kelembagaan bagus dan berjalan, ujung dari problem di daerah sebetulnya terkait dengan kecukupan produk terkait. Problem itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan koordinasi melalui TPID.

Problem seperti itu biasanya hanya bisa diselesaikan dengan mendatangkan pedagang atau produsen yang bisa menyuplai secara cukup. Sementara, sejauh ini mekanisme TPID hanya diterapkan pada hal-hal yang bisa dikendalikan pemerintah sehingga peran pedagang atau pelaku usaha minim. Saat ini tantangan TPID ada di situ.


*) EKO LISTIYANTO, Wakil direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef)

**) Disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Dinda Juwita

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c14/fal

Saksikan video menarik berikut ini: